Tragedi Dini Hari di Salatiga! Konstruksi Bangunan Roboh, Satu Nyawa Tak Terselamatkan
Laporan: Wahyu Widodo
SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Suasana dini hari yang seharusnya sunyi berubah menjadi mencekam di Kampung Butuh, Kelurahan Kutowinangun Lor, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, Senin (16/02/2026). Sebuah konstruksi bangunan rumah roboh saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Tragisnya, seorang kontraktor tewas tertimbun material bangunan.
Korban diketahui bernama Feri Ugi Waluyo, kontraktor asal Desa Karabaok, Lemah Jaya, Wanadadi, Kabupaten Banjarnegara. Ia tengah mengerjakan pembangunan rumah milik warga setempat berukuran kurang lebih 10 x 18 meter bersama dua orang pekerja.
Kapolsek Tingkir, Kompol Daryono, S.E., menjelaskan bahwa peristiwa bermula pada Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu korban dan dua saksi memutuskan beristirahat di ruang bawah bangunan berukuran sekitar 3 x 5 meter. Di luar, hujan turun dengan intensitas tinggi.
“Korban bersama dua saksi beristirahat di lokasi proyek. Kondisi saat itu hujan lebat,” jelas Kompol Daryono.
Sekitar pukul 02.30 WIB, salah satu saksi terbangun karena mendengar suara gemuruh seperti tanah runtuh. Dalam hitungan detik, tembok ruangan tempat mereka beristirahat tiba-tiba longsor dan roboh.
Dua pekerja berhasil menyelamatkan diri dengan cepat. Namun nahas, korban tidak sempat menghindar dan langsung tertimbun material tanah serta puing bangunan yang ambruk.
Dalam kondisi panik, kedua saksi berlari meminta bantuan Ketua RW dan warga sekitar. Warga pun berdatangan dan melakukan evakuasi dengan peralatan seadanya di tengah sisa hujan dan gelapnya malam.
Setelah berjibaku, korban akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi tertimbun. Ia segera dilarikan ke RSUD Salatiga untuk mendapatkan pertolongan medis.
Namun takdir berkata lain. Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), korban dinyatakan meninggal dunia oleh dokter jaga.
Dari hasil pemeriksaan medis, korban mengalami luka lecet pada wajah dan kepala, serta memar di bagian dada kanan. Polisi menduga korban meninggal akibat asfiksia atau kekurangan oksigen karena tertimbun material bangunan.
“Diduga korban meninggal akibat asfiksia karena tertimbun material bangunan,” terang Kompol Daryono.
Pihak kepolisian telah melakukan serangkaian langkah awal penanganan, mulai dari mendatangi lokasi kejadian, mengamankan tempat kejadian perkara (TKP), meminta keterangan para saksi, hingga berkoordinasi dengan pihak terkait.
Polisi juga akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan apakah terdapat unsur kelalaian dalam peristiwa tersebut.
Kapolsek Tingkir menegaskan pentingnya memperhatikan faktor keselamatan kerja, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem seperti hujan deras yang berpotensi memicu longsor atau keruntuhan konstruksi.
“Kami mengimbau masyarakat dan para pelaku jasa konstruksi agar selalu memperhatikan faktor keselamatan kerja, terlebih saat kondisi cuaca ekstrem. Keselamatan adalah prioritas utama dalam setiap kegiatan pembangunan,” tegasnya.
Peristiwa tragis ini menjadi pengingat keras bahwa mitigasi risiko dalam pekerjaan konstruksi bukan sekadar formalitas. Di tengah musim hujan dengan intensitas tinggi, kewaspadaan dan standar keamanan harus menjadi perhatian utama agar kejadian serupa tidak kembali terulang di Kota Salatiga. (*)



Tinggalkan Balasan