Laporan: Ninis Indrawati 

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM  —  Bhabinkamtibmas Kelurahan Genteng, Aiptu Suprijadi, bersama dengan tim dari kelurahan, melakukan intervensi dalam penyelesaian konflik yang melibatkan warga bernama Lim Kiat Seng, (27/09/24).

Konflik ini mencuat setelah Lim Kiat Seng dilaporkan melakukan tindakan kekerasan terhadap Wiwik, seorang warga Genteng Dalam, Kelurahan Genteng.

Kehadiran petugas di lokasi di Jl. Genteng Durasim 26 bertujuan untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Berdasarkan informasi dari pihak kelurahan,

Baca Juga:  1,5 Ton Sayur Mayur Dari LPP Ngablak Bantu Warga Terdampak Covid-19 di Salatiga

 Lim Kiat Seng diduga memiliki masalah kejiwaan dan telah beberapa kali bertindak tidak pantas terhadap warga setempat. Namun, setiap kali kejadian serupa terjadi, orang tua Lim Kiat Seng kerap membela putranya, mengklaim bahwa sang anak tidak bersalah.

Dalam pertemuan ini, para pengurus kampung yang diwakili oleh Ibu Dessy, Ketua RW 07 Genteng Sayangan, memutuskan bahwa jika Lim Kiat Seng kembali melakukan perbuatan serupa dan orang tuanya tidak menunjukkan itikad baik untuk merawat atau mengobati putranya, 

Baca Juga:  Jatim Gerbang Baru Nusantara: Menyongsong Peran Sentral sebagai Hub Ekonomi Kawasan Timur

pihak kelurahan dan pengurus kampung akan mengambil tindakan tegas. Salah satu opsi yang diusulkan adalah membawa Lim Kiat Seng ke Liponsos Keputih, sebuah pusat rehabilitasi sosial di Surabaya.

Penyelesaian ini diharapkan dapat mencegah ketegangan lebih lanjut dan menjaga ketertiban di lingkungan Kelurahan Genteng. Situasi di lokasi tetap aman dan tertib berkat kehadiran aparat dari Polsek Genteng yang dipimpin oleh Kapolsek Genteng, Kompol Bayu Halim Nugroho, S.H., S.I.K., M.Si.

Baca Juga:  Polda Jatim Tingkatkan Transparansi Informasi Publik Lewat Rakor PPID

Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Polsek Genteng dan jajaran Bhabinkamtibmas untuk menjaga kedamaian dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polrestabes Surabaya, sejalan dengan moto “Jogo Suroboyo” dan “Jogo Jawa Timur” untuk Indonesia yang damai. (*)