Telur MBG Berlumur Kotoran Viral! DPRD JATIM Desak Pengawasan Diperketat di Magetan
Laporan: Ninis Indrawati
MAGETAN | SUARAGLOBAL.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya menjadi harapan pemenuhan gizi pelajar, mendadak jadi sorotan. Video temuan telur rebus berlumur kotoran ayam di Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, viral di media sosial dan memicu keprihatinan publik, (25/02/26).
Menanggapi insiden tersebut, Anggota DPRD Jawa Timur, Agus Cahyono atau yang akrab disapa Agus Cah, angkat bicara. Legislator asal Trenggalek ini menegaskan pentingnya pemeriksaan ketat sebelum makanan MBG didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Menurut Agus, secara konsep program MBG sangat baik. Selain memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas, program ini juga didukung anggaran yang memadai untuk memastikan kebutuhan gizi siswa terpenuhi.
Namun, fakta di lapangan berkata lain.
“Secara prinsip program ini sudah bagus. SOP ada, anggaran ada. Tapi kalau masih ditemukan telur berlumur kotoran seperti ini, berarti ada yang lemah dalam pengawasan teknis,” tegas Agus Cah.
Ia menyoroti proses pemeriksaan di dapur penyedia makanan yang dinilai belum maksimal. Seharusnya, sebelum makanan dikirim ke sekolah, tim kontrol melakukan pengecekan menyeluruh, baik dari sisi kebersihan, kualitas bahan baku, hingga kelayakan konsumsi.
“Kalau peristiwa ini sampai terjadi dan lolos distribusi, berarti pengawasannya belum berjalan optimal,” ujarnya.
Tak hanya itu, Agus juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG di Magetan. Ia meminta pihak terkait menelusuri akar persoalan, termasuk kemungkinan keterbatasan kapasitas dapur produksi, beban kerja tenaga pengolah makanan, hingga sistem quality control yang diterapkan.
Menurutnya, jangan sampai program yang memiliki tujuan mulia justru tercoreng karena kelalaian teknis.
“Evaluasi harus menyeluruh. Pastikan makanan yang diterima siswa benar-benar aman, bersih, dan layak dikonsumsi,” tandasnya.
Agus menegaskan, masyarakat tentu mendukung penuh program pemenuhan gizi bagi pelajar. Namun, dukungan itu harus dibarengi tanggung jawab dan pengawasan ketat agar manfaatnya benar-benar dirasakan.
“Program MBG sudah baik. Tinggal penguatan pengawasan di lapangan agar tidak ada lagi kejadian seperti ini,” pungkasnya.
Insiden ini menjadi alarm keras bahwa program sebesar MBG tak hanya soal anggaran dan niat baik, tetapi juga soal disiplin pengawasan dan komitmen menjaga kualitas hingga ke tangan siswa. (*)


Tinggalkan Balasan