Laporan: Ninis Indrawati

JEMBER – Musim angin kencang yang disertai ombak tinggi kembali menghantam pesisir Pantai Pancer, Kecamatan Puger, Jember. Akibatnya, ratusan nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena risiko besar yang mengancam keselamatan mereka. Berdasarkan laporan cuaca, gelombang di perairan tersebut mencapai 2,6 meter dengan kecepatan angin hingga 32 knot, kondisi yang terlalu berbahaya bagi kapal nelayan tradisional.

\”Kami tidak berani melaut karena gelombangnya sangat tinggi, bisa membahayakan nyawa. Lebih baik menunggu sampai kondisi aman,\” ujar Arik Setiawan, seorang nelayan setempat, Sabtu (8/2/2025).

Baca Juga:  Thania Kusumaningtyas: Dari Sasana ke Panggung Emas PON XXI, Kebanggaan Salatiga yang Tak Terkalahkan

Fenomena cuaca ekstrem ini sudah berlangsung sejak tiga hari terakhir dan diperkirakan masih berlanjut hingga sepekan ke depan. Selama itu, sebagian besar nelayan hanya bisa melakukan perawatan perahu, memperbaiki jaring, atau beraktivitas di sekitar pesisir untuk mengisi waktu luang.

Pasokan Ikan Menipis, Harga Melonjak

Dampak dari berhentinya aktivitas melaut ini langsung terasa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Pasokan ikan segar menurun drastis, menyebabkan lonjakan harga yang cukup signifikan di pasaran.

Baca Juga:  CSR Pertamina Dorong Sekolah Sungai, Surabaya Bangun Kesadaran Ekologis Anak

Hayati, salah satu pedagang ikan di TPI Puger, menyebutkan bahwa harga beberapa jenis ikan mengalami kenaikan cukup tajam.

\”Ikan tongkol yang biasanya Rp 20.000 per kilogram sekarang naik menjadi Rp 25.000, sedangkan tuna dari Rp 20.000 menjadi Rp 30.000 per kilogram,\” ungkapnya.

Baca Juga:  Konsisten Jaga Kerukunan, Salatiga Kembali Raih Peringkat Pertama Indeks Kota Toleran 2025

Selain itu, harga kepiting juga melonjak dari Rp 65.000 menjadi Rp 80.000 per kilogram, sementara cumi-cumi naik dari Rp 25.000 menjadi Rp 30.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini membuat sebagian pedagang memilih untuk menutup lapak sementara waktu karena kesulitan mendapatkan pasokan ikan segar. Bagi mereka yang tetap berjualan, terpaksa harus mendatangkan ikan dari luar daerah dengan harga lebih mahal, yang membuat daya saing di pasar semakin sulit.

Baca Juga:  Komisi III DPR Apresiasi Polri Jadi Institusi Paling Responsif Tangani Aduan Masyarakat

Masyarakat Ikut Terdampak

Tidak hanya nelayan dan pedagang ikan, masyarakat umum juga merasakan dampak dari cuaca ekstrem ini. Lonjakan harga ikan membuat konsumen berpikir dua kali untuk membeli, sementara ketersediaan ikan segar di pasaran semakin terbatas.

\”Sekarang ikan jadi lebih mahal, padahal biasanya kami mengandalkan ikan sebagai lauk utama. Kalau begini terus, terpaksa harus cari alternatif lain,\” kata Rina, salah satu warga Puger.

Baca Juga:  Kapolres Pasuruan Datangi Rumah Duka KorbanPenganiayaan, Tegaskan Proses Hukum Transparan dan Santuni Keluarga Korban

Dengan kondisi yang masih belum membaik, harapan tertuju pada perubahan cuaca yang lebih bersahabat dalam beberapa hari ke depan. Para nelayan berharap segera bisa kembali melaut agar pasokan ikan kembali normal dan harga di pasaran stabil. (*)