Laporan: Bayu S

GROBOGAN | SUARAGLOBAL.COM – Suasana berbeda tampak di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Purwodadi, Kamis (25/6/2026). Aroma kopi yang khas memenuhi ruangan saat sejumlah warga binaan pemasyarakatan (WBP) mengikuti pelatihan pembuatan kopi atau barista yang digelar bekerja sama dengan Satuan Pendidikan Non Formal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Grobogan.

Program pembinaan tersebut menjadi salah satu langkah nyata Lapas Purwodadi dalam membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.

Sebanyak 10 warga binaan mengikuti pelatihan yang dipandu langsung oleh instruktur dari SPNF SKB Kabupaten Grobogan. Dalam kegiatan itu, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung mengenai teknik dasar meracik dan menyeduh kopi.

Para peserta dikenalkan dengan berbagai jenis kopi yang populer di Indonesia, mulai dari kopi Arabica yang memiliki cita rasa lebih ringan dan aroma khas, hingga kopi Robusta yang terkenal dengan karakter rasa yang kuat dan kandungan kafein lebih tinggi.

Baca Juga:  Kapolres Sampang Pimpin Upacara Sertijab Kasat Lantas Polres Sampang

Instruktur menjelaskan bahwa dalam dunia perkopian, takaran menjadi faktor penting yang menentukan kualitas minuman yang dihasilkan. Salah satu teknik yang diajarkan adalah penggunaan perbandingan kopi dan air sebesar 1:10 untuk menghasilkan rasa yang seimbang dan optimal.

Selain takaran, peserta juga diberikan pemahaman mengenai suhu ideal saat proses penyeduhan. Menurut instruktur, suhu air yang tepat berada pada kisaran 85 hingga 90 derajat Celsius.

“Jika terlalu panas, rasa kopi bisa menjadi pahit. Sebaliknya jika terlalu rendah, aroma dan karakter kopi tidak keluar secara maksimal,” jelas instruktur saat memberikan materi kepada peserta.

Tak berhenti pada teori, para warga binaan kemudian diajak mempraktikkan langsung seluruh proses pembuatan kopi. Mereka mulai dari menakar bubuk kopi, mengatur suhu air, melakukan penyeduhan, hingga mencicipi hasil racikan yang dibuat sendiri.

Baca Juga:  Pemkab Bangkalan Panen PAD dari Lelang Aset dan Scrap

Antusiasme para peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka tampak serius mengikuti setiap arahan instruktur dan saling berdiskusi mengenai cita rasa kopi yang dihasilkan.

Bagi para warga binaan, pelatihan ini menjadi pengalaman baru yang tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membuka peluang usaha di masa mendatang. Terlebih, profesi barista saat ini menjadi salah satu bidang pekerjaan yang banyak diminati dan memiliki prospek menjanjikan seiring menjamurnya usaha kedai kopi di berbagai daerah.

Kepala Lapas Kelas IIB Purwodadi, Erik Murdiyanto, menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan oleh pihaknya.

Erik Murdiyanto mengatakan, pembekalan keterampilan kerja menjadi salah satu fokus utama dalam proses pembinaan warga binaan agar mereka memiliki kemampuan yang bernilai ekonomi ketika masa pidana berakhir.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap warga binaan dapat memiliki keterampilan yang bernilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat. Keahlian barista saat ini memiliki peluang yang cukup besar di dunia kerja maupun usaha mandiri,” ujarnya.

Baca Juga:  Polres Boyolali Gelar Pengamanan Rapat Paripurna Istimewa Pelantikan Anggota DPRD Kabupaten Boyolali Berlangsung Lancar

Menurut Erik, pembinaan tidak hanya bertujuan memberikan efek jera, tetapi juga mendorong perubahan positif sehingga warga binaan mampu menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.

Melalui kolaborasi dengan SPNF SKB Kabupaten Grobogan, Lapas Purwodadi berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai program pembinaan yang produktif, edukatif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dengan keterampilan yang terus diasah selama menjalani masa pembinaan, diharapkan para warga binaan tidak hanya siap kembali ke masyarakat, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha dan kehidupan yang lebih mandiri. Aroma kopi yang terseduh di dalam lapas pun menjadi simbol harapan baru bagi masa depan mereka. (*)