Laporan: Wahyu Widodo

KAB. SEMARANG | SUARAGLOBAL COM — Ketika pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol) terus mengintai kantong masyarakat kecil, sebuah seruan keras menggema dari Kabupaten Semarang, (18/08/26).

Syarikat Islam (SI) Kabupaten Semarang bersama kaum muda dan inisiatif Pendopo Pintar mendorong lahirnya format ekonomi baru yang dinilai lebih berpihak kepada masyarakat akar rumput.

Bukan sekadar wacana. Gagasan tersebut dibahas dalam seminar dan diskusi yang digelar Selasa sore. Ratusan peserta ikut merumuskan langkah konkret untuk membangun sistem ekonomi yang dinilai lebih adil, produktif, dan mampu memperkuat kemandirian masyarakat.

Forum tersebut mengkritisi kondisi perekonomian nasional yang secara makro tetap bergerak dinamis. Namun, pertumbuhan ekonomi dinilai belum selalu dirasakan secara merata oleh masyarakat lapisan bawah.

Di tengah kondisi tersebut, pinjol ilegal dan judol disebut menjadi dua ancaman yang dapat menggerus daya tahan ekonomi keluarga.

Uang yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga atau mengembangkan usaha justru berpotensi tersedot ke aktivitas konsumtif dan tidak produktif.

“Masalah utama kita hari ini bukanlah darurat ekonomi secara keseluruhan, melainkan darurat peredaran rezeki. Uang dari kantong rakyat kecil terus disedot ke atas melalui jebakan pinjol dan judol, tanpa menyisakan nilai produktif,” ujar perwakilan pembicara dalam forum tersebut.

Menurutnya, masyarakat membutuhkan ekosistem ekonomi yang membuat uang terus berputar di sektor produktif dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Salah satu inspirasi yang dibahas adalah ketangguhan ekonomi akar rumput yang selama ini tumbuh melalui jaringan usaha kecil, termasuk fenomena Warung Madura yang dikenal mampu bertahan dengan model usaha yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:  Wah Iki! Yimmy Diganti Gatot

Kisah Petani Tengaran, Bukti Ekonomi dari Bawah Bisa Bergerak

Di tengah diskusi mengenai format ekonomi baru tersebut, kisah para petani di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, menjadi salah satu contoh yang mendapat perhatian.

Melalui Koperasi Beras Pendopo Pintar, para petani berupaya memotong panjangnya rantai distribusi yang selama ini dapat membuat nilai tambah hasil pertanian semakin kecil ketika sampai ke tangan produsen.

Gabah dibeli dengan harga yang pantas. Selanjutnya, beras didistribusikan langsung kepada konsumen.

Model tersebut membuat nilai tambah hasil panen dapat lebih banyak dirasakan oleh petani lokal.

Bagi forum, pola seperti ini menunjukkan bahwa penguatan ekonomi masyarakat tidak selalu harus dimulai dari pusat. Justru dari desa, petani, koperasi, dan pelaku usaha kecil, sebuah ekosistem ekonomi baru dapat dibangun.

Dari sinilah kolaborasi Pendopo Pintar dan Syarikat Islam kemudian menggagas konsep 3M sebagai fondasi format ekonomi umat.

Jurus 3M: Modal Adil, Marketplace Terbuka, Mental Dermawan

Konsep pertama adalah Modal Adil.

Skema ini diarahkan untuk menggantikan pola pinjaman yang dinilai mencekik masyarakat dengan pembiayaan berbasis bagi hasil atau syirkah, serta gotong royong jamaah.

Namun, pengelolaan dana umat tidak cukup hanya mengandalkan semangat kebersamaan.

Pendopo Pintar dan SI menekankan pentingnya tata kelola kelembagaan yang transparan, struktur organisasi yang solid, serta penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara ketat pada setiap unit bisnis maupun yayasan yang dikelola.

Baca Juga:  Gibran Rakabuming Dorong Revolusi Pangan Nasional: Tanam Jagung dan Tebar 80 Ribu Benih Ikan di Tangerang

Dengan demikian, keamanan dana umat dan risiko investasi diharapkan dapat dikelola secara lebih terukur.

Jurus kedua adalah Marketplace Terbuka.

Konsep ini diarahkan untuk membangun ekosistem pasar yang mempertemukan produsen dan konsumen secara lebih langsung.

Tujuannya, rantai distribusi dapat dipangkas, sementara praktik penimbunan dan monopoli harga dapat ditekan.

Gagasan tersebut mengambil inspirasi dari konsep pasar di Madinah pada zaman Rasulullah SAW, dengan semangat menghadirkan ruang perdagangan yang lebih terbuka dan memberikan kesempatan kepada pelaku ekonomi untuk berinteraksi secara langsung.

Sedangkan jurus ketiga adalah Mental Dermawan.

Instrumen filantropi Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf didorong tidak hanya dipandang sebagai aktivitas sosial, tetapi juga dapat dioptimalkan untuk menggerakkan sektor riil.

Salah satunya melalui wakaf produktif yang diarahkan untuk mendukung permodalan usaha maupun memberikan akses beasiswa bagi generasi muda.

Dari Lumbung Desa hingga Meja Makan Keluarga

Pesan yang dibawa dalam forum tersebut cukup jelas: perubahan sistem ekonomi tidak bisa hanya ditunggu.

Masyarakat perlu menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

“Perubahan sistemik tidak bisa hanya ditunggu. Melalui gerakan ini, kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk turun tangan. Mulai dari lumbung desa hingga meja makan keluarga perkotaan, mari kita bangun ekosistem yang memastikan kesejahteraan mengalir bagai air bagi seluruh rakyat,” tegas perwakilan pembicara.

Baca Juga:  Peringati HBI Ke-74, Kemenkumham Jateng Gelar Jalan Sehat

Forum yang berlangsung hingga menjelang waktu Maghrib itu kemudian ditutup dengan komitmen bersama.

Pengurus Syarikat Islam, tokoh masyarakat, dan generasi muda sepakat mendorong perintisan sekaligus duplikasi model Koperasi Pendopo Pintar ke berbagai sektor riil lainnya.

Harapannya, model tersebut tidak berhenti sebagai gerakan ekonomi di satu wilayah, tetapi dapat berkembang menjadi pola pemberdayaan masyarakat yang bisa diterapkan di Kabupaten Semarang dan daerah sekitarnya.

Pada akhirnya, perang melawan jeratan pinjol dan judol tidak hanya dipandang sebagai persoalan hukum maupun sosial.

Ada persoalan ekonomi yang harus dibenahi: bagaimana uang masyarakat tetap berputar, bagaimana pelaku usaha kecil mendapat akses modal yang sehat, bagaimana petani memperoleh nilai tambah yang layak, dan bagaimana kekuatan filantropi umat dapat kembali masuk ke sektor produktif.

Dari Tengaran, gagasan itu mulai diketuk. Dari koperasi, pasar terbuka, dan gotong royong, SI Kabupaten Semarang dan Pendopo Pintar ingin mendorong ekonomi akar rumput agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah derasnya arus perekonomian nasional.

Tentang Syarikat Islam dan Pendopo Pintar

Syarikat Islam (SI) merupakan organisasi masyarakat yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemandirian ekonomi umat sejak era Sarekat Dagang Islam.

Sementara Pendopo Pintar merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang berfokus pada inovasi rantai pasok dan peningkatan kesejahteraan masyarakat akar rumput melalui pendekatan koperasi serta kolaborasi gotong royong. (*)