Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM — Fenomena urbanisasi yang kerap melonjak usai perayaan Lebaran kembali menjadi perhatian publik. Anggota DPRD Jawa Timur, Fuad Benardi, memberikan imbauan tegas kepada warga desa agar tidak tergesa-gesa meninggalkan kampung halaman demi merantau ke kota besar, khususnya Surabaya, tanpa persiapan yang memadai.

Dalam keterangannya, Fuad mengungkapkan bahwa momen mudik Lebaran sering kali memicu dorongan emosional bagi warga desa untuk ikut kembali ke kota bersama keluarga atau kerabat yang lebih dulu menetap di perkotaan. Harapan untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik di kota kerap membutakan realitas tantangan yang menanti.

Baca Juga:  Warga Kepung Balai Desa Kepohagung! Kades Diduga Gelapkan Dana Rp1 Miliar, Ruang Kerja Disegel

“Jangan asal ikut-ikutan ke kota karena semangat mudik. Kalau belum punya skill, yang ada malah menambah beban hidup di kota dan memperbesar angka pengangguran,” ujar Fuad pada Minggu (6/4/2025).

Ia menegaskan bahwa meskipun Surabaya merupakan kota yang terbuka bagi siapa pun, kehidupan urban memiliki tantangan yang tidak ringan. Persaingan kerja yang semakin ketat, keterbatasan lapangan pekerjaan, serta tingginya biaya hidup menjadi jebakan bagi mereka yang datang tanpa keahlian dan tujuan jelas.

Baca Juga:  Satlantas Polres Mojokerto Kota Gerak Cepat Kirim Bantuan ke Sumatera: Bukti Empati yang Menembus Batas Wilayah

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Surabaya, tercatat lonjakan jumlah penduduk mencapai 21.423 jiwa pada triwulan pertama tahun 2024. Dua kecamatan yang paling terdampak adalah Kenjeran dan Tambaksari, masing-masing menerima lebih dari seribu pendatang baru dalam periode tersebut.

Fuad juga mendorong pemerintah kabupaten dan kota untuk lebih proaktif dalam mengembangkan potensi ekonomi di wilayah pedesaan. Ia menyarankan agar program pelatihan vokasi dan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal digencarkan, guna menciptakan lapangan kerja yang layak di desa.

Baca Juga:  RSUD dr. Iskak Tingkatkan Kesadaran Bahaya HIV/AIDS di Hari AIDS Sedunia

“Kalau desa bisa berkembang, orang tidak perlu ke kota. Pemerataan pembangunan dan akses pelatihan kerja adalah kunci,” tegasnya.

Upaya pengendalian urbanisasi pasca-Lebaran ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan pembangunan antara desa dan kota. Selain itu, hal ini juga dinilai penting untuk mencegah membengkaknya beban sosial dan infrastruktur di kota-kota besar seperti Surabaya.

Dengan pendekatan komprehensif dari berbagai pihak, urbanisasi yang sehat dan terencana bukan hanya menjadi wacana, melainkan langkah nyata menuju pembangunan berkelanjutan. (*)