Investasi Jateng Capai Rp72,54 Triliun, Rencana Masuknya 57 Perusahaan Vietnam Buka Peluang Kerja

Laporan: Mualim
SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM – Jawa Tengah terus memperkuat daya tarik investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesempatan kerja.
Hingga triwulan III 2026, nilai investasi di provinsi ini tercatat mencapai Rp72,54 triliun atau 73,21 persen dari target tahunan.
Peluang penambahan investasi juga datang dari rencana masuknya 57 perusahaan asal Vietnam yang bergerak di sektor padat karya.
Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Jawa Tengah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan rencana tersebut saat membuka Semarang Business Forum (SEMBIZ) ke-19 Tahun 2026 di The Suri Ballroom, Queen City Mall, Kota Semarang, Rabu (21/10/2026).
“Ada 57 perusahaan Vietnam padat karya nanti akan membangun di wilayah kita. Karena role model kegiatan padat karyanya Vietnam sama dengan kita. Dan dia akan buka cabang di wilayah kita,” kata Luthfi.
Menurutnya, Semarang perlu mengambil peran strategis sebagai pusat penghubung investasi, perdagangan, dan pariwisata.
Posisi tersebut dinilai dapat memperkuat kerja sama ekonomi dengan daerah-daerah di sekitarnya.
Luthfi menyebut Kendal, Demak, Grobogan, dan Salatiga sebagai wilayah yang memiliki potensi untuk dikembangkan secara terintegrasi.
Dengan sinergi antardaerah, aktivitas investasi diharapkan tidak hanya terpusat di Kota Semarang, tetapi juga menyebar ke wilayah lain sesuai keunggulan masing-masing.
“Wali Kota Semarang sebagai hub-nya, sebagai komandan perang untuk membangun wilayah eks-Karesidenan Semarang,” ujarnya.
Luthfi menegaskan, pertumbuhan ekonomi daerah tidak cukup hanya mengandalkan belanja pemerintah.
Keterlibatan sektor swasta dan kerja sama antardaerah dibutuhkan untuk menciptakan pusat-pusat ekonomi baru sekaligus memperluas kesempatan kerja.
Ia juga menyoroti keterkaitan antara sektor pariwisata, perdagangan, dan investasi sebagai tiga bidang yang perlu dikembangkan secara beriringan.
“Business forum ini ada tiga hal yang sangat krusial. Yang pertama tourism, yang kedua trade, dan yang ketiga investasi. Ini tiga mata rantai yang tidak bisa kita pisahkan,” katanya.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam forum tersebut, nilai investasi Jawa Tengah hingga triwulan III 2026 mencapai Rp72,54 triliun.
Angka itu setara 73,21 persen dari target investasi sepanjang tahun sebesar Rp99,09 triliun.
Kabupaten Kendal mencatatkan realisasi investasi terbesar, yakni Rp13,61 triliun. Berikutnya, Kota Semarang membukukan Rp9,07 triliun, disusul Kabupaten Batang Rp8,54 triliun.
Sementara itu, Kabupaten Temanggung mencatat investasi sebesar Rp5,05 triliun dan Kabupaten Demak mencapai Rp4,29 triliun.
Sebaran angka tersebut menunjukkan bahwa sejumlah daerah di Jawa Tengah memiliki daya tarik bagi investor.
Pemerintah daerah dituntut mampu menjaga iklim usaha sekaligus memastikan investasi yang masuk memberikan dampak nyata bagi perekonomian dan penyerapan tenaga kerja.
Luthfi berharap SEMBIZ dapat menjadi ruang bagi pemerintah daerah untuk memperkenalkan potensi unggulan sekaligus mempertemukan investor dengan peluang bisnis yang dapat dikembangkan.
“Jadi business forum ini untuk apa? Untuk menciptakan ekonomi baru di wilayah masing-masing,” tuturnya.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, pengembangan ekonomi Kota Semarang membutuhkan dukungan daerah penyangga.
Salah satu alasannya, keterbatasan lahan membuat Semarang tidak leluasa mengembangkan kawasan industri berskala besar.
Karena itu, Kota Semarang diarahkan untuk memperkuat sektor perdagangan dan jasa, sedangkan daerah di sekitarnya berpeluang mengembangkan industri sesuai potensi dan ketersediaan lahannya.
“Kota Semarang tidak bisa sendiri. Pemerintah Kota Semarang tidak bisa sendiri. Maka kami mengundang seluruh investor untuk turut serta bersama-sama mengembangkan usaha untuk kebersamaan dan kemajuan,” kata Agustina.
Ia menjelaskan, SEMBIZ yang telah diselenggarakan sebanyak 19 kali menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pelaku usaha dengan peluang investasi.
Evaluasi terhadap penyelenggaraan sebelumnya juga dilakukan agar pertemuan bisnis tidak berhenti pada penjajakan, tetapi dapat berlanjut menjadi kerja sama nyata.
Salah satu potensi yang ditawarkan Pemerintah Kota Semarang adalah pengembangan kawasan wisata Tinjomoyo dengan tetap menjaga fungsi hutannya.
Pengembangan tersebut diharapkan mampu menarik aktivitas ekonomi baru sekaligus melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Agustina menekankan, pemanfaatan aset milik publik melalui kerja sama dengan pihak ketiga harus tetap memperhatikan kepentingan warga sekitar.
Masyarakat perlu memperoleh manfaat dari pengembangan kawasan, termasuk akses terhadap peluang usaha dan kegiatan ekonomi.
“Kalau aset-aset milik publik yang kemudian dikuasakan kepada pihak ketiga tidak memberikan manfaat atau akses khusus bagi masyarakat sekitar, ini juga pasti ada sesuatu yang keliru,” ujarnya.
Menurut Agustina, investasi idealnya tidak hanya memberikan keuntungan kepada perusahaan atau pemilik modal.
Kehadirannya juga harus membuka kesempatan bagi UMKM, menciptakan lapangan pekerjaan, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.
Dengan nilai investasi yang telah mencapai puluhan triliun rupiah dan rencana masuknya puluhan perusahaan asing, tantangan berikutnya bagi Jawa Tengah adalah memastikan peluang tersebut benar-benar terealisasi.
Keberhasilan investasi pada akhirnya perlu tercermin dari bertambahnya lapangan kerja, berkembangnya usaha lokal, dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.












Tinggalkan Balasan