Kolaborasi BUMD Jadi Kunci, Bank Jatim Perkuat Ekonomi Jawa Timur Lewat Transformasi Total

Laporan: Ninis Indrawati
SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) terus mempercepat langkah transformasi bisnis demi memperkuat perannya sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Dengan mengusung strategi transformasi lima pilar serta mempererat kolaborasi bersama berbagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Bank Jatim menargetkan diri menjadi Bank Pembangunan Daerah (BPD) nomor satu di Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan Asisten Vice President Manajemen Investor Bank Jatim, Derry Widya Ariyanta, saat menjadi narasumber dalam Diskusi Publik Sinergi BUMD Menjelang Penetapan Tambahan Modal Jamkrida bertema Memperkuat Kolaborasi BUMD Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah dan UMKM Jawa Timur yang digelar Pokja Indrapura.
Dalam kesempatan itu, Derry menyampaikan apresiasi terhadap rencana penyertaan modal kepada salah satu BUMD yang dinilai akan memperkuat kapasitas usaha perusahaan daerah sekaligus memperbesar kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi.
“Saya mengucapkan selamat atas rencana penyertaan modal tersebut. Ini menjadi langkah penting untuk memperkuat BUMD dalam menjalankan fungsi pembangunan ekonomi daerah,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (1/7/2026).
Derry mengungkapkan, Bank Jatim terakhir kali menerima penyertaan modal dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 2012. Saat itu, prosesnya berlangsung cukup dinamis lantaran bersamaan dengan persiapan Bank Jatim melantai di Bursa Efek Indonesia sebagai perusahaan terbuka.
Menurutnya, dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan DPRD Jawa Timur menjadi faktor penting hingga proses tersebut berjalan sukses.
“Terakhir kami memperoleh penyertaan modal pada 2012. Saat itu prosesnya cukup dinamis karena kami sedang bertransformasi menjadi perusahaan terbuka. Berkat dukungan Pemerintah Provinsi dan DPRD Jawa Timur, proses tersebut berjalan dengan baik hingga akhirnya Bank Jatim resmi menjadi perusahaan publik,” jelasnya.
Sejak resmi tercatat di pasar modal pada 2012, sekitar 20 persen saham Bank Jatim dimiliki publik, sedangkan 80 persen lainnya tetap menjadi milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten dan kota se-Jawa Timur.
Saat ini, sekitar 18 persen saham publik dimiliki investor domestik, sedangkan sisanya merupakan investor asing. Saham Bank Jatim sendiri diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten BJTM.
Derry menegaskan, visi besar Bank Jatim bukan hanya menjadi bank daerah terbesar dari sisi aset, melainkan juga menjadi BPD paling unggul dalam kontribusi terhadap pembangunan daerah, kinerja laba, hingga kapasitas organisasi.
Menurutnya, manajemen telah menyusun roadmap yang terukur dengan berbagai indikator pencapaian.
“Kami sudah menetapkan roadmap yang terukur dan komprehensif untuk menjadi BPD nomor satu di Indonesia. Setiap indikator memiliki milestone masing-masing, tetapi seluruhnya bermuara pada tujuan yang sama,” ungkapnya.
Didirikan pada 17 Agustus 1961, Bank Jatim kini didukung sekitar 7.543 insan Bank Jatim, baik pegawai tetap maupun kontrak.
Seluruh karyawan dibekali budaya perusahaan yang dikenal dengan nilai Expresi, yakni Excellent, Professional, Integrity, Synergy, dan Innovation.
“Kami berharap seluruh insan Bank Jatim menjalankan nilai-nilai tersebut sebagai fondasi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.
Untuk memperkuat pelayanan kepada masyarakat, Bank Jatim terus mengembangkan jaringan operasionalnya. Saat ini perusahaan memiliki satu kantor pusat, 49 kantor cabang, puluhan kantor cabang pembantu, kantor kas, layanan syariah, payment point, mobil kas keliling, jaringan ATM, Cash Recycling Machine (CRM), hingga ribuan agen Laku Pandai.
Selain kantor cabang di Jakarta dan Batam, Bank Jatim juga tengah mempersiapkan pembukaan kantor cabang baru di Balikpapan sebagai bagian dari strategi memperluas layanan menuju kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Insyaallah dalam waktu dekat kami akan membuka kantor cabang di Balikpapan sebagai bagian dari pengembangan jaringan sekaligus mendukung kawasan Gerbang Nusantara,” tutur Derry.
Perjalanan transformasi Bank Jatim dimulai sejak 1999 ketika status perusahaan diubah menjadi Perseroan Terbatas sebagai respons terhadap krisis sektor keuangan nasional.
Transformasi berlanjut pada 2012 melalui pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia. Kemudian pada 2025, Bank Jatim dipercaya menjadi Anchor Bank dalam Kelompok Usaha Bank (KUB) yang membina lima Bank Pembangunan Daerah lainnya.
“Kepercayaan sebagai Anchor Bank menjadi tantangan sekaligus peluang bagi kami untuk memperkuat kapasitas dan mendampingi lima BPD yang menjadi bagian dari kelompok usaha Bank Jatim,” ujarnya.
Dalam mewujudkan target menjadi BPD terbaik di Indonesia, Bank Jatim menjalankan transformasi melalui lima pilar utama.
Kelima pilar tersebut meliputi penguatan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko, optimalisasi ekosistem bisnis konvensional maupun syariah, pengembangan sumber daya manusia, transformasi digital berbasis teknologi informasi, serta penguatan bisnis dan permodalan.
“Transformasi ini menjadi fondasi utama agar Bank Jatim mampu tumbuh berkelanjutan sekaligus menjadi BPD terbaik di Indonesia,” tegas Derry.
Dalam mendukung pembangunan ekonomi Jawa Timur, Bank Jatim membangun sinergi melalui tiga ekosistem utama, yakni pemerintah daerah, UMKM, dan sektor swasta.
Menurut Derry, kekuatan terbesar Bank Jatim memang berada pada ekosistem pemerintah daerah. Dari sana, kolaborasi terus diperluas bersama pelaku UMKM, termasuk melalui kerja sama dengan Jamkrida, hingga penguatan kemitraan bersama sektor swasta.
“Kekuatan utama kami memang berada di ekosistem pemerintah daerah. Dari sana kami memperluas sinergi dengan UMKM, termasuk bersama Jamkrida, serta mengembangkan kerja sama dengan sektor swasta sehingga seluruh ekosistem saling menguatkan,” jelasnya.
Di sektor pembiayaan, Bank Jatim membagi portofolio kredit menjadi dua kelompok besar, yakni kredit konsumer yang mencakup pembiayaan ASN, kredit kendaraan bermotor, dan KPR, serta kredit nonkonsumer yang meliputi pembiayaan UMKM, komersial, korporasi, hingga pemerintah daerah.
Derry menegaskan, UMKM tetap menjadi salah satu sektor prioritas Bank Jatim karena memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Jawa Timur.
“UMKM tetap menjadi salah satu sektor prioritas kami karena memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Jawa Timur. Karena itu, sinergi antarlembaga menjadi kunci agar akses pembiayaan semakin kuat dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya. (*)








Tinggalkan Balasan