WorldSkills Shanghai 2026: Indonesia Masuk 19 Besar, Jatim Borong Tiga Penghargaan

Laporan: Ninis Indrawati
SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Bendera Merah Putih kembali berkibar di panggung keterampilan dunia. Indonesia berhasil menempati peringkat ke-19 dari 74 negara peserta WorldSkills Competition (WSC) Shanghai 2026).
Bukan sekadar pulang membawa pengalaman. Kontingen Indonesia sukses mengoleksi sembilan penghargaan internasional, terdiri atas satu medali perak, dua medali perunggu, dan enam Medallion for Excellence.
Prestasi tersebut diraih setelah rangkaian kompetisi bergengsi itu berakhir pada Senin (28/9/2026).
Di balik capaian Indonesia tersebut, Jawa Timur ikut memainkan peran penting. Kontingen Jatim menyumbangkan tiga penghargaan, yakni satu medali perak dan dua Medallion for Excellence.
Salah satu sorotan datang dari Edsel Parama Mustapa, alumni SMKS PGRI 3 Malang/Poltek Astra. Ia sukses merebut medali perak pada bidang Software Applications Development.
Sementara itu, dua alumni SMKN 1 Jenangan, Reno Surya Permana dan Rouf Aufa Rifqi, berhasil meraih Medallion for Excellence pada bidang Mechatronics secara beregu.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai memberikan apresiasi terhadap perjuangan para kompetitor dan expert Indonesia, khususnya tujuh perwakilan Jawa Timur yang ambil bagian dalam kompetisi tersebut.
“Alhamdulillah Perwakilan Jawa Timur dari tujuh Orang Perwakilan, tiga di antaranya membawa pulang medali, yakni satu Silver Medal dan dua Medallion for Excellence,” ujar Aries.
Panggung Dunia untuk Talenta Muda
Menurut Aries, WorldSkills bukan kompetisi biasa. Ajang tersebut menjadi panggung yang mempertemukan talenta-talenta muda terbaik dari berbagai negara untuk menguji kemampuan berdasarkan standar profesi dan kebutuhan industri internasional.
“WorldSkills ini adalah ajang kompetisi keterampilan vokasi tingkat dunia yang mempertemukan talenta-talenta muda terbaik dari berbagai negara untuk menunjukkan kemampuan sesuai standar profesi dan industri internasional,” katanya.
Karena itu, Aries menilai hasil yang diperoleh di Shanghai harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia.
Sekolah maupun perguruan tinggi, kata dia, perlu terus melakukan penyelarasan kurikulum dengan standar kompetensi internasional. Tujuannya agar lulusan pendidikan vokasi Indonesia tidak hanya mampu bersaing di dalam negeri, tetapi juga memiliki kemampuan yang diakui di tingkat global.
Aries juga menyoroti peran expert yang mendampingi para kompetitor. Menurutnya, keberhasilan peserta tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga kualitas pelatihan dan pendampingan yang diberikan sebelum kompetisi.
“Expert perannya juga sama pentingnya dengan kompetitor. Seberapa dekat kompetensi expert, trainer, peralatan, metode latihan, dan lingkungan training Indonesia dengan negara-negara yang menjadi benchmark?” ujarnya.
Evaluasi pasca-WorldSkills, lanjut Aries, harus dilakukan secara menyeluruh.
Tidak hanya menyangkut kemampuan teknis peserta, tetapi juga pemahaman terhadap standar dan sistem kompetisi, kemampuan membaca tren soal, penguatan jejaring internasional, hingga kemampuan mentransfer pengetahuan kepada para trainer di daerah.
DUDIKA Harus Turun Tangan
Aries juga mendorong keterlibatan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA) semakin intensif dalam pendidikan vokasi.
Menurutnya, industri memiliki peran strategis dalam membentuk kompetensi peserta agar semakin dekat dengan kebutuhan nyata dunia kerja.
“WorldSkills ini ajang yang sangat bergengsi. Ini kesempatan bagi peserta menunjukkan kompetensi vokasi. Banyak mata DUDIKA dunia tertuju di sini,” katanya.
Dengan keterlibatan industri yang lebih kuat, proses pembelajaran, praktik, hingga persiapan kompetisi diharapkan memiliki standar yang semakin mendekati kebutuhan industri global.
Penghargaan Indonesia Makin Meluas
Capaian di Shanghai juga memperlihatkan adanya peningkatan jumlah bidang yang berhasil memperoleh penghargaan internasional.
