Budaya Bicara Lantang! Sambang Putu Nganjuk Sulap Seni Jadi Laboratorium Sosial

Laporan: Iswahyudi Artya

NGAJUK | SUARAGLOBAL.COM – Suasana hangat penuh gelak tawa sekaligus sarat makna mewarnai kegiatan Sambang Putu yang digelar di Rumah Ilalang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Dalam balutan tema “Jajah Deso Milangkori”, acara ini tampil beda bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ruang refleksi sosial yang hidup dan membumi.

Sorotan utama jatuh pada penampilan Ludruk Garingan yang dibawakan oleh kelompok Meimura. Di atas panggung sederhana, para seniman sukses “menyihir” penonton dengan sajian humor segar yang dibalut kritik sosial tajam namun tetap santun.

Gelak tawa pecah berkali-kali. Namun di balik itu, terselip pesan-pesan kehidupan yang mengajak penonton berpikir. Dari isu keseharian hingga problem sosial, semua dikemas ringan namun mengena.

Baca Juga:  Doa dan Dzikir Bergema di Rutan Salatiga, WBP Perkuat Keimanan Jelang Ramadan

Tak heran, pertunjukan ini menjadi magnet utama dalam kegiatan yang dihadiri berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, tokoh masyarakat, hingga para pegiat budaya.

Panitia memang sengaja merancang Sambang Putu sebagai ruang pertemuan lintas generasi. Tujuannya jelas menghidupkan kembali budaya sebagai sarana dialog dan pembelajaran bersama.

“Budaya bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan,” menjadi semangat yang terasa kuat sepanjang acara.

Sejumlah tokoh budaya seperti Autar Abdillah, Henry Nurcahyo, dan Rego Ilalang turut hadir memperkaya diskusi. Dalam forum yang berlangsung hangat, mereka mengajak peserta untuk melihat budaya sebagai proses hidup yang terus berkembang.

Baca Juga:  Prajurit Sejati Bekerja dengan Hati: Jejak Pengabdian Korem 073/Makutarama Resmi Dibukukan

Menurut mereka, tantangan budaya di era modern semakin kompleks. Gempuran budaya instan dan perubahan nilai sosial menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi bersama.

“Generasi muda harus berani menjaga akar tradisi, tapi juga mampu berinovasi,” menjadi salah satu pesan penting yang mengemuka dalam diskusi tersebut.

Tak hanya berdiskusi, kegiatan ini juga membuka ruang interaksi langsung antar peserta. Dialog mengalir santai, ide-ide bertukar, dan jejaring baru pun terbangun. Inilah yang membuat Sambang Putu terasa lebih hidup bukan sekadar acara, tetapi proses sosial yang nyata.

Sebagai bentuk nyata dukungan terhadap literasi budaya, panitia juga membagikan puluhan buku karya Henry Nurcahyo kepada peserta. Langkah ini diharapkan mampu menumbuhkan minat baca sekaligus memantik kreativitas generasi muda.

Baca Juga:  Polda Jatim Siagakan Tim SAR di Sejumlah Objek Wisata pada Operasi Lilin Semeru

Sambang Putu pun menjadi bukti bahwa budaya lokal masih memiliki daya hidup yang kuat. Tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu menjadi media komunikasi sosial yang efektif.

Di Rumah Ilalang, budaya benar-benar menjelma menjadi laboratorium sosial—tempat masyarakat belajar, berefleksi, dan mencari solusi bersama atas tantangan zaman.

Dengan semangat kebersamaan yang terbangun, Sambang Putu menegaskan satu hal penting: budaya tidak pernah usang ia terus hidup, bergerak, dan relevan bagi kehidupan masyarakat hari ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!