Gayeng dan Mengena! Ludruk Meimura Sulap Tawa Jadi Pesan Lingkungan
Laporan: Ninis Indrawati
SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Suasana hangat, penuh tawa, dan sarat makna menyelimuti Balai RW VIII Gunung Anyar Emas, Surabaya, Sabtu (4/4/2026) malam. Pertunjukan Ludruk Garingan bertajuk “Besut Jajah Deso Milangkori” kembali membuktikan bahwa kesenian tradisional tak pernah kehilangan pesonanya—terutama saat dikemas dengan sentuhan improvisasi segar dan pesan edukatif yang kuat.
Adalah sosok Meimura, atau Meijono, yang menjadi motor utama pertunjukan ini. Dengan gaya khasnya, ia sukses menghidupkan tokoh Besut secara jenaka namun penuh makna. Sejak awal pementasan, suasana “gayeng” langsung terasa. Tawa penonton pecah berkali-kali saat dialog berkembang secara spontan, tidak kaku, dan penuh kejutan.
Tak hanya bermain di jalur cerita, Meimura piawai membangun interaksi dengan sesama pemain hingga penonton. Bahkan, momen tak terduga terjadi saat ia mengajak Restu Gunawan, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI, naik ke atas panggung. Spontanitas ini langsung memancing gelak tawa sekaligus menciptakan kedekatan emosional antara panggung dan penonton.
Kolaborasi lintas seniman juga memperkuat daya tarik pertunjukan. Hengky Kusuma sebagai Sumo Gambar tampil penuh emosi, menyuarakan kritik tajam soal perilaku masyarakat yang masih gemar membuang sampah sembarangan. Sementara Puryadi yang memerankan Jamino hadir sebagai penyeimbang dengan pendekatan bijak dan penuh pesan moral.
Isu lingkungan menjadi benang merah cerita. Tokoh Besut digambarkan sebagai nelayan yang resah dengan kondisi laut yang tercemar. Jala yang ia tebar tak hanya menghasilkan ikan, tetapi juga sampah plastik, ban bekas, hingga popok bayi—potret nyata persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir, khususnya di kawasan Gunung Anyar.
Konflik antar tokoh justru menjadi ruang refleksi yang kuat. Penonton tak sekadar terhibur, tetapi juga diajak berpikir dan merenung tentang pentingnya menjaga lingkungan. Pesan yang disampaikan terasa ringan, namun mengena.
Ketua RW VIII Gunung Anyar Emas, Her Win Nugroho BS, mengapresiasi kehadiran Ludruk Garingan. Ia menyebut pertunjukan ini mampu menghidupkan suasana kampung sekaligus memberikan nilai positif bagi warga.
Hal senada disampaikan Restu Gunawan. Menurutnya, ludruk sebagai seni tradisional memiliki kekuatan besar dalam menyampaikan pesan sosial.
“Melalui pendekatan yang santai dan penuh humor, pesan penting justru lebih mudah diterima masyarakat,” ujarnya.
Mengusung konsep dialog improvisasi yang dinamis dan muatan edukasi yang relevan, Ludruk Besutan Meimura kembali menegaskan eksistensinya sebagai hiburan rakyat yang adaptif di tengah perkembangan zaman.
Rangkaian tur 10 kota yang tengah dijalankan pun diharapkan mampu memperluas gaung pesan budaya dan lingkungan. Lebih dari sekadar tontonan, ludruk kini menjelma menjadi tuntunan menghibur sekaligus menyadarkan. (*)





Tinggalkan Balasan