Konten Viral Belum Tentu Benar, Masyarakat Diingatkan Verifikasi Informasi

Laporan: Iswahyudi Artya

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Arus informasi di era digital semakin sulit dibendung. Namun di balik derasnya penyebaran konten media sosial, ancaman disinformasi dan hoaks juga semakin meningkat. Masyarakat pun diminta lebih kritis dan tidak mudah percaya terhadap setiap informasi yang beredar di ruang digital.

Kolumnis sekaligus Pengajar Psikologi Komunikasi dan New Era Media, M. Isa Ansori menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat secara drastis.

Kini, informasi tidak lagi hanya berasal dari media resmi, tetapi juga menyebar cepat melalui media sosial, platform video, hingga akun-akun personal dengan jutaan pengikut.

“Informasi sekarang bergerak lebih cepat dibanding proses verifikasi. Itu sebabnya hoaks dan disinformasi sangat mudah berkembang di ruang digital,” ujar Isa Ansori di Surabaya, Jumat (9/5/2026).

Menurutnya, algoritma media sosial menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat penyebaran informasi yang belum tentu benar. Platform digital cenderung memprioritaskan konten yang mampu menarik perhatian dan memancing interaksi pengguna.

Baca Juga:  Kapolres Nganjuk Tegaskan Siaga Penuh, Mako dan Obyek Vital Jadi Prioritas Pengamanan

Akibatnya, konten yang mengandung sensasi, emosi, kemarahan, hingga provokasi lebih mudah viral dibanding informasi yang faktual dan mendalam.

Isa Ansori menilai kondisi tersebut membuat masyarakat rentan terpengaruh narasi yang belum tentu memiliki dasar data yang jelas. Banyak pengguna media sosial dinilai langsung bereaksi terhadap sebuah informasi tanpa lebih dahulu memeriksa sumber maupun konteksnya.

Fenomena ini, lanjutnya, dapat memperburuk kualitas ruang publik digital. Sebab disinformasi tidak selalu hadir dalam bentuk kebohongan terang-terangan, melainkan juga melalui pemotongan konteks, penggiringan opini, hingga pengulangan narasi tertentu secara terus-menerus.

“Publik jangan mudah percaya hanya karena sebuah konten viral atau dibagikan banyak orang. Kebenaran harus diuji dengan data dan verifikasi,” tegasnya.

Baca Juga:  Kasus Penyalahgunaan BBM Subsidi Terungkap, Polres Gresik Amankan 17.000 Liter Solar di Gresik dan Satu Tersangka Ditangkap 

Ia juga menyoroti pentingnya keberadaan media profesional atau media mainstream sebagai benteng penjaga kualitas informasi publik. Menurutnya, media arus utama masih memiliki standar jurnalistik yang mengedepankan verifikasi, cek silang informasi, serta kode etik pemberitaan.

Meski demikian, Isa Ansori mengingatkan media mainstream juga harus mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat digital yang kini lebih menyukai informasi cepat dan mudah dipahami.

“Media harus tetap cepat, relevan, tetapi tidak boleh meninggalkan akurasi. Itu yang membedakan media profesional dengan konten yang hanya mengejar viralitas,” katanya.

Selain media, Isa Ansori juga menyinggung peran besar influencer dan content creator yang kini memiliki pengaruh luas terhadap pembentukan opini publik, terutama di kalangan generasi muda.

Menurutnya, para kreator konten harus memiliki tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi kepada publik dan tidak sekadar mengejar perhatian atau popularitas di media sosial.

Baca Juga:  Kapolda Jatim Kobarkan Semangat Kepahlawanan: “Polri Harus Hadir dengan Hati untuk Negeri”

“Influencer harus memahami bahwa setiap konten memiliki dampak sosial. Jangan sampai ikut memperkuat disinformasi hanya demi mengejar perhatian dan viralitas,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya ancaman hoaks dan manipulasi informasi, Isa Ansori menegaskan bahwa literasi digital menjadi salah satu langkah paling penting yang harus diperkuat masyarakat.

Ia mendorong publik membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membandingkan referensi dari berbagai media, memahami konteks berita, serta tidak terburu-buru menyebarkan konten yang belum terverifikasi.

Menurutnya, masyarakat yang kritis dan mampu memilah informasi dengan baik akan menjadi benteng utama dalam menjaga ruang publik digital tetap sehat, produktif, dan terhindar dari propaganda maupun manipulasi informasi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!