Cap Go Meh Salatiga Penuh Kebersamaan, Wawali Nina Ajak Warga Jaga Kota Tertoleran

Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terasa kental dalam perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili yang digelar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Salatiga, Sabtu (07/03/2026).

Acara yang berlangsung di Ruang Kaloka Lantai 4 Gedung Setda Kota Salatiga itu menjadi panggung pertemuan lintas budaya dan lintas agama, mempertegas reputasi Salatiga sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.

Perayaan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin, jajaran Forkopimda, para pejabat Pemerintah Kota Salatiga, tokoh masyarakat, serta berbagai tamu undangan dari beragam latar belakang.

Dalam sambutannya, Wawali Nina Agustin menegaskan bahwa perayaan Cap Go Meh bukan sekadar tradisi budaya masyarakat Tionghoa. Lebih dari itu, momentum ini menjadi sarana memperkuat nilai kebersamaan dan toleransi di tengah kehidupan masyarakat yang beragam.

Menurutnya, perayaan tersebut sarat makna yang relevan bagi kehidupan sosial masyarakat saat ini.

“Momentum ini mengajarkan nilai optimisme, persaudaraan, dan keharmonisan sosial. Nilai-nilai tersebut sangat penting untuk memperkuat kehidupan masyarakat yang rukun, saling menghormati, serta menjaga keberagaman yang menjadi kekuatan Kota Salatiga,” ujar Nina di hadapan para tamu.

Baca Juga:  Buka Konferensi Forum Rektor Indonesia (FRI) 2018, Presiden Joko Widodo Tampil Beda

Ia juga berharap semangat yang lahir dari perayaan Cap Go Meh dapat terus dipelihara oleh seluruh elemen masyarakat agar kerukunan di Salatiga tetap terjaga.

Sementara itu, Ketua PSMTI Kota Salatiga, Raharjo Pratikno, menjelaskan bahwa perayaan Cap Go Meh tahun ini mengusung tema “Merawat Harmoni, Meneguhkan Kebangsaan.”

Tema tersebut, kata Raharjo, bukan sekadar slogan, tetapi menjadi ajakan bagi seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan.

Ia juga menyinggung makna Tahun Kuda Api dalam kalender Kongzili yang dipercaya melambangkan energi besar dan semangat yang tidak pernah padam.

“Tahun ini merupakan Tahun Kuda Api yang melambangkan energi yang meluap serta semangat yang tidak pernah padam. Mari kita jadikan energi tersebut sebagai kekuatan untuk terus bergerak maju bersama, menjaga keharmonisan, serta mempertahankan Salatiga sebagai Kota Tertoleran di Indonesia,” ungkapnya.

Baca Juga:  Satreskrim Polres Blora Tangkap Komplotan Pelaku Curanmor Dengan BB 10 Motor

Ketua Panitia Perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili, Okky Dwiyanto, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan puncak rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Salatiga.

Menurutnya, perayaan tahun ini terasa semakin istimewa karena berlangsung bersamaan dengan momentum **Ramadan 1447 Hijriah serta perayaan Paskah.

“Momentum ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya Tionghoa, tetapi juga menjadi wujud nyata toleransi, kebersamaan, serta kerukunan antarumat beragama di Kota Salatiga,” jelas Okky.

Selain perayaan budaya, kegiatan Cap Go Meh juga diisi dengan aksi sosial. Dalam kesempatan tersebut, panitia menyerahkan bantuan bakti sosial kepada anak-anak panti asuhan berupa paket sembako, alat tulis, serta angpao.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang diikuti para tamu undangan, menciptakan suasana keakraban lintas komunitas.

Tak hanya itu, panitia juga menyiapkan berbagai doorprize yang semakin menambah semarak perayaan malam itu.

Baca Juga:  Menapak Jejak Perjuangan, Polres Nganjuk Peringati Hari Juang Polri di Monumen Ngadiboyo

Perayaan Cap Go Meh di Salatiga semakin meriah dengan berbagai penampilan seni dan budaya yang memikat perhatian para tamu.

Beberapa di antaranya adalah pertunjukan Samsi atau Barongsai, Tarian Liong Fosfor oleh Long Shen, serta penampilan solo vokal oleh Ester Velova dan Fransisca Sherlyta Kusuma.

Acara juga diramaikan oleh penampilan vocal group Perwanti Salatiga dan LKSA, Tari Kurik Kundi oleh UIN Salatiga, serta Tari Bahalay oleh Perkasa.

Sementara itu, siswa SMP Kristen Satya Wacana menampilkan Tarian Mang Zhong (Grain in Ear) serta drama “Zhu Ba Kai dan Lima Bidadari” yang dikemas dalam pertunjukan bertajuk “Harmoni Festival Musim Semi (Chunjie Hexie)”.

Rangkaian penampilan tersebut menambah semarak suasana sekaligus menjadi simbol harmoni budaya yang hidup berdampingan di Kota Salatiga.

Perayaan Cap Go Meh tahun ini pun kembali menegaskan bahwa keberagaman bukanlah perbedaan yang memecah, melainkan kekuatan yang mempersatukan masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!