Nguri-uri Budaya! Ratusan Warga Padati Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk

Laporan: Budi Santoso

NGAWI | SUARAGLOBAL.COM – Malam penuh pesona dan nuansa budaya Jawa terasa begitu kental di Dusun Sampung, Desa Jagir, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sebuah pagelaran wayang kulit semalam suntuk sukses menyedot perhatian ratusan warga dalam rangka tasyakuran khitanan anak pertama Agus Almaruf, putra dari Wagi, Minggu (5/4/2026).

Tak sekadar hajatan biasa, acara ini menjelma menjadi panggung budaya yang sarat makna. Sejak siang hingga dini hari, alunan gamelan dan kisah pewayangan menggema, menghadirkan suasana magis yang memikat setiap pasang mata yang hadir.

Pagelaran dimulai sejak siang hari dengan penampilan dalang Ki Warih Nugroho, kemudian dilanjutkan pada malam hari oleh dalang kondang Ki Agung Tondo Utomo dari Gondang, Sragen, Jawa Tengah. Keduanya sukses membawakan lakon “Batara Bayu”, yang sarat nilai filosofi dan ajaran kehidupan.

Baca Juga:  Apel Gelar Pasukan Satgas Penanganan Karhutla Polres Salatiga

Ratusan undangan dari berbagai penjuru desa, mulai dari Desa Jagir, Tulakan hingga Ketanggung, tampak larut dalam euforia budaya. Kehadiran mereka tak hanya sebagai tamu, namun juga sebagai bagian dari tradisi arisan rutin antar-RT yang mempererat tali silaturahmi.

Dalam sambutannya, tokoh budaya yang juga mewakili tuan rumah, Pambagyo Harjo, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran para undangan. Ia menegaskan bahwa pagelaran ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk “dono roso” atau berbagi rasa kebahagiaan.

“Ini adalah bentuk syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus upaya nguri-uri kabudayan Jawi atau melestarikan budaya Jawa agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya penuh semangat.

Baca Juga:  Gunakan Sistem BETAH, Panda Jatim Nyatakan 39 Catar Berhak Ikut Seleksi di Tingkat Pusat

Ia juga mengapresiasi kekompakan warga Dusun Sampung, khususnya para pemuda yang bahu-membahu menyukseskan acara tersebut. Semangat gotong royong yang ditunjukkan menjadi bukti bahwa budaya lokal masih hidup dan dijaga dengan penuh kecintaan.

Suasana semakin hidup dengan iringan karawitan dari SMKI Surakarta serta dukungan para seniman senior dari Gondang, Sragen. Alunan gamelan yang harmonis berpadu dengan suara merdu para pesinden sukses menghipnotis penonton. Sorak sorai dan tepuk tangan pun pecah saat Ki Agung Tondo Utomo memainkan adegan-adegan penuh greget.

Baca Juga:  AKBP Muhammad Yoga Buanadipta Ilafi Resmi Menjabat Kapolres Boyolali, Gantikan AKBP Petrus Parningotan Silalahi

Sementara itu, dua warga yang hadir, Mbah Tomo dari Garit dan Sutarno dari Tegari, mengaku sangat terhibur dengan pagelaran tersebut saat diwawancarai suaraglobal.com. Menurut mereka, pertunjukan wayang kulit kini sudah jarang digelar dalam hajatan pribadi.

“Senang sekali, sekarang jarang ada yang nanggap wayang. Kalau ada pun biasanya dua tahun sekali saat bersih desa di kantor desa,” ungkap mereka.

Pagelaran ini menjadi bukti bahwa di tengah arus modernisasi, budaya tradisional seperti wayang kulit masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Lebih dari sekadar tontonan, wayang kulit tetap menjadi tuntunan warisan leluhur yang terus dijaga dan diwariskan lintas generasi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!