Jika sebelumnya Indonesia memperoleh penghargaan pada empat bidang, pada WSC Shanghai 2026 jumlahnya meningkat menjadi sembilan bidang.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan Indonesia mengirimkan 20 kompetitor pada 17 bidang lomba, didampingi 17 expert dan technical delegate.
Jumlah tersebut menjadi delegasi terbesar sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia dalam WorldSkills.
Persiapan pun tidak dilakukan secara instan. Para kompetitor menjalani latihan intensif sekitar lima hingga enam bulan sebelum berangkat ke Shanghai.
Bagi Edsel, perjalanan menuju podium bukan perkara mudah.
Selama enam bulan, ia menjalani latihan intensif bidang Software Applications Development. Salah satu pola latihan yang dijalani adalah mengerjakan soal-soal baru setiap hari.
Hasil akhirnya bahkan melampaui ekspektasi pribadi.
“Dari awal saya tidak berekspektasi untuk mendapatkan. Tapi alhamdulillah saya bisa dapat,” ungkap Edsel.
Dalam kompetisi tersebut, Edsel ditantang mengembangkan aplikasi Android secara utuh. Mulai dari tahap perencanaan, pembuatan, hingga pengujian.
Aplikasi yang dikembangkan pun bukan sekadar proyek untuk menyelesaikan soal kompetisi. Produk tersebut dirancang agar dapat diterapkan untuk kebutuhan dunia usaha dan industri.
Perjuangan Panjang Fatima
Cerita perjuangan juga datang dari Fatima Rani Al Husna Prameswara, peraih medali perunggu bidang Restaurant Service.
Berbeda dengan persiapan enam bulan yang dijalani Edsel, Fatima telah berlatih sekitar dua setengah tahun.
Perjalanannya dimulai dari Lomba Kompetensi Siswa (LKS), berlanjut ke kompetisi tingkat ASEAN, seleksi daerah, seleksi nasional, hingga training center untuk menghadapi WSC Shanghai 2026.
Pengalaman di dunia industri juga menjadi bagian penting dalam proses persiapannya.
Fatima mendapatkan kesempatan memperkuat kemampuan melalui pengalaman langsung di lingkungan industri. Proses tersebut membantunya mengasah kemampuan berinteraksi dengan tamu sekaligus meningkatkan profesionalitas dalam bidang restaurant service.
“Saya selalu berprinsip bahwa saya ingin memberikan yang terbaik. Alhamdulillah, mungkin ini bonus yang saya dapatkan,” ujarnya.
Jangan Berhenti di Medali
Bagi Jawa Timur, keberhasilan tiga wakilnya membawa penghargaan dari Shanghai menjadi catatan penting. Namun, Aries mengingatkan bahwa prestasi tersebut tidak boleh berhenti sebagai koleksi medali atau sertifikat penghargaan.
Ia berharap pemerintah terus memperkuat training center bagi calon kontingen WorldSkills.
Dengan persiapan yang semakin matang, calon peserta diharapkan memiliki waktu dan fasilitas yang lebih baik untuk mengembangkan kemampuan sebelum berhadapan dengan kompetitor dari berbagai negara.
“Ini bukan bagian akhir dari komitmen kita untuk terus mencerdaskan bangsa dan memajukan bangsa dan negara dengan pendidikan dan prestasi yang kalian dapat,” tutur Aries.
Pengalaman para delegasi Indonesia di Shanghai selanjutnya diharapkan tidak hanya menjadi cerita sukses individu.
Pengalaman tersebut akan menjadi bahan pembelajaran bagi sekolah dan lembaga pendidikan vokasi di berbagai daerah.
Kemendikdasmen juga akan mendiseminasikan pengalaman para delegasi melalui penyelarasan LKS, penguatan pusat pelatihan mitra, serta penyusunan buku yang memuat pengalaman Indonesia saat tampil di panggung keterampilan dunia.
Dengan capaian sembilan penghargaan dan posisi ke-19 dari 74 negara, WorldSkills Shanghai 2026 menjadi bukti bahwa talenta vokasi Indonesia memiliki ruang untuk berbicara di panggung global.
Kini tantangannya bukan sekadar mempertahankan capaian tersebut, tetapi menjadikan pengalaman Shanghai sebagai pijakan untuk melahirkan lebih banyak talenta vokasi Indonesia yang mampu menembus podium dunia. (*)












Tinggalkan Balasan