Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM– Lima personel terbaik Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) bersiap mengibarkan nama Indonesia di panggung internasional. Mereka terpilih menjadi bagian dari Kontingen Garuda Bhayangkara Formed Police Unit (FPU) 8 MINUSCA yang akan menjalankan misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Republik Afrika Tengah atau Central African Republic (CAR).

Kelima personel tersebut adalah Ipda Dwi Adianto, S.H., Brigpol Herlambang Priyo Trapsilo, S.H., M.H., Brigpol Bagus Firmansyah Aditya, S.Kep., Ns., Brigpol Farhana Rizka Isnaini, S.M., dan Brigpol Wininda Puspita Hapsari Langgeng, S.H.

Penugasan tersebut bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Para personel akan membawa nama Indonesia, Polri, sekaligus Polda Jatim dalam sebuah misi internasional yang menuntut kemampuan profesional, kedisiplinan, kemampuan bekerja dalam tim, serta kesiapan menghadapi lingkungan tugas yang berbeda dengan kondisi di Tanah Air.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol. Jules Abraham Abast, mengatakan kelima personel tersebut telah melewati serangkaian proses persiapan dan pembinaan secara intensif sebelum diberangkatkan ke wilayah misi.

“Mereka telah mengikuti berbagai tahapan persiapan untuk memastikan kesiapan yang matang, baik dari aspek kemampuan individu maupun soliditas sebagai satu kesatuan Formed Police Unit,” ujar Kombes Pol Abast.

Baca Juga:  Saparan Tegalrejo: Tradisi Turun-Temurun yang Menyihir Ribuan Warga dan Pengunjung

Tiga Tahap Pelatihan Intensif

Sebelum diterjunkan ke wilayah operasi, seluruh kontingen wajib menjalani Pre-Deployment Training (PDT) FPU 8 MINUSCA. Pelatihan tersebut dilaksanakan dalam tiga tahapan dengan durasi yang cukup panjang.

Tahap pertama berlangsung selama 40 hari, kemudian dilanjutkan tahap kedua selama 52 hari, dan tahap ketiga selama 30 hari.

Rangkaian pelatihan tersebut dirancang untuk membentuk kesiapan personel, baik dalam menghadapi situasi operasional maupun menjalankan fungsi kepolisian dalam lingkungan misi perdamaian internasional.

Berbagai materi taktis dan operasional diberikan kepada para personel. Di antaranya Police Tactics and Techniques, Public Order Management, Firearms Training, Tactical Driving, serta berbagai materi terkait fungsi operasional dan logistik.

Tidak berhenti pada kemampuan dasar kepolisian, para peserta juga mendapatkan pembekalan pada sejumlah fungsi khusus yang dibutuhkan dalam struktur FPU.

Di antaranya Minpers, Liaison Officer, General Affair, Duty Officer, tim medis, SWAT, sniper, hingga kemampuan sebagai instruktur FPU.

Beragam materi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan personel agar mampu bekerja secara terintegrasi ketika menjalankan tugas di lapangan.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Hadiri Perayaan 80 Tahun Kemenangan Tiongkok, Indonesia Tunjukkan Peran Global

Bahasa Prancis Jadi Bekal Penting

Tantangan lain yang harus dipersiapkan adalah persoalan komunikasi.

Republik Afrika Tengah merupakan wilayah penugasan yang menggunakan bahasa Prancis dalam lingkungan komunikasi tertentu. Karena itu, kemampuan berbahasa menjadi bagian dari pembekalan personel sebelum memasuki wilayah misi.

Para personel mendapatkan pelatihan bahasa Prancis untuk mendukung komunikasi, koordinasi, serta pelaksanaan tugas selama berada dalam misi internasional.

Penguasaan bahasa menjadi salah satu aspek penting karena tugas FPU tidak hanya berkaitan dengan kemampuan taktis, tetapi juga membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak dalam lingkungan internasional.

Kombes Pol Abast menjelaskan, proses persiapan kontingen juga mencakup sejumlah agenda strategis lainnya.

“Persiapan ini juga mencakup agenda strategis lainnya, seperti Joint Training Polwan dan RCMP, Pre-AOC, Assessment of Operational Capability, Command Staff Training, Leadership Training, hingga kegiatan Ground Handling dan team building,” jelas Kombes Pol Abast.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kesiapan kontingen dibangun melalui kombinasi kemampuan teknis, kepemimpinan, kerja sama tim, hingga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tugas internasional.

Ditutup Tradisi Jalan Juang dan Pembaretan

Setelah seluruh rangkaian pelatihan dan pembinaan dilalui, proses penyiapan kontingen kemudian ditutup dengan sejumlah tradisi sebelum keberangkatan.

Baca Juga:  Transformasi Digital Kampoeng Oase Pintar: Dari Produksi Sayur ke Pemasaran Global

Di antaranya Tradisi Jalan Juang, upacara pembaretan, serta upacara penutupan resmi.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari proses akhir sebelum para personel menjalankan tugas di Afrika Tengah.

Bagi kelima personel Polda Jatim, penugasan dalam FPU 8 MINUSCA sekaligus menjadi amanah besar karena mereka tidak hanya membawa identitas pribadi dan institusi, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian dunia di bawah mandat PBB.

Kombes Pol Abast menegaskan bahwa keikutsertaan lima personel Polda Jatim dalam FPU 8 MINUSCA merupakan wujud nyata kontribusi Polri dalam mendukung misi perdamaian dunia.

“Mereka membawa nama besar Polri dan Polda Jatim dalam menjalankan tugas kemanusiaan ini. Kami berharap seluruh personel dapat menunaikan tugas dengan profesional, disiplin, dan penuh rasa tanggung jawab,” pungkas Kombes Pol Abast.

Dengan bekal pelatihan yang telah dijalani, lima personel Polda Jatim tersebut kini bersiap menjalankan tugas di Republik Afrika Tengah. Misi tersebut sekaligus menjadi bagian dari kiprah Polri dalam mendukung upaya pemeliharaan perdamaian internasional melalui penugasan personel kepolisian Indonesia di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa. (*)