Pekarangan Jadi Tambang Cuan, Dinas Pertanian Cilacap Gaspol Dukung SPPG Era Prabowo

Laporan: Widodo Mei Dwi

CILACAP | SUARAGLOBAL.COM – Kekurangan pasokan sayur di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tak lagi dibiarkan berlarut. Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap langsung tancap gas dengan mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah, lahan kosong desa, hingga sistem hidroponik di wilayah perkotaan.

Langkah strategis ini menjadi solusi konkret untuk memenuhi kebutuhan sayur harian program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto agar ekonomi lokal tumbuh dari potensi daerah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, S.P., M.Si, mengungkapkan bahwa kebutuhan sayuran di dapur SPPG saat ini masih jauh dari ideal. Padahal, kebijakan mewajibkan SPPG menyerap produk lokal sudah berjalan.

Baca Juga:  Pabrik Pindah, Hak Terlupakan: Mantan Karyawan PT DSA Tagih Keadilan di Tengah Ketidakpastian

“Pasokan sayuran di SPPG masih sangat kurang, sementara kebutuhan hariannya cukup besar. SPPG wajib menyerap produk lokal, tapi untuk sayur memang belum optimal,” ujar Sigit saat ditemui di kantor dinas, Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, potensi produksi sayur di Cilacap sebenarnya sangat besar jika digarap serius. Bahkan, pekarangan sempit sekalipun bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi warga.

“Pekarangan sekecil apa pun, lahan kosong desa, sampai hidroponik di perkotaan harus dimanfaatkan. Ini peluang besar,” tegasnya.

Panen Cepat, Untung Cepat

Sigit mendorong masyarakat menanam komoditas sayur yang cepat panen dan mudah dirawat. Beberapa di antaranya adalah selada, mentimun, kangkung, dan pakcoy yang bisa dipanen dalam waktu 30 hingga 40 hari.

Baca Juga:  Breaking News: Tanah Longsor Timpa Sebuah Rumah di Brongkol, 1 Korban Meninggal

“Tanam secara mandiri dengan bibit sendiri. Hasil panen nanti bisa langsung diserap dapur SPPG atau dijembatani oleh dinas. Ini peluang emas bagi ekonomi rumah tangga,” jelasnya.

Meski bantuan bibit dari dinas saat ini lebih difokuskan pada komoditas lain seperti cabai, namun pangsa pasar sayur untuk kebutuhan SPPG dinilai sangat terbuka lebar.

Di wilayah pedesaan, lahan kosong milik desa dapat dimaksimalkan sebagai sentra produksi sayur. Sementara di kawasan perkotaan yang minim lahan, sistem hidroponik menjadi solusi efisien dan menjanjikan.

Baca Juga:  Wajah Baru Polres Bondowoso: Sertijab Digelar, Kapolres Tekankan Adaptasi dan Inovasi

Selaras Arahan Presiden

Inisiatif ini dinilai sejalan dengan harapan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan agar potensi daerah menjadi penggerak utama ekonomi lokal. Selain menopang ketahanan pangan, langkah ini juga membuka lapangan usaha baru bagi masyarakat.

Dinas Pertanian pun mengajak warga untuk tidak menunda kesempatan tersebut.

“Mulai sekarang, tanam sayur untuk SPPG dan rasakan manfaatnya langsung,” pungkas Sigit.

Melalui gerakan tanam mandiri ini, diharapkan kebutuhan gizi anak-anak sekolah dalam program MBG dapat terpenuhi secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat ekonomi rakyat dari dapur hingga pekarangan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!