Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Kota kecil dengan daya saing besar. Ungkapan tersebut mengemuka dalam dialog Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI, Abdul Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, bersama pelaku ekonomi kreatif di Kampung Singkong Argotelo, Kota Salatiga, Kamis (15/10/2026).

Tak hanya membahas peluang pengembangan produk lokal, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk mendorong penerima bantuan sosial (bansos) agar mampu membangun kemandirian dan bertransformasi menjadi pelaku ekonomi produktif.

Dalam dialog bertema “Tata Kelola Ekonomi Kreatif untuk Produk Lokal Berdaya Saing” itu, Cak Imin membuka peluang kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk memperbesar potensi ekonomi lokal sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat.

Kegiatan berlangsung hangat dan semarak. Turut hadir Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin, CEO Educa Studio Andi Taru, serta sejumlah pelaku ekonomi kreatif dan pelaku usaha di Kota Salatiga.

Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi para pelaku usaha untuk menyampaikan aspirasi mengenai dukungan pemerintah, perluasan pasar, serta pengembangan potensi lokal agar mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian daerah.

Andi Taru: Salatiga Kotanya Kecil, Daya Saingnya Besar

CEO Educa Studio, Andi Taru, menyampaikan harapan agar pemerintah pusat memberikan dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif di Salatiga.

Menurutnya, keterbatasan wilayah bukanlah penghalang bagi daerah untuk menghasilkan produk dan inovasi yang memiliki daya saing. Potensi yang ada perlu diperkuat melalui kolaborasi dan dukungan yang berkelanjutan.

“Langsung saja, Pak Menko PM, ini juga titipan dari teman-teman semua. Bahwa Salatiga itu kotanya kecil, tapi daya saingnya besar. Nah, oleh karena itu mohon support-nya, Bapak,” ungkap Andi.

Aspirasi tersebut mencerminkan harapan pelaku ekonomi kreatif agar Salatiga memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengembangkan usaha, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas jaringan pemasaran.

Baca Juga:  Kapolres Boyolali: Almarhumah Anggota KPPS TPS 06 Desa Gubug Dikenang sebagai Pahlawan Demokrasi

Dengan dukungan pemerintah, pelaku usaha diharapkan mampu mengoptimalkan kreativitas dan inovasi yang telah dimiliki sehingga produk lokal tidak hanya dikenal di tingkat daerah, tetapi juga berpeluang memasuki pasar yang lebih luas.

Cak Imin Siap Tindak Lanjuti Kolaborasi

Merespons aspirasi tersebut, Cak Imin menyambut baik peluang kerja sama antara pemerintah pusat, Pemerintah Kota Salatiga, dan pelaku ekonomi kreatif.

Ia berharap kolaborasi lintas sektor dapat memperbesar potensi yang ada, memperbanyak peluang pengembangan usaha, serta memperluas jangkauan produk lokal.

“Mumpung ada Bu Wawali ini, kami siap sekali untuk berkolaborasi. Semoga kedatangan kami di sini, meskipun singkat, akan memberikan dampak. Nanti akan kami tindaklanjuti sebagai upaya kita untuk kolaborasi agar semua potensi ini bisa diperbesar, diperbanyak, dan diperluas jangkauannya, sehingga menjadi role model ekonomi kreatif ke depan,” ujarnya.

Komitmen tersebut membuka harapan bagi pelaku usaha agar pertemuan ini dapat berlanjut menjadi program konkret. Penguatan ekosistem ekonomi kreatif membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, hingga komunitas yang terlibat dalam pengembangan produk lokal.

Melalui kerja sama tersebut, potensi ekonomi Salatiga diharapkan dapat berkembang lebih optimal, menciptakan peluang usaha baru, dan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Penerima Bansos Didorong Mandiri, Bukan Sekadar Bergantung pada Bantuan

Selain ekonomi kreatif, Cak Imin juga menyinggung pentingnya pemberdayaan penerima bantuan sosial agar mampu meningkatkan kapasitas ekonomi dan membangun kemandirian.

Ia menjelaskan, penerima bansos perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan produktif sehingga secara bertahap dapat bertransformasi menjadi pelaku ekonomi mandiri.

Dalam pandangannya, keberhasilan pemberdayaan dapat terlihat ketika masyarakat yang sebelumnya menerima bantuan mampu meningkatkan penghasilan, mengembangkan usaha, dan memenuhi kebutuhan hidup secara lebih mandiri.

