Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM – Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga kembali mencatat sejarah penting dalam dunia pendidikan nasional. Sebanyak 3.167 Guru Profesional Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Batch 4 Tahun 2025 resmi dikukuhkan dalam prosesi Pengukuhan dan Pengambilan Sumpah Guru Profesional yang berlangsung khidmat di Auditorium Student Center Prof. Dr. H. Achmadi, Kampus 3 UIN Salatiga, Sabtu (20/6/2026).

Momentum tersebut menjadi puncak perjuangan ribuan pendidik yang telah berhasil menuntaskan seluruh tahapan Pendidikan Profesi Guru dan dinyatakan lulus Uji Kompetensi Mahasiswa PPG (UKMPPG). Dengan pengukuhan ini, mereka resmi menyandang status sebagai guru profesional yang memiliki kompetensi dan legitimasi untuk menjalankan tugas pendidikan secara lebih berkualitas.

Suasana haru dan bangga tampak menyelimuti prosesi yang dihadiri peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ribuan guru yang hadir secara langsung maupun daring mengikuti pengambilan sumpah sebagai bentuk komitmen moral dalam menjalankan profesi mulia sebagai pendidik bangsa.

Acara semakin istimewa dengan kehadiran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd. yang juga merupakan alumni UIN Salatiga.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Wihaji menyampaikan orasi ilmiah sekaligus melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kemendukbangga/BKKBN dengan UIN Salatiga.

Kerja sama tersebut ditujukan untuk memperkuat implementasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) melalui jalur pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Turut mendampingi Menteri Wihaji dalam kunjungan kerja tersebut antara lain Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Wahyuniati, S.IP., MPH., Staf Khusus Kemendukbangga/BKKBN Drh. Triyaka Lisdiyanta, M.Si., Plt Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Dr. Yuni Hastutiningsih, SKM., M.Kes., serta Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Ir. Rusman Efendi, M.M.

Baca Juga:  Gropyokan Tikus di Sragen: Petani, Babinsa, dan Senjata Seadanya Melawan Hama Sawah

Dalam orasinya, Wihaji menegaskan bahwa sekolah dan keluarga merupakan dua fondasi utama dalam membentuk generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah semata. Keluarga memiliki peran yang sama penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.

“Keluarga dan sekolah adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Bangsa ini tidak akan pernah bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045 jika kedua pilar tersebut berjalan sendiri-sendiri,” tegas Wihaji.

Ia menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi guru saat ini jauh lebih berat dibandingkan masa lalu. Selain bertanggung jawab menyelesaikan target kurikulum, guru juga harus menghadapi berbagai persoalan sosial yang muncul akibat perkembangan teknologi dan perubahan zaman.

Wihaji menyoroti berbagai persoalan yang saat ini mengancam perkembangan mental dan karakter anak-anak Indonesia.

Mulai dari maraknya praktik judi online, paparan pornografi digital, perundungan siber (cyberbullying), hingga menurunnya kualitas komunikasi dalam keluarga akibat tekanan ekonomi.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat guru memiliki tanggung jawab yang semakin besar dalam menjaga dan membimbing peserta didik.

“Tantangan guru zaman sekarang sangat kompleks dan melampaui target mengejar ketertinggalan kurikulum. Para pendidik kini berhadapan langsung dengan isu kontemporer yang mengintai mentalitas anak,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Wihaji juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kini semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi, peran guru tetap tidak tergantikan.

Menurutnya, teknologi memang mampu membantu siswa memperoleh pengetahuan dengan cepat, namun pendidikan karakter, moral, dan spiritual tetap membutuhkan sentuhan manusia.

“Untuk mencari ilmu atau transfer of knowledge, anak-anak bisa memanfaatkan AI atau Google. Oleh karena itu, tugas utama guru hari ini adalah transfer of values, yaitu menanamkan karakter, moral, dan jangkar spiritual,” tandasnya.

Baca Juga:  Polisi Berhasil Ringkus Komplotan Pencuri yang Beraksi di 21 Lokasi, Termasuk Anak Dibawah Umur di Blitar Kota 

Karena itu, ia berharap para guru profesional yang baru dikukuhkan mampu menjadi figur teladan sekaligus penghubung aktif antara sekolah dan keluarga.

