Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA| SUARAGLOBAL.COM – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur dari Fraksi PKS, Khusnul Khuluk, memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah yang melibatkan Danantara bersama sejumlah perusahaan BUMN dalam menyerap gula hasil panen petani tebu. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan solusi tepat di tengah permasalahan klasik menumpuknya stok gula yang kerap tidak terserap pasar.

Khusnul menilai, keberpihakan pemerintah menjadi angin segar bagi petani tebu yang kini menghadapi tekanan berat. Selain tingginya biaya produksi, para petani juga dibayangi beban utang yang menjerat. Kondisi ini, apabila dibiarkan, dikhawatirkan berdampak serius pada menurunnya produktivitas tebu di Jawa Timur pada musim panen berikutnya.

Baca Juga:  Solidaritas Tanpa Batas: Ratusan Pesilat Kota Pasuruan Bersatu dalam Aksi Bersih-Bersih Kota

“Saya menyambut baik keterlibatan Danantara dan BUMN dalam menyerap gula petani. Namun yang tidak kalah penting adalah bagaimana hasil panen yang dibeli itu segera dibayarkan. Jangan sampai petani menunggu berminggu-minggu, apalagi berbulan-bulan,” tegas Khusnul dalam keterangannya di Surabaya, Senin (25/8/2025).

Baca Juga:  KPK Dorong Budaya Anti Korupsi:  “Biasakan yang Benar” di Kalangan Pelajar: Literasi Jadi Pondasi Integritas Bangsa

Menurutnya, percepatan pencairan dana dari hasil serapan gula sangat krusial. Uang hasil panen menjadi modal utama bagi petani untuk kembali mengolah lahan, membeli pupuk, serta menyiapkan kebutuhan tanam musim selanjutnya.

“Kalau uang hasil panen cepat cair, petani bisa langsung melanjutkan perawatan lahan. Itu yang akan membuat produksi tebu stabil dan kualitas gula tidak turun,” tambahnya.

Baca Juga:  Satlantas Polres Situbondo Gelar Aksi Sosial: Ratusan Paket Makanan Dibagikan ke Sopir dan Pekerja Jalanan

Lebih lanjut, DPRD Jatim berharap agar kebijakan pemerintah tidak berhenti pada aspek penyerapan produksi semata. Kepastian pembayaran yang tepat waktu menjadi kunci agar kesejahteraan petani benar-benar meningkat dan keberlanjutan industri gula tetap terjaga.

Dengan lebih dari separuh kebutuhan gula nasional disuplai dari Jawa Timur, keberhasilan program ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas pangan sekaligus memperkuat daya saing petani lokal. (*)