Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Ketika sebagian orang memilih melepas penat setelah seharian bekerja, Bripda Fawwaz Dhiyaul Haq Trimas justru mengenakan “seragam” pekerjaan keduanya. Bukan seragam dinas, melainkan pakaian sederhana untuk berkutat di kandang sapi.

Pemuda berusia 23 tahun tersebut menjalani dua aktivitas dalam satu hari. Pagi hingga sore, ia menjalankan tugas sebagai anggota Polri di Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) Polres Salatiga. Namun setelah tugas kedinasan selesai, aktivitasnya belum berhenti.

Ia justru bergerak mencari pakan ternak, mulai dari ampas tahu hingga berbagai bahan pakan lainnya. Setelah itu, langkahnya berlanjut menuju kandang untuk memberi makan, membersihkan kandang, sekaligus memastikan kondisi sapi-sapi miliknya.

Rutinitas tersebut kini menjadi bagian dari kehidupan Bripda Fawwaz.

Bagi sebagian orang, pekerjaan setelah dinas mungkin identik dengan istirahat. Namun bagi polisi muda ini, waktu selepas berdinas justru menjadi kesempatan untuk membangun usaha yang telah dirintisnya sejak pertengahan 2025.

Berawal dari Seekor Sapi

Tidak ada peternakan besar ketika Fawwaz memulai langkahnya. Ia mengawali semuanya dari satu ekor sapi.

Keputusan tersebut lahir dari sebuah pemikiran sederhana. Di usia yang masih muda, Fawwaz merasa perlu mempersiapkan sesuatu untuk masa depannya. Ia tidak ingin hanya mengandalkan penghasilan yang diperoleh saat ini tanpa memiliki rencana jangka panjang.

“Waktu itu saya berpikir, hidup saya tidak boleh seperti ini terus. Setelah saya pikirkan dan saya kuatkan tekad, akhirnya di pertengahan 2025 saya memutuskan untuk membeli seekor sapi,” ujar Bripda Fawwaz.

Seekor sapi itulah yang kemudian menjadi titik awal perjalanan peternakannya.

Baca Juga:  Istana Jadi Kelas Kebangsaan! Ribuan Pelajar Tersulut Semangat Mengabdi untuk Negeri

Ia tidak langsung mengejar jumlah ternak dalam skala besar. Fawwaz memilih menggunakan pola bertahap. Sebagian gajinya disisihkan untuk mengembangkan usaha, sementara keuntungan dari penjualan sapi kembali diputar untuk membeli dan menambah ternak.

Cara tersebut dijalani secara konsisten.

Hasilnya mulai terlihat.

Dari semula hanya satu ekor, kini jumlah sapi yang dimilikinya telah berkembang menjadi delapan ekor.

Diremehkan, Malah Jadi Bahan Bakar

Perjalanan membangun peternakan ternyata tidak selalu mulus. Fawwaz mengaku pernah mendapat pandangan sebelah mata dari orang-orang di sekitarnya.

Ada yang meremehkan pilihannya. Ada pula yang menganggap impiannya terlalu sederhana atau sulit berkembang.

Komentar tersebut bahkan datang dari berbagai lingkungan, mulai dari pertemanan, lingkungan kantor, hingga keluarga.

Namun, Fawwaz memilih tidak menjadikan cibiran sebagai alasan untuk berhenti.

Sebaliknya, berbagai komentar tersebut justru ia jadikan pemacu untuk membuktikan bahwa sebuah usaha tidak harus dimulai dengan modal besar.

“Memang banyak yang meremehkan dan merendahkan mimpi yang saya punya. Ada dari lingkungan pertemanan, kantor, bahkan keluarga sendiri. Tapi saya justru menjadikannya sebagai bahan bakar untuk semakin memacu tekad saya,” ungkapnya.

Tekad itulah yang membuatnya terus menjalani aktivitas beternak meski harus dilakukan setelah menyelesaikan tugas kedinasan.

Pulang Dinas, Bukan Berarti Selesai

Keseharian Fawwaz kini terbilang padat.

Pagi hingga sore waktunya digunakan untuk menjalankan tanggung jawab sebagai anggota Polri. Setelah tugas kedinasan selesai, ia berganti fokus mengurus peternakan.

