Laporan: Heru Santoso

KAB. SEMARANG | SUARAGLOBAL.COM – Nuansa budaya dan kearifan lokal begitu terasa dalam puncak peringatan Hari Jadi ke-321 Ambarawa. Kirab budaya dan Jamasan Pusaka digelar meriah dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah desa dan kelurahan, pegiat seni, komunitas warga, hingga tokoh budaya.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu malam, 9 September 2026, tersebut semakin istimewa dengan kehadiran langsung Bupati Semarang H Ngesti Nugraha. Orang nomor satu di Kabupaten Semarang itu turut mengikuti rangkaian Wilujengan dan Syukuran Hari Jadi ke-321 Ambarawa yang dipusatkan di Pendopo Grha Abdi Praja, Kantor Kecamatan Ambarawa.

Rangkaian kirab diawali dari Gedung Kesenian Ambarawa yang merupakan bekas Kantor Kecamatan Ambarawa di wilayah Kelurahan Panjang, Jalan Sugijopranoto. Dari lokasi tersebut, rombongan berjalan kaki menuju Kantor Kecamatan Ambarawa yang berada di wilayah Kelurahan Kranggan, Jalan Cipto Mangunkusumo, dengan jarak sekitar satu kilometer.

Suasana kirab semakin semarak karena peserta mengenakan pakaian adat Jawa. Barisan masyarakat berjalan beriringan membawa pusaka yang selama ini tersimpan di Museum Jayaningrat Ambarawa.

Tak hanya pusaka, kirab juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seni budaya. Penampilan barongsai dari Genta Suci Ambarawa turut menjadi perhatian masyarakat. Selain itu, sejumlah kelompok seni budaya dari desa dan kelurahan se-Kecamatan Ambarawa ikut ambil bagian.

Barisan Komunitas Wanita Berkebaya (KWB), Pasukan Bregada, Lembaga Kesenian Kecamatan (LKK) Ambarawa, serta para tokoh seni dan budaya dari Ambarawa dan sekitarnya juga ikut memeriahkan prosesi tersebut.

Ketua Panitia Hari Jadi ke-321 Ambarawa, Ali Sueb, mengatakan kirab budaya menjadi salah satu rangkaian utama sekaligus puncak peringatan Hari Jadi Ambarawa.

Baca Juga:  Polres Nganjuk Dukung Pembangunan Dapur Gizi di Pace, Kapolres Tekankan Peran Pemuda Jaga Kondusifitas

Menurutnya, pemilihan Gedung Kesenian Ambarawa sebagai titik awal kirab bukan tanpa alasan. Lokasi tersebut merupakan kantor Kecamatan Ambarawa pada masa lalu yang kini dimanfaatkan sebagai ruang kegiatan kesenian.

“Kirab ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik dari perwakilan desa dan kelurahan, kelompok seni budaya, komunitas warga, dan para pegiat seni budaya di Ambarawa,” ujar Ali Sueb sebelum pemberangkatan kirab.

Ia menjelaskan, seluruh peserta kemudian berjalan kaki menuju kantor kecamatan yang baru. Prosesi tersebut dikemas dalam konsep Wilujengan dan Syukuran yang berlangsung secara sederhana, tetapi sarat makna.

Setibanya di Pendopo Grha Abdi Praja, rombongan kirab kemudian mengikuti acara dengan duduk lesehan. Acara dipandu menggunakan bahasa Jawa oleh pembawa acara, Pak Ali dan Bu Ning, sehingga nuansa tradisi semakin terasa.

Camat Ambarawa Wahyu Pito Nugroho menegaskan bahwa pelaksanaan peringatan Hari Jadi ke-321 Ambarawa sengaja dikemas sederhana. Kegiatan tersebut terlaksana dengan dukungan dan swadaya berbagai komponen masyarakat Kecamatan Ambarawa.

Menurutnya, kesederhanaan bukan berarti mengurangi makna perayaan. Justru, momentum tersebut menjadi gambaran nyata kekompakan dan semangat gotong royong masyarakat.

“Acara ini digelar secara sederhana namun membawa arti dan maksud yang luas. Yakni dengan menonjolkan sikap kegotongroyongan masyarakat maupun kekompakan berbagai komponen masyarakat di Ambarawa,” ungkap Wahyu.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut sepenuhnya dipandegani oleh para pegiat seni budaya Ambarawa, khususnya mereka yang tergabung dalam Lembaga Kesenian Kecamatan (LKK) Ambarawa.

