Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, denyut aktivitas penjualan hewan kurban di sejumlah titik Kota Salatiga mulai terlihat meningkat. Lapak-lapak kambing di pinggir jalan tampak ramai dipadati kendaraan calon pembeli yang datang silih berganti untuk mencari hewan kurban. Namun di balik keramaian tersebut, para pedagang justru mengeluhkan penurunan daya beli masyarakat yang dinilai cukup drastis dibanding tahun sebelumnya.

Kondisi itu dirasakan langsung oleh Suratman, pedagang kambing kurban yang membuka lapak di kawasan Jalan Veteran, tepatnya di depan SPBU Pasar Sapi Salatiga. Menurutnya, penjualan tahun ini terasa lebih berat meski musim kurban sudah mulai berjalan selama sepekan terakhir.

“Mulai hari Senin, sudah sekitar tujuh hari ini saya berjualan. Tapi kalau dibandingkan tahun lalu, agak kurang ramai,” ujar Suratman saat ditemui di lapaknya, Senin (25/5/2026).

Pedagang yang telah sekitar 15 tahun berkecimpung dalam bisnis jual beli kambing kurban itu memperkirakan penurunan transaksi mencapai 40 hingga 45 persen dibandingkan momentum Idul Adha tahun lalu. Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan pembelian hewan kurban tahun ini.

Baca Juga:  Tim Patroli Satsamapta Polres Boyolali Berhasil Sita Puluhan Botol Miras Ilegal di Operasi Kamtibmas

“Mungkin perkiraan saya karena perekonomian menurun, turun sekitar 40–45 persen dibanding tahun lalu,” katanya.

Meski pasar dinilai lesu, Suratman tetap optimistis membuka lapaknya dengan stok kambing yang cukup banyak. Tahun ini ia membawa sekitar 20 ekor kambing jenis Jawa Randu yang dipasarkan kepada masyarakat Salatiga dan sekitarnya.

Dari jumlah tersebut, hingga saat ini baru sekitar 11 ekor yang berhasil terjual. Menurutnya, angka tersebut masih jauh dari harapan apabila dibandingkan dengan penjualan pada periode yang sama tahun lalu.

“Yang di sini saya bawa 20 ekor, sudah laku sekitar 11 ekor,” jelasnya.

Untuk harga, kambing yang dijual dibanderol mulai Rp2,5 juta hingga Rp3,5 juta per ekor, tergantung ukuran, usia, dan kondisi fisik hewan. Mayoritas pembeli berasal dari wilayah Salatiga dan daerah sekitar yang sudah menjadi pelanggan tetap setiap musim kurban tiba.

“Pembeli rata-rata dari sekitar Salatiga saja,” ujarnya.

Dalam praktik penjualan, sebagian pembeli ternyata memilih melakukan pemesanan lebih awal. Sistem penitipan hewan hingga mendekati hari penyembelihan atau pola “H-1” menjadi salah satu strategi yang banyak diminati masyarakat karena dinilai lebih praktis.

Baca Juga:  Salatiga Mantapkan Langkah Digitalisasi Layanan Kesehatan: HLM Host to Host Puskesmas Jadi Tonggak Transformasi

“Bisa dititipkan dulu, ambilnya menjelang H-1, tidak ada biaya tambahan,” kata Suratman.

Di tengah persaingan dan kondisi pasar yang belum stabil, pedagang juga berusaha menjaga kualitas hewan kurban agar tetap sehat dan memenuhi syarat. Kambing rutin diberi pakan bergizi serta tambahan vitamin untuk menjaga kondisi tubuh selama masa penjualan.

Selain perawatan mandiri, sebagian hewan kurban juga telah menjalani pemeriksaan kesehatan dari dinas terkait guna memastikan layak jual dan aman untuk dikurbankan.

“Dikasih makan bergizi, dikasih vitamin juga. Dari dinas kesehatan juga ada pemeriksaan,” ujarnya.

Meski situasi penjualan belum sesuai harapan, Suratman mengaku tetap berusaha optimistis menghadapi sisa waktu menjelang Idul Adha. Ia berharap lonjakan pembelian masih bisa terjadi pada hari-hari terakhir mendekati perayaan kurban.

“Harapannya bisa terjual semua, tapi ya itu Tuhan yang menentukan. Kita hanya berusaha. Kalau tidak laku, ya dibawa pulang lagi,” tuturnya.

Bisnis penjualan kambing kurban sendiri bersifat musiman dan menjadi sumber pemasukan tambahan bagi sebagian pedagang ternak. Di luar momentum Idul Adha, Suratman tetap menjalankan aktivitas jual beli hewan jika ada permintaan dari pelanggan.

Baca Juga:  Komplotan Curanmor Jagalan Terungkap, Satu Pelaku Masuk DPO Sebelum Ditangkap

Sementara itu, salah satu pembeli bernama Yulianto mengaku sengaja datang lebih awal ke lapak penjualan hewan kurban untuk mendapatkan pilihan kambing yang lebih banyak sekaligus menghindari kenaikan harga menjelang hari raya.

Menurutnya, membeli lebih awal memberikan keuntungan tersendiri karena stok hewan masih lengkap dan calon pembeli memiliki waktu lebih untuk memilih hewan terbaik.

“Kalau beli lebih awal itu biasanya harga masih stabil dan pilihannya juga masih banyak. Jadi bisa lebih leluasa memilih,” ujarnya.

Selain mempertimbangkan harga, Yulianto juga mengaku lebih fokus pada kondisi kesehatan kambing sebelum memutuskan membeli. Ia ingin memastikan hewan yang dipilih benar-benar sehat dan layak dijadikan hewan kurban.

Fenomena lesunya pasar hewan kurban tahun ini menjadi gambaran bagaimana tekanan ekonomi masyarakat mulai berdampak pada sektor perdagangan musiman. Meski demikian, para pedagang tetap berharap momentum mendekati Idul Adha mampu mendongkrak penjualan dan menggerakkan kembali roda ekonomi pasar ternak di Salatiga. (*)