Laporan: Iswahyudi Artya

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Pembongkaran kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) dan Taman Remaja Surabaya (TRS) kembali memunculkan kegelisahan di kalangan pelaku seni tradisional. Hilangnya kawasan legendaris yang selama puluhan tahun menjadi pusat hiburan rakyat itu dinilai tidak hanya menghapus bangunan fisik, tetapi juga mematikan denyut kehidupan seni tradisional di Kota Pahlawan.

Kontributor budaya Surabaya, Eko Gagak, meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap nasib para seniman dan seniwati yang kehilangan ruang berkesenian sejak THR resmi ditutup permanen pada 2018 lalu.

Menurutnya, THR bukan sekadar tempat hiburan biasa. Kawasan tersebut selama puluhan tahun menjadi rumah bagi berbagai pertunjukan seni rakyat seperti ludruk, ketoprak, Srimulat, hingga pertunjukan musik tradisional yang menjadi identitas budaya masyarakat Surabaya.

“Banyak seniman kehilangan panggung tetap dan sumber penghidupan sejak THR ditutup,” ujar Eko Gagak dalam keterangannya.

Baca Juga:  Sinergi Kanwil Ditjenpas Jateng dan Undip Jalin Kerja Sama Pengembangan Desalinasi di Nusakambangan

Ia menilai penutupan dan pembongkaran kawasan itu membawa dampak besar terhadap keberlangsungan hidup para pelaku seni tradisional. Sebab, selama ini THR menjadi ruang kreativitas lintas generasi yang melahirkan banyak seniman besar Jawa Timur.

Tidak hanya menjadi lokasi pertunjukan, THR juga dikenal sebagai tempat berkumpulnya komunitas seni rakyat. Atmosfer budaya yang tumbuh selama puluhan tahun dianggap memiliki nilai sejarah tinggi yang sulit tergantikan.

Eko Gagak mengungkapkan, konflik mulai muncul ketika Pemerintah Kota Surabaya mengambil seperangkat alat musik gamelan dari kawasan THR. Setelah itu, perlahan para seniman meninggalkan lokasi karena tidak lagi memiliki fasilitas pertunjukan yang memadai.

Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya sempat menawarkan Balai Pemuda sebagai lokasi alternatif pertunjukan. Namun menurut Eko Gagak, tempat tersebut tidak mampu menggantikan suasana khas yang selama ini hidup di kawasan THR.

Baca Juga:  Karyawan Pet Shop di Waru Gelapkan Uang dan HP, Kabur ke Bandung Akhirnya Ditangkap Polisi

“Atmosfer budaya di THR itu berbeda. Di sana ada sejarah, ada kehidupan seni rakyat yang tumbuh alami selama puluhan tahun,” katanya.

Ia juga menyoroti pembongkaran sejumlah gedung kesenian legendaris seperti Gedung Pringgodani, Gedung Ketoprak, dan Gedung Srimulat. Bangunan-bangunan tersebut dinilai memiliki nilai historis penting dalam perjalanan seni pertunjukan rakyat di Surabaya.

Menurutnya, gedung-gedung itu sebenarnya masih layak dipertahankan dan direnovasi tanpa harus dirobohkan seluruhnya.

“THR merupakan bagian penting sejarah budaya Surabaya yang seharusnya dijaga, bukan dihilangkan,” tegasnya.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Surabaya beralasan revitalisasi kawasan dilakukan untuk menghadirkan ruang publik dan pusat seni yang lebih modern. Namun Eko Gagak menilai modernisasi seharusnya tetap memperhatikan keberlangsungan hidup para seniman tradisional yang selama ini menjadi penjaga budaya lokal.

Ia menyebut sebagian seniman memang mendapat bantuan fasilitas rumah susun. Akan tetapi, banyak pelaku seni lainnya yang hingga kini masih mengalami kesulitan ekonomi akibat hilangnya panggung pertunjukan rutin.

Baca Juga:  Disiplin dan Nasionalisme! Siswa SMK Sakti Gemolong Antusias Ikuti Latihan PBB

Kondisi tersebut membuat banyak seniman tradisional kehilangan sumber pendapatan utama mereka. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya berhenti berkesenian karena minimnya ruang tampil dan dukungan.

Eko Gagak menegaskan bahwa para pelaku seni tradisional memiliki kontribusi besar dalam menjaga identitas budaya Kota Surabaya. Karena itu, mereka dinilai layak mendapatkan perlindungan, pemberdayaan, dan ruang berkesenian yang memadai dari pemerintah.

Ia juga mengajak masyarakat Surabaya dan Jawa Timur untuk ikut mengawal perkembangan kawasan THR dan TRS agar sejarah panjang seni rakyat tidak hilang begitu saja di tengah arus modernisasi kota.

“Jangan sampai generasi mendatang hanya mendengar cerita tentang kejayaan seni rakyat Surabaya tanpa pernah melihat jejaknya,” pungkasnya. (*)