Salah satu pekerjaan yang rutin dilakukan adalah mencari pakan.

Baca Juga:  On Air di Radio Start FM Panyabungan, Kapolres Madina Himbau Masyarakat Antisipasi Penyebaran Covid -19

Ampas tahu menjadi salah satu bahan yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi. Selain itu, berbagai bahan pakan lain juga dikumpulkan sesuai kebutuhan ternaknya.

Setelah pakan terkumpul, pekerjaan belum selesai.

Ia harus menuju kandang untuk memberikan pakan, mengecek kondisi sapi, membersihkan kandang, serta memastikan ternaknya mendapatkan perawatan dengan baik.

Semua dilakukan di sela-sela waktu setelah berdinas.

Tidak ada petugas khusus yang setiap hari mengambil alih pekerjaannya. Fawwaz memilih terjun langsung menangani ternaknya.

Bagi dia, merawat sapi bukan sekadar pekerjaan tambahan. Di balik aktivitas tersebut terdapat proses belajar, kedisiplinan, sekaligus upaya membangun sesuatu yang bisa berkembang dalam jangka panjang.

Delapan Ekor dan Mimpi yang Masih Panjang

Delapan ekor sapi yang kini berada di kandangnya memang belum bisa disebut sebagai peternakan berskala besar.

Namun angka tersebut memiliki arti tersendiri bagi Fawwaz.

Sebab, delapan ekor itu lahir dari proses yang dimulai hanya dengan satu ekor sapi pada pertengahan 2025.

Ia tidak mengejar keberhasilan secara instan. Baginya, peternakan adalah proses yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, modal yang dikelola secara bertahap, dan perawatan setiap hari.

Satu ekor sapi menjadi awal.

Kemudian bertambah menjadi dua, berkembang lagi hingga kini delapan ekor.

Setiap pertambahan jumlah ternak menjadi bagian dari perjalanan yang ia bangun sedikit demi sedikit.

Di sinilah kisah Bripda Fawwaz menjadi menarik. Di satu sisi, ia menjalankan tugas sebagai anggota Polri. Di sisi lain, ia memilih memanfaatkan waktu setelah berdinas untuk menekuni dunia peternakan.

Baca Juga:  214 Calon Jemaah Haji Salatiga Ikuti Manasik, Usung Tema Ramah Lansia dan Disabilitas

Dua aktivitas yang berbeda tersebut dijalani dengan prinsip yang sama: bekerja dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang telah diambil.

Pagi Mengabdi, Sore Mengurus Kandang

Di usia 23 tahun, Fawwaz menunjukkan bahwa membangun masa depan tidak selalu harus menunggu usia matang atau memiliki modal besar.

Ia memilih memulainya dari apa yang mampu dilakukan.

Sebagian penghasilan disisihkan. Satu ekor sapi dibeli. Kemudian dirawat dan dikembangkan. Ketika ada hasil, keuntungan kembali diputar untuk menambah ternak.

Sebuah pola sederhana, tetapi membutuhkan konsistensi.

Pagi hari ia mengabdi dengan seragam Polri.

Sore hingga malam, ia berkutat dengan pakan, kandang, dan ternaknya.

Ketika sebagian orang mungkin menganggap hari kerja telah berakhir setelah tugas kedinasan selesai, bagi Fawwaz justru ada tanggung jawab lain yang menunggu.

Sore itu, setelah menyelesaikan tugasnya, ia kembali menuju kandang.

Bukan untuk sekadar mengisi waktu luang.

Ia datang untuk menjalankan tanggung jawab lain yang telah dipilihnya.

Di antara suara sapi dan aktivitas membersihkan kandang, Fawwaz kembali bekerja. Perlahan, satu per satu, tanpa banyak gegap gempita.

Dari satu ekor sapi yang dibeli pada 2025, kini telah menjadi delapan ekor.

Dan perjalanan itu belum berhenti.

Bagi Bripda Fawwaz, membangun sesuatu tidak harus langsung besar. Yang terpenting adalah berani memulai, kemudian merawat, menjaga, dan mengembangkannya secara konsisten.

Satu sapi mungkin terlihat kecil sebagai sebuah permulaan.

Namun dari kandang sederhana itulah, seorang polisi muda sedang menata langkah untuk masa depan yang ingin dibangunnya sendiri. (*)