Tangis Bahagia di Balik Jeruji, 58 Warga Binaan Lapas Purwodadi Bukber Bareng Keluarga
Laporan: Bayu S
PURWODADI | SUARAGLOBAL.COM – Ramadan 1447 Hijriah menjadi momen istimewa bagi puluhan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Purwodadi. Suasana Aula Ajisaka, Kamis (26/2/2026), berubah menjadi lautan haru ketika rindu yang lama terpendam akhirnya terobati dalam kegiatan buka puasa bersama keluarga.
Sebanyak 58 warga binaan mendapatkan kesempatan langka untuk berbuka puasa bersama orang-orang tercinta. Tak tanggung-tanggung, total 137 anggota keluarga hadir memenuhi aula. Setiap warga binaan dikunjungi maksimal enam anggota keluarga, menciptakan suasana hangat yang begitu terasa di balik tembok pemasyarakatan.
Sejak sore hari, keluarga mulai berdatangan. Proses registrasi dan pemeriksaan dilakukan ketat sesuai prosedur keamanan. Namun, itu tak menyurutkan antusiasme. Senyum, lambaian tangan, hingga tatapan penuh kerinduan menjadi pemandangan yang menyentuh hati.
Saat adzan Maghrib berkumandang, suasana hening sejenak. Doa dipanjatkan bersama. Kurma dan hidangan berbuka disantap berdampingan, menghadirkan kebahagiaan sederhana yang mungkin selama ini hanya bisa dibayangkan.
Kegiatan berlangsung tertib dengan pengawasan langsung dari Kepala Lapas Purwodadi, Erik Murdiyanto, beserta jajaran pejabat struktural dan petugas pengamanan. Pengamanan dilakukan optimal tanpa mengurangi makna kebersamaan yang menjadi ruh utama acara tersebut.
Kepala Lapas, Erik Murdiyanto, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar buka puasa bersama, melainkan bagian penting dari pembinaan kepribadian.
“Momentum Ramadan kami manfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi antara warga binaan dan keluarga. Dukungan keluarga sangat penting dalam proses pembinaan dan reintegrasi sosial,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan emosional yang kuat dengan keluarga menjadi energi positif bagi warga binaan untuk menjalani masa pembinaan dengan lebih baik. Harapannya, saat kembali ke tengah masyarakat, mereka telah siap secara mental dan sosial.
Program ini juga menjadi terobosan agar warga binaan tetap bisa merasakan nuansa Ramadan bersama keluarga, meski dalam keterbatasan. Kehadiran orang tua, pasangan, dan anak-anak menjadi suntikan semangat yang tak ternilai.
Di balik jeruji dan pengamanan ketat, sore itu Aula Ajisaka menjadi saksi bahwa kasih sayang keluarga tak pernah terpenjara. Ramadan benar-benar menghadirkan makna pengampunan, harapan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. (*)



Tinggalkan Balasan