Tradisi Leluhur Tetap Lestari, Ritual Keleman Seloliman Trawas Jadi Harapan Panen Berlimpah
Laporan: Iswahyudi Artya
MOJOKERTO | SUARAGLOBAL.COM – Suasana khidmat menyelimuti area persawahan Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, saat warga menggelar Upacara Keleman, Minggu (12/04). Tradisi sakral warisan leluhur ini kembali dilaksanakan sebagai bentuk doa bersama demi harapan panen yang melimpah dan kehidupan petani yang lebih sejahtera.
Sejak pagi hari, masyarakat sudah berkumpul di hamparan sawah yang sebentar lagi akan memasuki masa tanam padi. Dengan penuh kekhusyukan, mereka memanjatkan doa, menyatu dalam nuansa spiritual yang kental akan nilai budaya dan religi.
Upacara Keleman bukan sekadar ritual biasa. Tradisi ini menjadi simbol kuatnya ikatan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Dalam prosesi tersebut, warga memadukan doa adat Jawa dengan doa-doa Islam yang dipimpin secara bersama-sama, menciptakan harmoni spiritual yang begitu terasa.
Tak hanya itu, berbagai sesaji turut disiapkan oleh warga sebagai bagian penting dalam ritual. Tumpeng, cok bakal, hingga aneka hasil bumi dibawa ke lokasi upacara. Semua itu menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang telah diterima sekaligus harapan untuk keberkahan di musim tanam mendatang.
Ketua panitia, Sukidi, mengungkapkan bahwa Upacara Keleman merupakan bentuk ikhtiar batin masyarakat dalam menghadapi musim tanam.
“Harapan kami sederhana, semoga panen tahun ini lebih baik, petani diberi kemudahan, dan hasilnya melimpah,” ujarnya penuh harap.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa serta unsur terkait yang turut hadir dalam prosesi. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata komitmen dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal yang sarat makna serta memperkuat semangat gotong royong.
Usai prosesi doa, sebagian sesaji diletakkan di area persawahan sebagai simbol penolak bala. Sementara sisanya dibawa pulang oleh warga, dipercaya sebagai berkah dari pelaksanaan tradisi tersebut.
Upacara Keleman di Desa Seloliman bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi cerminan kearifan lokal yang tetap hidup di tengah arus modernisasi. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa harapan, doa, dan kebersamaan adalah kunci utama dalam menggapai kesejahteraan, khususnya bagi para petani. (*)





Tinggalkan Balasan