Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Puluhan mahasiswa UIN Salatiga turun menyuarakan sejumlah persoalan yang mereka nilai perlu mendapat perhatian serius dari pihak kampus. Beragam isu mulai dari KKN reguler, kebijakan MBKM, UKT hingga persoalan masuknya aparat penegak hukum (APH) ke lingkungan kampus menjadi sorotan dalam aksi tersebut.

Aksi berlangsung di Kampus 3 UIN Salatiga, Rabu (7/10/2026). Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi Langsung menyampaikan aspirasi sebagai bentuk kepedulian terhadap perjalanan dan kemajuan kampus.

Aksi dimulai sekitar pukul 09.30 WIB. Puluhan mahasiswa sebelumnya berkumpul di depan kantin Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).

Dari lokasi tersebut, massa kemudian bergerak menuju gedung Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Pergerakan mahasiswa berlanjut hingga berhenti di depan lapangan voli.

Lima spanduk dibentangkan sebagai penanda berbagai tuntutan dan persoalan yang ingin disampaikan kepada pihak universitas.

Bukan sekadar turun ke jalan, mahasiswa membawa sejumlah isu yang bersentuhan langsung dengan kehidupan akademik dan kebijakan kampus.

Baca Juga:  Walikota Salatiga Terima Hasil Program TMMD Sengkuyung Tahap II TA 2020 Kodim 0714/Salatiga

Beberapa persoalan yang disorot antara lain mengenai KKN reguler, kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), mekanisme pengambilan kebijakan, kesesuaian bidang dosen, Uang Kuliah Tunggal (UKT), nomenklatur Psikologi Islam, hingga persoalan masuknya aparat penegak hukum (APH) ke lingkungan kampus.

Beragam isu tersebut kemudian disampaikan mahasiswa dalam forum yang mempertemukan mereka secara langsung dengan jajaran pimpinan UIN Salatiga.

Mahasiswa menegaskan, kritik yang disampaikan bukan semata-mata bentuk penolakan terhadap kebijakan kampus. Aspirasi tersebut merupakan bagian dari kepedulian mahasiswa terhadap kondisi dan masa depan UIN Salatiga.

Mereka berharap berbagai persoalan yang dirasakan mahasiswa dapat menjadi perhatian sekaligus bahan evaluasi bagi pihak universitas.

Pimpinan Kampus Temui Massa

Menariknya, aspirasi mahasiswa tidak dibiarkan berhenti sebagai aksi penyampaian tuntutan. Jajaran pimpinan UIN Salatiga turun langsung menemui massa dan membuka ruang dialog.

Baca Juga:  Bekti Tata Gapuraning Buwana! 39 Prajurit Resmi Bergabung dengan Korem 073/Makutarama

Wakil Rektor I UIN Salatiga Prof. Miftahuddin dan Wakil Rektor II Prof. Suwardi hadir untuk menerima aspirasi mahasiswa.

Sejumlah pimpinan fakultas juga turut hadir dalam pertemuan tersebut. Di antaranya Dekan FTIK Prof. Rasimin serta Dekan Fakultas Dakwah Prof. Adang.

Pertemuan tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa untuk menyampaikan berbagai persoalan secara langsung di hadapan jajaran pimpinan universitas.

Forum dialog juga membuka kesempatan bagi pihak kampus untuk mendengar secara langsung keresahan mahasiswa mengenai kebijakan maupun kondisi yang mereka alami selama menjalani proses perkuliahan.

Dengan pola komunikasi secara langsung tersebut, persoalan yang selama ini menjadi perhatian mahasiswa dapat dibicarakan dalam ruang terbuka.

Kritik Jadi Bahan Evaluasi

Aksi mahasiswa tersebut menjadi bagian dari dinamika kehidupan akademik di lingkungan perguruan tinggi.

Penyampaian aspirasi secara terbuka dinilai dapat menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan, kritik maupun masukan terhadap berbagai kebijakan yang bersinggungan dengan kepentingan mereka.

Baca Juga:  Tegas Jaga Lingkungan, Aparat Gabungan Salatiga Gelar Apel Penghentian Tambang Ilegal di Jalan Lingkar Selatan

Di sisi lain, keterlibatan pimpinan universitas dalam dialog memberikan ruang komunikasi dua arah antara mahasiswa dan pengelola kampus.

Aspirasi yang disampaikan mahasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai kritik sesaat. Masukan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi universitas dalam memperbaiki berbagai kebijakan serta meningkatkan kualitas tata kelola kampus.

Ruang dialog juga menjadi penting agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi jarak komunikasi antara mahasiswa dan pimpinan universitas.

Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai persoalan akademik maupun nonakademik diharapkan dapat dicari jalan keluarnya secara bersama-sama.

Pada akhirnya, aksi tersebut bukan hanya tentang spanduk dan tuntutan. Lebih dari itu, aspirasi mahasiswa menjadi bagian dari proses membangun budaya akademik yang memberi ruang bagi kritik, dialog dan evaluasi.

Dengan terbukanya ruang komunikasi antara mahasiswa dan pimpinan, diharapkan berbagai masukan yang muncul dapat ditindaklanjuti demi mendorong perbaikan serta kemajuan UIN Salatiga ke depan. (*)