Baca Juga:  Dolar AS Melemah, Emas Kembali Naik Didukung Sinyal Kebijakan The Fed

Dengan proses tersebut, jumlah masyarakat yang membutuhkan bansos diharapkan dapat berkurang seiring meningkatnya kemampuan ekonomi mereka.

Cak Imin menekankan bahwa upaya pemberdayaan harus diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, kapasitas usaha, serta kemampuan masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi.

“Selama ini orang yang menerima bansos diberdayakan mandiri otomatis jumlah penerima bansos akan berkurang karena sudah menjadi pelaku ekonomi,” demikian penjelasan Cak Imin dalam dialog tersebut.

Pendekatan itu menempatkan bantuan sosial dan pemberdayaan ekonomi sebagai dua hal yang perlu berjalan beriringan. Bantuan tetap dibutuhkan masyarakat yang memenuhi kriteria, sementara program pemberdayaan diharapkan membuka jalan bagi penerima yang memiliki kesempatan untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Namun, proses menuju kemandirian tentu memerlukan pendampingan, peningkatan keterampilan, akses permodalan yang sesuai, serta peluang pemasaran agar usaha yang dirintis dapat berkembang secara berkelanjutan.

Menkeu dan Pemda Diminta Terlibat dalam Penguatan Kemandirian Ekonomi

Cak Imin juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas ekonomi masyarakat.

Menurutnya, penguatan anggaran untuk meningkatkan kemampuan produktif dan kemandirian ekonomi perlu menjadi perhatian bersama, termasuk oleh Menteri Keuangan dan pemerintah daerah.

“Oleh karena itu, lebih baik sekarang anggaran meningkatkan kualitas, kapasitas kemandirian ekonomi akan lebih baik, untuk Menkeu dan Pemda harus harus terlibat dalam hal ini,” tutupnya.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya dukungan anggaran yang tidak hanya berorientasi pada penyaluran bantuan, tetapi juga memperhatikan upaya memperkuat kemampuan masyarakat untuk mandiri secara ekonomi.

Keterlibatan pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat mendorong program pemberdayaan yang tepat sasaran, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi di masing-masing wilayah.

Bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha, dukungan berupa pelatihan, pendampingan, akses pasar, dan penguatan kapasitas dapat menjadi bagian penting untuk membuka peluang peningkatan pendapatan.

Baca Juga:  205 Pil Koplo Logo LL Disita, Pemuda Karangjati Diamankan Satresnarkoba Polres Ngawi

Meski demikian, keberhasilan pemberdayaan tidak dapat diukur hanya dari berkurangnya jumlah penerima bansos. Penilaian juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan usaha, peningkatan pendapatan, kondisi sosial ekonomi keluarga, serta kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar secara layak.

Kampung Singkong Argotelo, Momentum Memperkuat Ekonomi Lokal

Dialog di Kampung Singkong Argotelo menjadi momentum untuk mempertemukan aspirasi pelaku usaha dengan agenda pemberdayaan masyarakat.

Salatiga memiliki peluang untuk terus mengembangkan ekonomi kreatif melalui inovasi produk, penguatan usaha lokal, serta perluasan jaringan pemasaran. Potensi tersebut perlu ditopang tata kelola yang baik dan kolaborasi berkelanjutan agar mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Di sisi lain, pemberdayaan penerima bansos juga membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga. Tidak semua penerima bantuan memiliki kemampuan atau kesempatan yang sama untuk langsung menjalankan usaha. Karena itu, pendampingan dan dukungan yang tepat menjadi bagian penting dalam proses menuju kemandirian.

Jika kedua agenda tersebut dapat berjalan beriringan, pengembangan ekonomi kreatif berpeluang menciptakan lapangan kerja dan kesempatan usaha, sementara program pemberdayaan dapat membantu masyarakat meningkatkan kapasitas ekonominya.

Pertemuan Cak Imin bersama pelaku ekonomi kreatif di Salatiga diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia usaha.

Pesan yang mengemuka cukup jelas: potensi daerah perlu dikembangkan, produk lokal perlu diperluas jangkauannya, dan masyarakat perlu mendapatkan kesempatan untuk tumbuh menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.

Dengan tindak lanjut yang terukur dan dukungan lintas sektor, Salatiga diharapkan mampu membuktikan bahwa kota kecil juga dapat memiliki daya saing besar sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat perekonomian nasional. (*)