Laporan: Iswahyudi Artya

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Halaman Dewan Kesenian Surabaya (DKS) kembali dipenuhi denyut kreativitas pada peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (1/6/2026) malam. Di tengah suasana yang sarat makna kebangsaan, para seniman, budayawan, dan masyarakat umum berkumpul dalam kegiatan bertajuk “Mimbar Bebas”, sebuah ruang ekspresi yang menghadirkan seni sebagai bahasa perjuangan, refleksi, sekaligus pengingat pentingnya menjaga ruang budaya di Kota Pahlawan.

Sejak pukul 19.00 WIB, halaman DKS berubah menjadi panggung terbuka yang menyatukan berbagai bentuk kesenian. Pembacaan puisi, pertunjukan ludruk, pantomim, karawitan, teater, musik, hingga pameran seni rupa berlangsung silih berganti, menciptakan suasana yang hangat sekaligus penuh semangat kebudayaan.

Bagi para pelaku seni, Mimbar Bebas bukan sekadar tempat berorasi atau menyampaikan pendapat. Ruang tersebut telah bertransformasi menjadi wadah kreatif yang memungkinkan berbagai gagasan disampaikan melalui karya seni yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman berusaha menghadirkan ruang dialog yang terbuka tanpa terikat prosedur birokrasi maupun berbagai batasan administratif. Seni dipandang sebagai media yang mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan menyentuh persoalan-persoalan sosial dengan cara yang humanis.

Kegiatan ini juga menjadi penanda babak baru dalam perjalanan mempertahankan ruang kebudayaan di Surabaya. Dalam beberapa bulan terakhir, lingkungan DKS sempat menjadi sorotan publik akibat berbagai dinamika yang terjadi.

Baca Juga:  Guru sebagai Garda Depan: Muh. Haris Dorong Penanaman Nilai 4 Pilar MPR RI pada Generasi Muda

Mulai dari isu pengosongan ruang kesenian, pemindahan sejumlah fasilitas dan perangkat seni termasuk gamelan, penyegelan sekretariat, hingga proses hukum yang melibatkan pengelola dan pemerintah sempat memunculkan perhatian luas dari berbagai kalangan.

Pemerintah memandang langkah-langkah tersebut sebagai bagian dari upaya penataan aset dan ruang kota. Namun di sisi lain, para seniman dan budayawan menilai kebijakan itu berpotensi menghilangkan ruang hidup yang selama ini menjadi tempat bertumbuhnya kreativitas, diskusi, serta ingatan kolektif masyarakat.

Bagi para pegiat budaya, ruang seni tidak bisa diperlakukan layaknya aset fisik biasa yang hanya dinilai dari aspek administratif semata. Mereka memandang ruang budaya sebagai ruang berpikir, ruang publik, sekaligus ruang sosial yang memiliki nilai historis dan kultural yang tidak dapat diukur dengan angka.

Salah satu penggagas kegiatan menegaskan bahwa kesenian akan selalu menemukan jalan hidupnya, meskipun harus menghadapi berbagai bentuk pembatasan.

“Kesenian bukan meja arsip, melainkan ingatan kolektif. Semakin ruang ini ditekan, semakin ia menemukan bentuk baru. Saat ruangan disegel, halaman menjadi panggung. Saat mikrofon dimatikan, tubuh manusia menjadi pengeras suara,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan para peserta yang hadir. Kalimat itu seolah menjadi simbol perlawanan kultural sekaligus penegasan bahwa kreativitas tidak akan berhenti hanya karena keterbatasan ruang fisik.

Baca Juga:  Dikira Tidur, Ternyata Amin Badu Sudah Meninggal Dunia

Pemilihan tanggal 1 Juni sebagai waktu pelaksanaan kegiatan juga bukan tanpa alasan. Para seniman sengaja menjadikan momentum Hari Lahir Pancasila sebagai sarana menghadirkan kembali nilai-nilai kebangsaan melalui bahasa seni dan budaya.

Beragam pertunjukan seperti jaranan, macapat, ludruk, musik kontemporer hingga karya seni rupa ditampilkan sebagai medium penyampaian pesan tentang kebebasan, keberagaman, toleransi, dan demokrasi.

Melalui karya-karya tersebut, para pelaku seni ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila akan tetap hidup ketika masyarakat memiliki ruang yang cukup untuk berbicara, berpendapat, dan berkarya secara bebas dan bertanggung jawab.

Momen yang paling menyita perhatian terjadi saat para seniman menggelar prosesi pembukaan kembali Galeri DKS melalui tradisi Jawa “Mbukak Lawang” atau membuka pintu.

Prosesi itu berlangsung khidmat dan sarat simbolisme. Bagi para pelaku budaya, pembukaan pintu tersebut bukan sekadar membuka akses menuju sebuah bangunan, melainkan melambangkan terbukanya kembali hubungan antara manusia, ruang, sejarah, dan memori kolektif yang selama ini menjadi bagian penting perjalanan kebudayaan Surabaya.

Usai prosesi tersebut, Galeri DKS kembali dibuka untuk publik dengan menghadirkan pameran seni bertajuk “Vivere Pericoloso”.

Istilah yang dipopulerkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, itu memiliki makna “hidup dalam bahaya”. Tema tersebut dipilih sebagai refleksi atas keberanian menghadapi tantangan dan ketidakpastian dalam perjalanan berkesenian.

Baca Juga:  PKS DPRD Jatim Desak Jamkrida Transparan, Tambahan Modal Rp300 Miliar Harus Pro UMKM

Bagi para seniman, kemajuan kebudayaan tidak lahir dari kenyamanan semata, melainkan dari keberanian untuk mempertanyakan keadaan, menyuarakan gagasan, dan menjaga kebebasan berpikir.

Seniman Meimura yang terlibat dalam kegiatan tersebut menjelaskan bahwa tema pameran merepresentasikan semangat mempertahankan ruang ekspresi di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia kesenian saat ini.

Menurutnya, keberadaan ruang budaya tidak ditentukan oleh bangunan atau fasilitas fisik semata. Sebuah ruang budaya akan tetap hidup selama masih ada karya yang diciptakan, gagasan yang diperjuangkan, dan masyarakat yang bersedia terlibat di dalamnya.

Di bawah cahaya lampu sederhana yang menerangi halaman DKS malam itu, Mimbar Bebas menjelma menjadi simbol bahwa kebudayaan Surabaya masih terus bergerak dan berkembang.

Melalui seni, para seniman tidak hanya mempertahankan ruang ekspresi, tetapi juga menjaga agar nilai-nilai kebangsaan tetap relevan di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.

Harapan besar pun mengemuka dari kegiatan tersebut. Para peserta berharap Mimbar Bebas dapat menjadi ruang yang terus hidup, memperkuat pelestarian seni dan budaya, serta menjaga semangat Pancasila agar tetap hadir dalam kehidupan masyarakat melalui karya-karya yang lahir dari kebebasan, keberanian, dan kreativitas. (*)