Negara Hadir! Sinergi Tiga Kementerian Wujudkan Sekolah Ramah Anak dan Bebas Kekerasan

Laporan: Yopi

JAKARTA | SUARAGLOBAL.COM — Komitmen negara dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak kembali ditegaskan pemerintah. Melalui sinergi lintas kementerian, perlindungan murid kini tidak hanya difokuskan pada aspek akademik, tetapi juga menyentuh kesehatan mental, kenyamanan psikologis, hingga pembentukan karakter berbasis kasih sayang.

Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Nasional Hari Pendidikan Nasional bertema “Sinergi Perlindungan Anak di Dunia Pendidikan: Gerakan Satuan Pendidikan Ramah Anak, Aman, dan Nyaman” yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Kamis (7/5/2026).

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pemerintah tengah membangun budaya sekolah yang benar-benar berpihak kepada murid melalui penerapan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Menurutnya, sekolah masa kini tidak cukup hanya bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga harus mampu menghadirkan ruang belajar yang sehat secara mental dan emosional bagi peserta didik.

“Sekolah merupakan etalase tempat kita membangun masa depan anak bangsa. Melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, kami menekankan bahwa rasa aman bukan hanya soal fisik, tapi juga kenyamanan mentalitas. Kolaborasi lintas sektor ini membuktikan bahwa negara hadir secara utuh untuk melindungi murid di mana pun mereka belajar,” tegas Fajar.

Baca Juga:  Junjung Tinggi Persatuan dan Kesatuan, Pemuda Merga Silima Gelar Deklarasi Pemilu Damai 2024

Ia menjelaskan, tantangan dunia pendidikan semakin kompleks, mulai dari perundungan, kekerasan verbal, hingga ancaman di ruang digital. Karena itu, sinergi antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, serta KemenPPPA menjadi langkah strategis agar perlindungan terhadap anak berjalan menyeluruh.

“Semua irisan tugas dan fungsi kementerian ini bermuara pada satu tujuan besar, yakni kepentingan terbaik bagi murid,” tambahnya.

Senada dengan itu, Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa perlindungan terhadap murid juga diperkuat melalui pendekatan nilai dan karakter lewat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Menurut Nasaruddin, nilai kasih sayang yang ditanamkan sejak dini akan menjadi benteng utama untuk mencegah lahirnya perilaku kekerasan di lingkungan sekolah.

“Kurikulum Cinta ini menyasar ukhuwah makhlukiyah, yaitu rasa persaudaraan sesama makhluk Tuhan. Jika rasa cinta sudah tertanam, maka murid akan saling melindungi dan menghargai lingkungan sekolahnya,” jelas Nasaruddin Umar.

Baca Juga:  Kapolsek Medan Area, Dampingi Wakapolres Medan Area Sambang Binluh Program Kampung Bersinar

Ia menilai, murid yang memiliki empati tinggi terhadap sesama akan lebih mampu menjaga hubungan sosial secara sehat dan menjauh dari tindakan menyakiti orang lain.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menyebut perlindungan anak tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Menurutnya, kolaborasi seluruh elemen menjadi kunci utama menciptakan sekolah yang aman, inklusif, dan penuh cinta.

“Regulasi sehebat apa pun, baik dari sisi pendidikan umum maupun keagamaan, tidak akan efektif tanpa kolaborasi semesta. Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiap murid tumbuh di lingkungan yang aman, inklusif, dan penuh cinta,” ujar Arifah.

Tak hanya berhenti pada tataran kebijakan, pemerintah juga mulai menerapkan langkah konkret di lapangan. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, memaparkan perubahan paradigma dalam pencegahan kekerasan di sekolah.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan ialah sistem “Guru Wali”. Dalam sistem ini, seluruh murid dibagi kepada guru-guru yang ada di sekolah agar setiap anak memiliki pendamping personal.

Baca Juga:  Warga PSHT Kedunggalar Ngawi, Lakukan Pembongkaran Tugu di Tempat Umum

Pendekatan tersebut dinilai efektif untuk mengurangi potensi kekerasan maupun konflik antarmurid karena guru dapat lebih cepat mendeteksi perubahan perilaku siswa.

“Dengan sistem guru wali, setiap murid memiliki pendamping personal yang peka terhadap perubahan perilaku mereka, sehingga potensi masalah dapat dideteksi sebelum menjadi konflik,” ungkap Gogot.

Praktik baik juga datang dari dunia pendidikan dasar. Kepala SDN Kawarang Wetan 1, Yeni Mulyani, memperkenalkan inovasi “Alis Berdiri” atau literasi digital mandiri serta pembentukan duta Sekolah Ramah Anak (SRA).

Program tersebut mendorong keterlibatan aktif murid dalam menciptakan lingkungan sekolah yang tertib, bersih, dan menyenangkan melalui pendekatan kreatif dan partisipatif.

Dialog nasional ini sekaligus menjadi penegasan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan negara dan masyarakat menghadirkan rasa aman bagi setiap anak Indonesia.

Pemerintah berharap gerakan budaya sekolah aman dan nyaman dapat menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!