Semangat kebersamaan itu diharapkan tidak hanya muncul saat perayaan Hari Jadi, tetapi terus menjadi kekuatan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Sentuh Hati Warga Balongbendo, Wabup Mimik Idayana Tinjau Rumah Tak Layak Huni dan Janjikan Renovasi Cepat

“Acara ini dipandegani sepenuhnya oleh pegiat seni budaya Ambarawa khususnya yang tergabung dalam Lembaga Kesenian Kecamatan (LKK) Ambarawa. Kebersamaan dan kekompakan ini menjadi perwujudan sikap gotong royong masyarakat yang harus dijunjung tinggi masyarakat Ambarawa,” tegasnya.

Kehadiran Bupati Semarang H Ngesti Nugraha menjadi salah satu momen penting dalam perayaan tersebut.

Dalam sambutannya, Ngesti mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan. Menurutnya, kebersamaan warga merupakan modal penting dalam mendorong pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Marilah, kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat ini harus terus dipertahankan untuk mendorong kemajuan Kecamatan Ambarawa,” kata Ngesti.

Ia menegaskan, persatuan masyarakat menjadi kekuatan penting untuk mewujudkan kesejahteraan bersama sekaligus membawa Kecamatan Ambarawa semakin maju.

Di hadapan masyarakat, Bupati Ngesti juga menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Semarang memberikan dukungan dana sebesar Rp20 juta untuk kegiatan peringatan Hari Jadi Ambarawa.

Menariknya, momentum perayaan tersebut juga dimanfaatkan untuk menggalang kepedulian sosial melalui donasi air bersih. Dana yang terkumpul nantinya akan disumbangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Semarang.

Dari donasi masyarakat tersebut terkumpul dana kurang lebih Rp2 juta.

Setelah prosesi kirab selesai, acara memasuki inti kegiatan, yakni Jamasan Pusaka.

Sejumlah pusaka yang selama ini tersimpan di Museum Jayaningrat Ambarawa dikeluarkan untuk mengikuti prosesi. Di antaranya keris, tombak, dan sejumlah pusaka lainnya.

Pusaka-pusaka tersebut merupakan bagian dari koleksi yang berasal dari sumbangan masyarakat.

Jamasan Pusaka menjadi salah satu tradisi yang mempertegas upaya masyarakat Ambarawa dalam menjaga warisan budaya sekaligus mengenalkan nilai sejarah kepada generasi berikutnya.

Baca Juga:  Sumut Siap Sambut Pilkada Serentak: Pj. Gubernur Agus Fatoni dan Forkopimda Lepas Personel Pengamanan TPS

Prosesi berlangsung dalam suasana khidmat. Masyarakat yang hadir menyaksikan jalannya acara sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-321 Ambarawa.

Usai prosesi Jamasan Pusaka, suasana berubah menjadi lebih semarak. Sebuah Gunungan Ageng berisi aneka sayuran dan hasil bumi kemudian diperebutkan masyarakat.

Bupati Semarang H Ngesti Nugraha secara langsung membuka prosesi tersebut. Ditandai dengan pemberian sayuran secara simbolis kepada warga, masyarakat kemudian dipersilakan mengambil berbagai hasil bumi yang terdapat dalam gunungan.

Tradisi rebutan gunungan ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Selain menghadirkan kegembiraan, gunungan hasil bumi juga menggambarkan rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki serta hasil pertanian.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan hiburan kesenian tradisional. Masyarakat disuguhi pertunjukan reog dari Kelompok Seni Kupang Sari.

Tak berhenti di situ, penampilan tari dari Sanggar Seni Kemrincing Kupang Lor dan Sanggar Seni Sarasvati Widiasmara Kupang Jetis turut menghidupkan suasana.

Sanggar Seni Sarasvati Widiasmara Kupang Jetis diketahui dipimpin Briptu Adi Qori Kurniawan yang juga merupakan anggota Polres Semarang.

Puncak Hari Jadi ke-321 Ambarawa tersebut akhirnya menjadi sebuah perayaan yang bukan sekadar seremoni. Kirab pusaka, pakaian adat, kesenian tradisional, Jamasan Pusaka, hingga rebutan gunungan menjadi satu rangkaian yang menggambarkan kuatnya akar budaya masyarakat.

Lebih dari itu, semangat gotong royong yang ditunjukkan masyarakat menjadi pesan utama dari perayaan tersebut: menjaga budaya sekaligus merawat persatuan untuk membangun Ambarawa dan Kabupaten Semarang yang semakin maju. (*)