Sadranan di Salatiga: Perpaduan Kearifan Lokal dan Keagamaan yang Tetap Lestari

Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Ribuan warga Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, tumpah ruah di Makam Shuufi untuk mengikuti tradisi Sadranan, sebuah ritual tahunan yang tetap lestari di tengah zaman. Acara ini bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga simbol pelestarian budaya, kebersamaan, dan gotong-royong yang mengakar kuat di masyarakat menjelang bulan suci Ramadan.

Menghormati Leluhur dengan Doa dan Syukur

Sadranan merupakan tradisi yang digelar setiap bulan Sya’ban dalam kalender hijriah, di mana warga berziarah dan mendoakan leluhur yang telah berpulang. Mereka datang dari berbagai penjuru dengan membawa sesajen dan tumpeng sebagai bentuk penghormatan.

Baca Juga:  Polres Pelabuhan Tanjung Perak Kawal Ketat Haul Akbar 2025 di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fitroh, Ribuan Jamaah Tumpah Ruah

Ketua RW 4 Tegalrejo, Mugi Harjono, menegaskan bahwa tradisi ini melibatkan seluruh warga dari RT 1 hingga RT 11, yang bergotong-royong menyiapkan acara.

“Sadranan bukan hanya tentang menghormati leluhur, tetapi juga menjadi momen mempererat kerukunan antarwarga. Ini adalah warisan budaya yang harus dijaga,” ujar Mugi, Jumat (14/2/2025).

Baca Juga:  Taruna Poltekip Angkatan 55 Lakukan Magang di Nusakambangan

Arak-arakan 1.000 Tumpeng, Simbol Syukur dan Kebersamaan

Salah satu bagian paling ditunggu dalam perayaan Sadranan di Tegalrejo adalah arak-arakan 1.000 tumpeng. Tumpeng-tumpeng yang telah disiapkan warga diarak menuju Makam Shuufi sebelum didoakan dan dibagikan kepada masyarakat.

Prosesi ini bukan hanya mencerminkan rasa syukur kepada Tuhan, tetapi juga mempererat ikatan sosial antarwarga.

Baca Juga:  Kemenhaj Kawal Kepulangan Jemaah Umrah yang Alami Penjadwalan Ulang Penerbangan di Arab Saudi

“Kami ingin menunjukkan bahwa kebersamaan dan gotong-royong masih menjadi bagian dari kehidupan kami. Arak-arakan 1.000 tumpeng ini adalah simbol dari rasa syukur dan persatuan,” tambah Mugi.

Dari Sederhana ke Sakral: Sadranan yang Berkembang

Dalam empat tahun terakhir, Sadranan di Tegalrejo mengalami perkembangan signifikan. Jika dahulu hanya sekadar doa dan kenduri kecil, kini tradisi ini semakin sakral dengan tambahan unsur budaya Jawa yang lebih kuat, seperti iringan gamelan, pembacaan macapat, dan kirab budaya.

Baca Juga:  Ribuan Orang Turun Tangan Dalam Kegiatan Program Kali Bersih dan Save Rawa Pening 3, Demi Peningkatan Kualitas Air Sungai

Budiman, salah satu warga yang telah mengikuti Sadranan sejak kecil, mengungkapkan kebanggaannya terhadap perkembangan tradisi ini.

“Dulu, Sadranan hanya berupa doa dan makan bersama. Sekarang, suasananya lebih khusyuk dan meriah. Semua warga ikut serta, dari anak-anak hingga lansia, sehingga terasa lebih hidup,” katanya.

Baca Juga:  Kapolda Jatim Anugerahkan Satyalancana kepada 2.684 Personel: Tekankan Jogo Jatim dan Pelayanan Polri yang Lebih Humanis

Lebih dari Ritual: Momentum Sosial dan Budaya

Lurah Tegalrejo, Ponco Margono Hasan, menegaskan bahwa Sadranan bukan hanya acara keagamaan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dan pembelajaran bagi generasi muda.

“Tradisi ini mengajarkan birrul walidain, atau berbakti kepada orang tua dan leluhur, sekaligus mempererat hubungan sosial. Kami berharap Sadranan terus diwariskan agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.

Baca Juga:  Kecamatan Simokerto Lantik Pengawas TPS, Siap Wujudkan Pemilu Transparan dan Bebas Kecurangan

Tradisi yang Menyatukan, Warisan untuk Masa Depan

Melibatkan semua lapisan masyarakat, Sadranan di Makam Shuufi menjadi bukti bahwa tradisi lokal dapat menjadi perekat sosial. Acara ini tidak hanya meneguhkan nilai-nilai spiritual dan budaya, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga gotong-royong dan kebersamaan di Tegalrejo, Kota Salatiga. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!