Ditreskrimsus Polda Jateng Akan Turun Tangan Selidiki Kelangkaan Daging Sapi di Salatiga, Polisi Akan Tidak Tegas Bila Ada Pelanggan

Laporan: Andy Saputra
SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM – Kelangkaan daging sapi yang melanda Kota Salatiga kini memasuki babak baru. Setelah para pedagang daging sapi melakukan aksi mogok berjualan selama lima hari akibat minimnya pasokan dan tingginya harga pembelian sapi potong, aparat kepolisian mulai turun tangan untuk mengusut penyebab pasti krisis yang mengganggu roda perekonomian masyarakat tersebut.
Polda Jawa Tengah melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) membuka kemungkinan melakukan penyelidikan terhadap dugaan praktik penimbunan maupun permainan harga yang berpotensi memperparah kelangkaan daging sapi di pasaran.
Langkah ini dilakukan menyusul semakin meluasnya dampak krisis yang tidak hanya dirasakan pedagang daging, tetapi juga pelaku usaha kuliner hingga masyarakat sebagai konsumen akhir.
Kasubdit 1 Industri, Perdagangan dan Investasi (Indagsi) Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Muhammad Solikhin Fery, menegaskan pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan Satgas Pangan Polres Salatiga guna memetakan akar persoalan yang menyebabkan distribusi sapi potong terganggu.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Satgas Polres Salatiga melalui Kasatreskrim selaku Kasatgas di daerah. Mereka sudah melakukan langkah-langkah antisipasi bersama stakeholder terkait,” ujar Fery kepada Suaraglobal.com Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, penanganan persoalan tersebut melibatkan berbagai instansi terkait, mulai dari Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian hingga Dinas Perdagangan. Tujuannya untuk memastikan apakah kelangkaan yang terjadi murni akibat berkurangnya pasokan sapi dari daerah pemasok atau terdapat faktor lain yang mempengaruhi distribusi serta harga di lapangan.
Pihak kepolisian tidak ingin berspekulasi sebelum memperoleh data yang lengkap. Karena itu, proses mitigasi dan pemetaan masalah menjadi langkah awal sebelum menentukan tindakan lebih lanjut.
“Tentunya kita akan melakukan mitigasi dulu penyebabnya apa dan apakah ada penimbunan serta permainan yang nantinya akan dilakukan pengambilan sikap atau tindakan sesuai porsinya,” tegas Fery.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa aparat tidak akan tinggal diam apabila ditemukan indikasi pelanggaran yang merugikan masyarakat.
Fery menegaskan, jika hasil penyelidikan mengarah pada adanya pelanggaran hukum, aparat akan mengambil langkah bertahap mulai dari pembinaan hingga penegakan hukum.
“Akan dilakukan nantinya teguran secara administrasi atau bisa langsung mengedepankan aspek-aspek pidana. Tetapi yang pasti kami selalu mengedepankan upaya-upaya peringatan terlebih dahulu, kemudian teguran tertulis, dan penegakan hukum menjadi langkah terakhir,” jelasnya.
Dampak krisis pasokan sapi kini mulai terasa di berbagai sektor usaha. Tidak hanya los daging di pasar yang terlihat sepi, sejumlah pelaku usaha kuliner berbahan baku daging sapi juga mulai mengalami kesulitan serius.
Dalam pertemuan yang digelar di Los Daging Sapi Pasar Raya I Salatiga pada Rabu (24/6/2026), para pedagang daging, pelaku usaha kuliner dan Dinas Perdagangan Kota Salatiga membahas kondisi pasokan yang semakin mengkhawatirkan.
Ketua Paguyuban Pedagang Bakso Rukun Santoso Kota Salatiga, Warno, mengungkapkan bahwa beberapa pedagang bakso terpaksa menghentikan produksi karena tidak lagi memperoleh pasokan daging.
“Kami sangat terdampak. Biasanya setiap hari membutuhkan daging dalam jumlah tertentu untuk produksi bakso, tetapi sekarang sulit mendapatkan barang. Stok yang ada sudah habis sehingga ada yang terpaksa tidak berjualan, padahal mempunyai 20 karyawan,” ungkap Warno.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya mengancam keberlangsungan usaha, tetapi juga berdampak pada nasib para pekerja yang menggantungkan penghasilan dari usaha bakso.
Kelangkaan daging sapi juga mulai menghantam rumah makan Padang di Salatiga. Beberapa pelaku usaha mengaku terpaksa menghapus sementara menu berbahan dasar daging sapi karena stok yang tersedia sudah habis.
Menu andalan seperti rendang yang selama ini menjadi favorit pelanggan terpaksa tidak lagi disajikan. Kondisi ini membuat sejumlah pelaku usaha khawatir kehilangan pelanggan apabila krisis berlangsung lebih lama.
Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Kota Salatiga, Apri, menjelaskan bahwa aksi mogok yang dilakukan pedagang bukanlah bentuk protes semata, melainkan langkah untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Menurutnya, pasokan sapi potong dari berbagai daerah pemasok terus mengalami penurunan. Di saat yang sama, harga pembelian sapi hidup justru melonjak cukup tinggi.
Kondisi tersebut membuat pedagang kesulitan menentukan harga jual yang wajar kepada konsumen. Jika harga dinaikkan terlalu tinggi, pembeli akan keberatan. Namun jika dipertahankan, pedagang terancam merugi.
“Pasokan terus berkurang sementara harga sapi naik. Situasi ini membuat kami kesulitan berjualan secara normal,” ujarnya.
Menghadapi situasi tersebut, Pemerintah Kota Salatiga bergerak cepat dengan meminta bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mencari daerah yang memiliki surplus sapi.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Salatiga, Agung Pitoyo, mengatakan kebutuhan sapi di Salatiga selama ini masih sangat bergantung pada daerah lain sehingga rentan mengalami gangguan pasokan.
“Salatiga tidak dapat mencukupi kebutuhan sapi secara mandiri. Karena itu kami mengusulkan kepada provinsi agar daerah-daerah penghasil sapi yang memiliki stok lebih dapat membantu memasok kebutuhan ke Salatiga,” katanya.
Pemerintah berharap langkah tersebut dapat mempercepat pemulihan distribusi sapi potong sehingga aktivitas perdagangan kembali normal.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan pedagang dan pelaku usaha kuliner, tetapi juga masyarakat luas yang harus menghadapi keterbatasan pasokan serta potensi kenaikan harga daging sapi di pasaran. (*)








Tinggalkan Balasan