Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Dalam upaya menekan angka stunting di wilayahnya, Kecamatan Simokerto menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagai forum kolaborasi lintas sektor. Kegiatan ini berlangsung pada Senin di pendopo Kantor Kecamatan Simokerto, Surabaya, dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, (10/02/25).

FGD ini merupakan bagian dari program Bina Keluarga Balita (BKB) yang bertujuan untuk menyatukan persepsi, memperkuat koordinasi, serta menghasilkan data publikasi yang akurat guna mendukung kebijakan pencegahan stunting. Selain itu, forum ini juga menjadi wadah diskusi terkait tantangan yang dihadapi para kader dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada keluarga.

Baca Juga:  Gagalkan Aksi Curanmor di Pasar Tambelangan, Polres Sampang Buktikan Kesigapan!

Kolaborasi Berbagai Pihak dalam Pencegahan Stunting

Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen penting, antara lain:

TP PKK Kota Surabaya, Kasi Kesra Kecamatan dan staf, Ketua TP PKK Kecamatan Simokerto, Ketua TP PKK Kelurahan se-Kecamatan Simokerto, Ketua Pokja 2 PKK Kelurahan, Perwakilan Kader KB, Perwakilan Kader SOTH

Sebagai narasumber, hadir Dra. Cici Indah Yani, M.Si dan Winiati Utami, S.Sos, yang menyampaikan materi tentang strategi pencegahan stunting, peran kader dalam penanganan gizi balita, serta optimalisasi program Bina Keluarga Balita (BKB) di tingkat kelurahan dan kecamatan.

Baca Juga:  Sinergi Keselamatan di Mojokerto: Pos Jaga dan Palang Pintu JPL 38 Dioperasikan demi Keselamatan Warga

Dalam diskusi ini, peserta membahas pentingnya sinergi antara kader, tenaga kesehatan, serta pemerintah daerah dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pola asuh yang benar dan pemenuhan gizi balita.

Sinergi Multi-Sektor untuk Menurunkan Stunting

Program-program yang telah dicanangkan oleh pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat diimplementasikan secara lebih efektif melalui kerja sama antara puskesmas, kader KB, serta pihak kelurahan dan kecamatan.

Baca Juga:  Peringati Hari Disabilitas Internasional, Pemerintah Akan Berikan Layanan Khusus Bagi Penyandang Disabilitas

Namun, terdapat beberapa tantangan yang masih dihadapi, seperti:

Terbatasnya pembiayaan bagi kader di lapangan

Beban administrasi yang cukup tinggi bagi kader

Kurangnya keterlibatan sektor swasta dalam mendukung program ini

Untuk mengatasi hal tersebut, para peserta berharap ada dukungan lebih besar dari sektor swasta dan institusi pendidikan guna memperkuat program-program pencegahan stunting.

Baca Juga:  Harmoni Nusantara! Tapak Damai Para Bhikkhu Tiba di Salatiga, Pesan Toleransi Menggema

Evaluasi dan Keberlanjutan Program

Hasil dari FGD ini akan digunakan sebagai bahan evaluasi dalam menyusun rekomendasi kebijakan serta mengembangkan model best practice Kampung KB guna mempercepat penurunan angka stunting di Kecamatan Simokerto.

Camat Simokerto, Noervita Amin, S.H., M.Si, menegaskan bahwa kegiatan FGD akan terus diadakan secara berkala sebagai bentuk penguatan koordinasi antar-lembaga serta memastikan keberlanjutan program pemerintah.

Baca Juga:  Dari Papua Hingga Jawa Tengah: Kapolda Jateng Resmi Lantik 1.079 Bintara Polri: Siap Mengabdi pada Negeri

\”Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah, kader, dan masyarakat, kami optimis angka stunting di Kecamatan Simokerto dapat terus menurun,\” ujarnya.

Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Kecamatan Simokerto bertekad menjadi salah satu wilayah yang mampu mencapai target zero stunting sesuai dengan program prioritas nasional dalam meningkatkan kesejahteraan anak-anak Indonesia. (*)