214 Calon Jemaah Haji Salatiga Ikuti Manasik, Usung Tema Ramah Lansia dan Disabilitas
Laporan: Wahyu Widodo
SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Suasana Aula SMA Saintek Ahmad Dahlan Tingkir, Sabtu pagi (14/2/2026), tampak berbeda. Ratusan wajah penuh harap berkumpul, mengenakan pakaian rapi, sebagian sudah membayangkan langkah mereka di Tanah Suci. Sebanyak 214 calon jemaah haji Kota Salatiga mengikuti Bimbingan Praktik Manasik Haji Tingkat Kota Salatiga Tahun 1447 H/2026 M.
Kegiatan manasik haji terintegrasi tingkat Kabupaten/Kota dan Kecamatan ini mengusung tema “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan”. Sebuah pesan kuat bahwa pelayanan dan pembinaan ibadah haji harus inklusif tanpa meninggalkan siapa pun.
Acara dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kemenhaj Kota Salatiga, Fuadah Maria Ulfa. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh calon jemaah haji Tahun 2026 yang telah mendapatkan kesempatan menunaikan rukun Islam kelima.
Menurutnya, manasik bukan sekadar latihan teknis mengenakan ihram atau berjalan mengelilingi miniatur Ka’bah.
“Manasik haji menjadi ruang untuk menyiapkan pemahaman ibadah, kesiapan mental, kedisiplinan, dan kebersamaan agar jemaah dapat menjalankan haji dengan tenang dan tertib,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya konsep istithaah sebagai fondasi utama sebelum berangkat ke Tanah Suci. Kesiapan finansial, kesehatan, dan pemahaman syariat harus benar-benar matang, mengingat ibadah haji adalah ibadah sakral dengan masa tunggu yang panjang.
“Ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan pemahaman ibadah yang dibangun sejak dini, karena haji adalah ibadah yang sakral dan memiliki waktu tunggu yang panjang,” tegasnya.
Usai pembukaan, materi motivasi dan teknis disampaikan oleh Muhammad Soleh Mubin. Ia memaparkan alur penerimaan jemaah haji Gelombang I di Madinah, tata cara pemakaian ihram, hingga pelaksanaan miqat di Bir Ali titik awal niat yang menandai dimulainya rangkaian ibadah haji.
Penjelasan disampaikan detail, mulai dari kesiapan dokumen, tata tertib kloter, hingga disiplin waktu yang menjadi kunci kelancaran perjalanan.
Praktik manasik kemudian dipandu tiga fasilitator: Sirojudin, M. Yusuf Khumaini, serta Mustahal. Dengan penuh kesabaran, mereka membimbing simulasi tahapan Armuzna Arafah, Muzdalifah, dan Mina hingga praktik tawaf dan sa’i.
Langkah demi langkah diperagakan. Bacaan dilafalkan bersama. Gerakan diperbaiki jika kurang tepat.
Di sela-sela simulasi, pemandangan haru pun terlihat. Jemaah muda sigap membantu lansia berjalan. Sebagian membimbing peserta disabilitas memahami gerakan. Tema “Haji Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan” bukan sekadar slogan tetapi benar-benar terasa dalam praktik.
Dengan jumlah peserta mencapai 214 orang, manasik ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus ruang solidaritas. Kebersamaan diuji sekaligus diperkuat.
Tidak hanya kesiapan fisik dan pemahaman ibadah yang diasah, tetapi juga empati dan kepedulian antarjemaah.
Harapannya, seluruh calon jemaah haji Kota Salatiga Tahun 1447 H/2026 M tak hanya siap secara spiritual dan administratif, tetapi juga memiliki ikatan kebersamaan yang kokoh sebelum benar-benar menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Sebab pada akhirnya, perjalanan haji bukan hanya tentang tiba di Baitullah. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan batin tentang bagaimana setiap langkah dijalani dengan tertib, aman, penuh kesabaran, dan keberkahan. (*)



Tinggalkan Balasan