Laporan: Ninis Indrawati

JEMBER – Musim angin kencang yang disertai ombak tinggi kembali menghantam pesisir Pantai Pancer, Kecamatan Puger, Jember. Akibatnya, ratusan nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena risiko besar yang mengancam keselamatan mereka. Berdasarkan laporan cuaca, gelombang di perairan tersebut mencapai 2,6 meter dengan kecepatan angin hingga 32 knot, kondisi yang terlalu berbahaya bagi kapal nelayan tradisional.

\”Kami tidak berani melaut karena gelombangnya sangat tinggi, bisa membahayakan nyawa. Lebih baik menunggu sampai kondisi aman,\” ujar Arik Setiawan, seorang nelayan setempat, Sabtu (8/2/2025).

Baca Juga:  Pembinaan KBT Korem 073/Mkt di Umbul Senjoyo Karena Sejarah Joko Tingkir

Fenomena cuaca ekstrem ini sudah berlangsung sejak tiga hari terakhir dan diperkirakan masih berlanjut hingga sepekan ke depan. Selama itu, sebagian besar nelayan hanya bisa melakukan perawatan perahu, memperbaiki jaring, atau beraktivitas di sekitar pesisir untuk mengisi waktu luang.

Pasokan Ikan Menipis, Harga Melonjak

Dampak dari berhentinya aktivitas melaut ini langsung terasa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Pasokan ikan segar menurun drastis, menyebabkan lonjakan harga yang cukup signifikan di pasaran.

Baca Juga:  Lihat Langsung Proses Penanganan Bencana Gempa dan Tsunami Palu, Presiden Jokowi Saksikan Proses Evakuasi Serta Pembersihan Puing Bangunan

Hayati, salah satu pedagang ikan di TPI Puger, menyebutkan bahwa harga beberapa jenis ikan mengalami kenaikan cukup tajam.

\”Ikan tongkol yang biasanya Rp 20.000 per kilogram sekarang naik menjadi Rp 25.000, sedangkan tuna dari Rp 20.000 menjadi Rp 30.000 per kilogram,\” ungkapnya.

Baca Juga:  Tongkat Estafet Pengamanan Beralih, Rutan Salatiga Tancap Gas Menuju Layanan Lebih Profesional

Selain itu, harga kepiting juga melonjak dari Rp 65.000 menjadi Rp 80.000 per kilogram, sementara cumi-cumi naik dari Rp 25.000 menjadi Rp 30.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini membuat sebagian pedagang memilih untuk menutup lapak sementara waktu karena kesulitan mendapatkan pasokan ikan segar. Bagi mereka yang tetap berjualan, terpaksa harus mendatangkan ikan dari luar daerah dengan harga lebih mahal, yang membuat daya saing di pasar semakin sulit.

Baca Juga:  Gasak Motor Hingga 18 TKP, Komplotan Curanmor Lintas Pasuruan–Malang Dibekuk Polisi

Masyarakat Ikut Terdampak

Tidak hanya nelayan dan pedagang ikan, masyarakat umum juga merasakan dampak dari cuaca ekstrem ini. Lonjakan harga ikan membuat konsumen berpikir dua kali untuk membeli, sementara ketersediaan ikan segar di pasaran semakin terbatas.

\”Sekarang ikan jadi lebih mahal, padahal biasanya kami mengandalkan ikan sebagai lauk utama. Kalau begini terus, terpaksa harus cari alternatif lain,\” kata Rina, salah satu warga Puger.

Baca Juga:  Kapolda Jatim Tinjau Langsung Operasi Pencarian Korban KM Tunu Pratama Jaya di Selat Bali

Dengan kondisi yang masih belum membaik, harapan tertuju pada perubahan cuaca yang lebih bersahabat dalam beberapa hari ke depan. Para nelayan berharap segera bisa kembali melaut agar pasokan ikan kembali normal dan harga di pasaran stabil. (*)