Sesepuh Dusun Merapisari Ig. Supoyo Darmono menyerahkan gunungan wayang kepada Dalang Ki Hadi Widodo dalam peringatan hari jadi ke 66 Dusun Merapisari, Desa Ngablak, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. (Foto: Dok. istimewa/Eko)

Mungkid, beritaglobal.net – Memasuki hari jadi ke 66 Dusun Merapisari, Desa Ngablak, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, warga setempat selenggarakan perayaan hari jadi dengan sangat sederhana.

Berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, dimana peringatan hari jadi dusun diperingati secara meriah dengan puncak perayaan adalah pagelaran Rigit Cucal (Wayang Kulit-red).

Baca Juga:  Gelar Silaturahmi dan Bukber, Ketum KOMDAM Sumut: Jangan Kita Terpecah Karna Pemilu

Disampaikan oleh Ketua Panitia Acara St. Suyanto kepada beritaglobal.net, Kamis (16/04/2020).

“Biasanya diisi dengan bermacam acara kesenian seperti topeng ireng yang dimainkan oleh ibu – ibu disini, dangdut, reokan, senam dan lain –  lain,” ucap Suyanto.

“Sesuai dengan himbauan pemerintah selama pandemi Covid-19, kita tidak boleh mendatangkan massa, jadi semua rencana yang telah jadi pudar. Oleh karena itu, pagelaran wayang tetap kita gelar, meski hanya secara simbolis, dan berjalan sesuai protokol,” imbuhnya.

Baca Juga:  Polres Salatiga Apresiasi Kebun Kopi Bintang Dalam Sukseskan Pemilu 2024 Dengan Bagikan Kupon Tebus Murah

Gelaran wayang kulit dengan dalang Ki Hadi Widodo dari Pakis, hanya diiringi dengan kenduri tumpeng, yang dibawa oleh perwakilan sesepuh Dusun Merapisari Ig. Supoyo Darmono.

“Gunungan wayang tadi secara simbolis diserahkan oleh bapak Ig. Supoyo Darmono kepada dalang, dan kenduri tumpengan sebagai pengiring gelaran wayang. Namun, wayang tetap ditanjak oleh Dalang, sebagai wujud peringatan hari jadi Dusun Merapisari,” jelas Suyanto.

Baca Juga:  Polres Salatiga Hadirkan Badut Zebra, Sebagai Wujud Kepedulian Untuk Meningkatkan Ketertiban dan Kedisiplinan Berlalu Lintas

Keyakinan warga Dusun Merapisari dengan masih menggelar acara ‘Nanggap’ Rigit Cucal, ini tidak lain adalah masih teguhnya budaya dan kearifan lokal yang harus tetap dilakukan untuk wujud rasa syukur dan berharap terhindar dari semua mara bahaya, wabah penyakit dan hal – hal yang negatif lainnya. (Eko Triyono)