40 Km/Jam! Monster Mini Adu Cepat, 120 Tim Ramaikan Balap Tamiya di Terminal Tingkir Salatiga
Laporan: Wahyu Widodo
SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Deru kencang roda mini 4WD mengguncang Mini Convention Hall Terminal Tipe A Tingkir, Minggu (26/4/2026). Suasana yang biasanya identik dengan aktivitas transportasi, mendadak berubah menjadi arena balap penuh adrenalin dalam ajang Race Tamiya kelas damper style yang digelar Komunitas Tamiya KOBAM Salatiga.
Sorak sorai penonton pecah setiap kali mobil-mobil mungil melesat di lintasan. Bukan sekadar permainan, kompetisi ini menjelma menjadi ajang serius yang menguji kecepatan, ketahanan, sekaligus kecermatan para penghobi dari berbagai usia.
Ketua penyelenggara, Herlambang Eko Prakasa, menegaskan bahwa kelas damper style memang dirancang untuk menguji performa maksimal mobil.
“Ini kelas kencang-kencangan. Kecepatan bisa tembus 40 km/jam, tapi yang paling penting mobil harus bisa finish tiga lap tanpa keluar lintasan,” ujarnya.
Dalam satu sesi lomba, tiga mobil langsung dilepas bersamaan. Ketegangan pun tak terhindarkan. Sedikit saja kehilangan keseimbangan, mobil bisa terpental keluar lintasan dan otomatis gugur.
Sistem penilaian dibuat simpel namun ketat. Hanya peserta dengan status clear finish yang bisa melaju ke babak berikutnya. Sensor digital di garis start dan finis menjadi penentu akurasi waktu.
“Yang dihitung hanya finish. Sensor mencatat waktu secara otomatis, jadi langsung terlihat siapa yang tercepat,” jelas Herlambang kepada suaraglobal.com.
Persaingan berlangsung sengit sejak pagi. Hingga siang hari, rekor waktu tercepat sementara menyentuh angka fantastis 12,0404 detik. Sementara pesaing lainnya terus membuntuti di kisaran 12,95 detik pada dua lintasan berbeda.
Tak kurang dari 120 tim dari berbagai kota di Pulau Jawa mulai dari Malang, Ngawi hingga Tegal turut ambil bagian. Antusiasme tinggi ini menegaskan bahwa Tamiya telah berkembang menjadi hobi serius yang lintas generasi.
“Pesertanya dari seluruh Jawa. Ini bukan hanya anak-anak, tapi juga orang dewasa yang serius menekuni,” tambahnya.
Di balik kecepatan yang memukau, ada proses panjang yang tak terlihat. Herlambang mengungkapkan bahwa kunci utama kemenangan justru terletak pada setting mobil yang presisi.
Mulai dari pemilihan baterai, mesin, damper, ban, hingga keseimbangan bodi, semuanya harus diperhitungkan secara detail.
“Bukan cuma pasang baterai lalu jalan. Setting itu krusial. Bahkan bisa bikin stres kalau mobil tidak finish,” ungkapnya sambil tersenyum.
Hobi ini juga menuntut investasi yang tidak sedikit. Untuk satu unit Tamiya kelas damper style, peserta bisa menghabiskan dana sekitar Rp 1,5 juta atau lebih, tergantung spesifikasi. Sementara untuk mencapai performa kompetitif, dibutuhkan waktu belajar hingga satu tahun.
Salah satu peserta asal Brebes, Heru, mengaku terpikat dengan atmosfer kompetisi yang menantang.
“Seru banget. Persiapannya fokus ke mobil, terutama pemilihan part supaya bisa maksimal di lintasan,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Terminal Tipe A Tingkir Salatiga, Vicky Chandra Yanuar, melihat kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam menghidupkan terminal sebagai ruang publik yang produktif dan kreatif.
“Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan PNBP, tapi juga meramaikan terminal sebagai pusat aktivitas masyarakat. Sekaligus membuka peluang bagi UMKM,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa konsep terminal modern harus mampu bertransformasi, tidak hanya sebagai simpul transportasi, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, ekonomi, dan komunitas.
Sebagai penutup kemeriahan, panitia menyiapkan total hadiah sebesar Rp 10 juta yang diperebutkan dalam berbagai kategori. Penyerahan hadiah dijadwalkan berlangsung pada penghujung acara sekitar pukul 21.00 WIB.
Ajang ini bukan hanya tentang siapa yang tercepat, tetapi juga tentang kreativitas, ketekunan, dan semangat kompetisi. Di Terminal Tingkir, Tamiya membuktikan dirinya lebih dari sekadar mainan ia adalah seni, strategi, dan adrenalin dalam satu lintasan. (*)




Tinggalkan Balasan