Sejarah Musik Indonesia Bergetar: “Ratap Si Parto” Harta Karun Lagu Karya W.R. Soepratman Muncul Lagi Setelah Seabad Menghilang
SEJARAH | SUARAGLOBAL.COM Kabar mengejutkan sekaligus menggembirakan datang dari dunia musik Indonesia. Di tengah semarak peringatan Hari Musik Nasional, sebuah temuan bersejarah mengemuka: sebuah lagu lama karya komponis kebangsaan Wage Rudolf Soepratman kembali muncul setelah lebih dari satu abad menghilang dari catatan sejarah.
Lagu yang lama terkubur itu berjudul “Ratap Si Parto.”
Seolah membuka peti harta karun yang tersimpan lama di lorong waktu, karya tersebut akhirnya ditemukan kembali melalui penelusuran arsip di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Penemuan berharga ini bermula dari penelitian arsip yang dilakukan pustakawan Khusnul Khatimah. Saat menelusuri dokumen musik lama di koleksi perpustakaan, ia menemukan partitur lagu yang selama puluhan tahun tidak diketahui keberadaannya.
Temuan tersebut segera menarik perhatian para peneliti musik, sejarawan budaya, hingga pecinta karya-karya Soepratman. Pasalnya, selama ini publik lebih mengenal Soepratman sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, sementara karya-karya lain dari masa awal kariernya masih banyak yang belum terungkap.
“Ratap Si Parto” diyakini diciptakan pada era 1920-an, masa ketika pertunjukan toneel atau sandiwara panggung sedang populer di Hindia Belanda. Lagu tersebut kemungkinan dibuat untuk mengiringi drama panggung yang saat itu digemari masyarakat.
Berbeda dari karya Soepratman yang bernuansa heroik, “Ratap Si Parto” justru menampilkan sisi emosional yang lembut dan menyayat hati.
Lagu ini berkisah tentang seorang bocah bernama Parto yang meratap karena merindukan ibunya yang telah meninggal dunia. Dalam liriknya tergambar kesedihan seorang anak kecil yang masih menyimpan harapan polos untuk bertemu kembali dengan sang ibu.
Namun harapan itu perlahan memudar, meninggalkan perasaan hampa dan penerimaan akan kenyataan pahit kehidupan.
Nada-nada dalam lagu ini menggambarkan kesedihan yang dalam sebuah emosi yang jarang terlihat dalam karya Soepratman yang dikenal publik.
Para peneliti juga menemukan kemungkinan pengaruh dari lagu populer dunia pada masa itu, yakni I’m Forever Blowing Bubbles (1919).
Lagu klasik tersebut terkenal dengan nuansa melankolis tentang mimpi dan harapan yang rapuh, diibaratkan seperti gelembung sabun yang indah namun mudah pecah.
Sentuhan emosi yang serupa terasa dalam “Ratap Si Parto”, memperlihatkan bahwa Soepratman tidak hanya menyerap semangat nasionalisme, tetapi juga mengikuti perkembangan musik dunia pada zamannya.
Penemuan ini terasa semakin menyentuh ketika dihubungkan dengan kisah hidup Soepratman sendiri.
Sang komponis diketahui kehilangan ibunya ketika masih berusia sembilan tahun. Kehilangan tersebut diyakini meninggalkan luka emosional yang mendalam dalam hidupnya.
Banyak peneliti menduga pengalaman pribadi itu kemudian menjelma menjadi nada-nada sendu dalam “Ratap Si Parto”, menjadikan lagu ini bukan sekadar karya musik, tetapi juga potret perasaan seorang anak yang pernah merasakan kehilangan yang sama.
Yang membuat kisah ini semakin istimewa adalah bagaimana lagu tersebut kembali hidup melalui generasi muda.
Adalah Antea Putri Turk, seorang soprano muda berusia 17 tahun sekaligus komponis berbakat, yang memperkenalkan kembali karya bersejarah ini.
Antea bukan sosok sembarangan. Ia merupakan cicit buyut dari Ngadini, kakak kandung Soepratman, sehingga memiliki hubungan darah langsung dengan keluarga sang komponis.
Dalam peringatan Hari Musik Nasional, Antea membawakan “Ratap Si Parto” secara a cappella, menghadirkan kembali keindahan melodi yang selama puluhan tahun hanya tersimpan di lembaran arsip.
Selain itu, ia juga membawakan lagu “Indonesia Tjantik”, salah satu karya awal Soepratman yang sebelumnya sempat viral di media sosial dengan jutaan penayangan.
Penemuan “Ratap Si Parto” menjadi pengingat bahwa sejarah musik Indonesia masih menyimpan banyak kisah yang belum terungkap.
Nada-nada yang pernah tercipta di masa lalu mungkin sempat hilang dari ingatan, tetapi tidak pernah benar-benar lenyap. Ia hanya menunggu waktu dan tangan-tangan yang peduli untuk menemukannya kembali.
Di momen peringatan Hari Musik Nasional, kisah ini terasa begitu bermakna. Dari masa lalu yang sunyi, sebuah melodi lama kembali bergema membawa pesan tentang kemanusiaan, cinta seorang anak kepada ibunya, serta harapan yang terus hidup dalam perjalanan bangsa. (Ninis Indrawati)



Tinggalkan Balasan