Melalui penandatanganan MoU, Wihaji berharap program Bangga Kencana dapat masuk dan berkembang dalam lingkungan pendidikan.

Ia menilai sekolah merupakan salah satu sarana paling efektif untuk membangun kesadaran keluarga berkualitas dan memperkuat karakter generasi muda.

“Melalui MoU ini, program Bangga Kencana akan diintegrasikan ke dalam jalur pendidikan. Saya menitipkan pesan agar para guru mampu menjadi jembatan komunikasi yang aktif dengan orang tua murid,” katanya.

Rektor UIN Salatiga, Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag., menyampaikan bahwa pesan yang dibawa Menteri Wihaji sangat relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.

Menurutnya, guru profesional tidak cukup hanya menjadi pengajar, tetapi juga harus menjadi pembimbing karakter dan penjaga nilai-nilai spiritual peserta didik.

“Generasi emas di sekolah harus tetap ditopang oleh keluarga yang kokoh, dan guru profesional adalah jembatan utamanya,” ujar Zakiyuddin.

Ia mengingatkan bahwa derasnya pengaruh negatif yang masuk melalui gawai menuntut guru untuk hadir sebagai penyeimbang.

“Guru wajib mengajarkan ilmu sekaligus membimbing karakter dan spiritualitas siswa. Di tengah gempuran nilai-nilai luar yang merusak lewat gawai, guru harus mampu menjadi oase bagi anak didik,” tegasnya.

Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI, Dr. M. Munir, S.Ag., M.Ag., turut memberikan pesan kepada para guru yang baru dikukuhkan.

Ia menegaskan bahwa sertifikat pendidik bukan sekadar dokumen administratif, melainkan simbol tanggung jawab moral yang harus dijaga sepanjang karier sebagai pendidik.

Baca Juga:  Muh Haris Gaungkan Pendidikan Karakter di Forum AGPPI Jateng: Pancasila Harus Tertanam Kuat pada Generasi Muda

Menurut Munir, guru masa kini dituntut menguasai kompetensi keilmuan sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital.

“Sertifikat ini adalah legitimasi kompetensi Saudara di tengah masyarakat. Guru harus menguasai konten keilmuan secara mendalam sekaligus adaptif terhadap teknologi,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Salatiga, Prof. Dr. Rasimin, M.Pd., menjelaskan bahwa seluruh peserta yang dikukuhkan telah berhasil lulus UKMPPG.

Dari total 3.167 peserta, sebanyak 1.766 orang mengikuti prosesi secara langsung di lokasi acara, sedangkan sisanya mengikuti secara daring melalui Zoom.

Peserta luring didominasi oleh Program Studi Guru Kelas MI sebanyak 535 orang dan Guru Kelas RA sebanyak 371 orang. Selebihnya berasal dari Program Studi Bahasa Arab, Akidah Akhlak, Quran Hadis, Pendidikan Agama Islam, Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam.

Rasimin juga mengungkap kisah inspiratif dari dua peserta yang menjadi simbol semangat belajar tanpa batas usia.

Lulusan termuda adalah Dewi Fatimah, guru Kelas MI asal Probolinggo yang lahir pada 14 Desember 2001 dan berhasil menyelesaikan PPG di usia 24 tahun.

Sedangkan lulusan tertua adalah Talfiyati, guru Pendidikan Agama Islam asal Salatiga yang lahir pada 15 Mei 1968 dan sukses meraih sertifikasi profesional pada usia 58 tahun.

“Kehadiran kedua sosok ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi untuk menjadi pendidik profesional tidak mengenal batas usia,” pungkas Rasimin.

Pengukuhan ribuan guru profesional ini sekaligus menjadi penegasan bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan, sosok guru tetap menjadi ujung tombak pendidikan karakter bangsa. Sebab, ilmu pengetahuan bisa dicari melalui mesin pencari, namun nilai kehidupan, moralitas, dan keteladanan tetap membutuhkan sentuhan seorang guru.