Laporan: Yuanta

JAKARTA | SUARAGLOBAL.COM – Keputusan besar tak selalu lahir di ruang rapat formal. Terkadang, justru dari obrolan santai bisa muncul gebrakan bersejarah. Hal ini diungkapkan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, saat menjelaskan awal mula lahirnya program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan atau Kredit Program Perumahan (KPP) senilai Rp130 triliun.

Menurut pria yang akrab disapa Ara, keputusan strategis itu diambil dalam sebuah pertemuan informal di Singapura yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto, Menteri BKPM Rosan Roeslani, serta Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

“Dalam situasi informal, dalam diskusi yang santai tapi bisa membuat keputusan yang bermakna. Dalam suasana yang rileks, di situlah KUR perumahan dibicarakan dan Bapak Presiden setuju,” jelas Ara di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Senin (8/9/2025).

Baca Juga:  Dua Tahun Bersembunyi, Buronan Pencurian Sapi di Sumenep Ditangkap Polisi di Kediri, Ini Jelasnya

Program Perdana Sepanjang Sejarah Republik

Ara menegaskan, program ini merupakan terobosan pertama dalam sejarah Republik Indonesia. Belum pernah ada skema KUR yang dikhususkan untuk sektor perumahan.

“Ini program pertama ya KUR perumahan. Sepanjang ada Republik Indonesia, baru kali ini ada KUR perumahan. Dan angkanya yang disiapkan negara sangat besar yaitu Rp130 triliun,” ujarnya.

UMKM Jadi Motor Utama Pertumbuhan

Skema KPP ini dirancang untuk menggerakkan ekosistem perumahan dari hulu hingga hilir. Tak hanya menyasar konsumen yang ingin memiliki rumah, tetapi juga memberi dorongan bagi kontraktor, developer, hingga toko bangunan.

Baca Juga:  Tragedi Berdarah di Way Kanan: Gerebek Judi Sabung Ayam, Tiga Polisi Tewas Ditembak

Ara menekankan, Kadin Indonesia serta pelaku UMKM akan dilibatkan penuh. Harapannya, program ini mampu menciptakan pemerataan ekonomi dan memicu pelaku usaha kecil agar naik kelas.

“Ini hal yang sangat mulia, supaya ada pemerataan. Pengusaha di daerah bisa naik kelas dari kecil menjadi sedang, dari sedang jadi besar. Dan itu sejalan dengan program KUR perumahan ini,” jelasnya.

Dari Tukang Ojek Jadi Pengusaha Properti

Dalam kesempatan itu, Ara juga membagikan kisah inspiratif dari para pelaku UMKM yang sukses di sektor perumahan. Ada yang dulunya hanya bekerja sebagai pengendara ojek atau office boy, kini mampu membangun ribuan rumah subsidi dalam setahun.

Baca Juga:  Gaspol Digital! TTL Gembleng SDM Lewat Pelatihan CTO, Siap Tancap Gas di Era Pelabuhan Modern

“Ya sekarang mereka bisa membangun ribuan rumah dalam setahun. Kalau satu rumah subsidi saja untungnya Rp20 juta, mereka bisa untung paling nggak Rp40 miliar sampai Rp50 miliar per tahun,” ungkap Ara.

Ladang Emas Baru Sektor Perumahan

Dengan alokasi Rp130 triliun, sektor perumahan diprediksi bakal menjadi ladang emas baru bagi UMKM dan pengusaha daerah. Pemerintah menargetkan, selain memperluas akses kepemilikan rumah rakyat, KUR Perumahan dapat menjadi mesin penggerak ekonomi dari bawah.

Program ini diyakini tidak hanya menambah jumlah rumah yang terjangkau bagi masyarakat, tetapi juga menciptakan rantai ekonomi baru yang menumbuhkan jutaan lapangan kerja serta melahirkan pengusaha-pengusaha daerah berskala nasional. (*)