Kisah Legendaris Sate Kambing Pak Mahmud Blotongan yang Tak Pernah Padam, Bertahan Lewat Rasa
Laporan: Wahyu Widodo
SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Asap tipis mengepul di Jalan Fatmawati, Blotongan, Kota Salatiga, ketika hari mulai gelap. Aroma daging kambing muda yang bercumbu dengan bara arang menjadi aba-aba bahwa waktu makan malam telah tiba. Di garis asap itu, berdirilah Sate Kambing Pak Mahmud, sebuah lapak sederhana yang sejak tahun 1990-an menjaga resep turun-temurun keluarga.
Tak sekadar warung tenda, tempat ini adalah penjaga rasa dan kenangan. Dirintis sejak sekitar tahun 1995 oleh sang ayah, usaha ini kini dilanjutkan oleh Faisal, generasi berikutnya yang memegang kendali dapur.
“Mulainya dari dulu, dari bapak. Sekitar tahun 1995,” tutur Faisal, Rabu (21/1/2026) malam.
Dari Dua Ekor Kambing ke Belasan Porsi Legendaris
Setiap pagi, dapur keluarga sudah berdenyut sejak subuh. Daging kambing muda diolah secara disiplin dipotong, diracik, ditusuk, lalu menunggu giliran disapa api.
“Rata-rata dua ekor kambing muda habis,” jelas Faisal.
Dari dua ekor kambing itu, terkumpul karkas antara 8 hingga 12 kilogram per ekor. Semua bagian dimanfaatkan menjadi menu andalan: sate, tongseng, tengkleng, hingga gulai.
Harga di warung ini tetap bersahaja meski bahan baku kerap naik turun. Semua menu dibanderol di bawah Rp50 ribu. Sate kambing dijual Rp45.000 per porsi, sate daging Rp50.000. Menu berkuah seperti tongseng dan tengkleng dipatok sekitar Rp35.000, sementara gulai menjadi yang paling ekonomis dengan harga Rp30.000.
Bintang Utama Bernama Tongseng
Di antara semua pilihan, satu menu membawa mahkota.
“Best seller rata-rata tongseng,” ujar Faisal sambil tersenyum.
Kuah gurih pekat, daging muda empuk, dan rempah yang meresap membuatnya jadi primadona para pelanggan. Namun sate tetap menjadi penjaga identitas, menu wajib yang tak pernah absen dari pesanan para penikmat kambing.

Operasional Fleksibel, Rasa Konsisten
Warung mulai buka pukul 18.00 WIB. Puncak kunjungan terjadi menjelang malam, saat pelanggan berdatangan dari berbagai penjuru Salatiga. Saat bulan Ramadan, jam operasional dimajukan menyesuaikan waktu berbuka.
Tak hanya di lapak utama, pelayanan juga merembet ke rumah keluarga yang tak jauh dari lokasi warung.
“Kalau di rumah, jam 11 siang sudah buka. Menunya sama,” ujar Faisal.
Rumah tersebut berada di RT 02 RW 06, Prampelan, Sidorejo, Blotongan, Kota Salatiga, dan menjadi rujukan pelanggan yang ingin mencicipi lebih awal tanpa menunggu malam.
Tak Mengejar Tren, Hanya Menjaga Rasa
Di tengah gemerlap tren kuliner modern, plating cantik, dan tata ruang instagramable, Sate Kambing Pak Mahmud memilih tetap sederhana. Di sini, yang bekerja bukan konsep, melainkan bara arang, kipas bambu, dan tangan terlatih.
Resep dari bapak ke anak dijaga layaknya janji yang tidak tertulis: rasa tak boleh berubah.
Testimoni Pelanggan: Empuk, Gurih, dan Melegenda
Tak sedikit pelanggan setia yang menyebut warung ini sebagai ikon rasa di Blotongan. Salah satunya, KH M Rifa Jamaludin Nasir, yang mengaku merasakan perbedaan jelas dibanding sate lain.
“Rasanya enak banget. Selain itu harganya juga murah dan Sate Kambing Muda Pak Mahmud legendaris banget,” ujarnya sambil menikmati sate hangat.
Dan benar saja, dari satu tusuk ke tusuk berikutnya, dari satu generasi ke generasi selanjutnya, asap itu terus mengepul membawa cerita, aroma, dan kenangan dari Blotongan ke lidah para penikmatnya. (*)



Tinggalkan Balasan