Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Harapan menuju Indonesia bebas tuberkulosis (TBC) pada tahun 2030 terus diwujudkan melalui langkah nyata. Suasana penuh haru dan optimisme mewarnai Gedung Paru Sehat RS Paru dr. Ario Wirawan (RSPAW) Salatiga, Senin (29/6/2026), saat sembilan penyintas TBC menerima sertifikat sembuh langsung dari Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), didampingi Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, Sp.OG.

Penyerahan sertifikat tersebut bukan sekadar seremoni. Momen ini menjadi simbol keberhasilan perjuangan para pasien menyelesaikan pengobatan hingga tuntas sekaligus mempertegas komitmen pemerintah dalam mempercepat eliminasi TBC di Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Wakil Menteri Kesehatan menjelaskan bahwa pemerintah pusat telah menyiapkan strategi baru yang akan mulai dijalankan pada Juli 2026. Salah satu program unggulannya adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi pasien TBC beserta seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah.

Menurutnya, langkah tersebut bertujuan menemukan kasus sedini mungkin, termasuk mendeteksi TB laten, yakni kondisi seseorang telah terinfeksi bakteri TBC namun belum menunjukkan gejala karena bakterinya masih tidak aktif.

Baca Juga:  Puluhan Kg Sabu Disita! Polda Jawa Timur Bongkar Dua Kasus, Satu Kurir Ditangkap, Satu DPO

“Ada 743 pasien TB yang diobati di Kota Salatiga maka Kemenkes memiliki program ini, 743 rumah ditambah kalau tahun ini sudah ketemu 300 berarti ada 1.000 rumah di Salatiga kita sasar, mulai bulan Juli akan dilakukan CKG hingga rontgen paru di tempat,” jelasnya.

Ia menegaskan seluruh layanan pemeriksaan, mulai dari cek kesehatan hingga pemeriksaan rontgen paru, akan dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Kesehatan. Program ini diharapkan mampu mempercepat penemuan kasus baru sehingga rantai penularan TBC dapat segera diputus.

Sementara itu, Wali Kota Salatiga, dr. Robby Hernawan, menegaskan bahwa Pemerintah Kota Salatiga berkomitmen penuh mendukung percepatan eliminasi TBC melalui kolaborasi lintas sektor, penguatan pelayanan kesehatan, hingga pemberdayaan kader kesehatan di tingkat masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan menyembuhkan pasien harus dibarengi dengan upaya deteksi dini agar penyebaran penyakit dapat dicegah sedini mungkin.

Baca Juga:  Panen Jagung Berskala Nasional, Polres Pasuruan Tegaskan Sinergi Tani dan Ketahanan Pangan

“Deteksi dini merupakan langkah yang sangat penting dalam eliminasi TBC. Karena itu, selain memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas, kita juga harus memperkuat upaya penemuan kasus secara aktif. Mari berkolaborasi dengan puskesmas, kader kesehatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, PKK, serta seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong melakukan pencegahan dan deteksi dini TBC,” ujar Robby.

Ia juga berharap RS Paru dr. Ario Wirawan Salatiga terus berkembang menjadi rumah sakit rujukan penanganan penyakit paru yang semakin maju, tidak hanya melayani masyarakat Jawa Tengah, tetapi juga menjadi rujukan tingkat nasional.

Pada kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RSPAW, dr. I Gusti Ngurah Widiyawati, Sp.P(K), FISR, menjelaskan bahwa penanganan pasien TBC, khususnya TBC Resistan Obat (TB-RO), dilakukan dengan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai dokter spesialis.

Pendekatan tersebut terbukti efektif. Sembilan pasien TB-RO yang menerima sertifikat pada hari itu berhasil menuntaskan seluruh rangkaian pengobatan selama enam bulan secara disiplin hingga akhirnya dinyatakan sembuh.

Baca Juga:  Dari Front One ke Azana: Hotel Gosyen Salatiga Resmi Naik Level

“Sejak layanan ini dibuka pada tahun 2016, sebanyak 146 pasien telah menerima sertifikat sembuh. Hari ini, sembilan pasien kembali dinyatakan sembuh setelah menjalani pengobatan secara rutin dan terkontrol selama enam bulan,” ungkapnya.

Keberhasilan tersebut semakin memperkuat peran RS Paru dr. Ario Wirawan sebagai salah satu pusat layanan penanganan TBC yang didukung fasilitas kesehatan modern dan tenaga medis berpengalaman.

Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, rumah sakit, tenaga kesehatan, kader masyarakat, hingga dukungan keluarga pasien menjadi kunci keberhasilan pengobatan sekaligus mempercepat pencapaian target besar Indonesia Bebas TBC 2030.

Melalui strategi deteksi dini, pemeriksaan kesehatan gratis, pengobatan yang terintegrasi, serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat, pemerintah berharap angka penularan TBC dapat terus ditekan sehingga semakin banyak pasien yang dapat kembali menjalani hidup sehat dan produktif. (*)