Laporan: Ninis Indrawati

MAGETAN | SUARAGLOBAL.COM — Berada di wilayah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah tak membuat SMAN 1 Parang berjalan dengan keterbatasan. Justru dari sekolah yang menjadi tempat belajar ratusan siswa lintas kabupaten inilah, penguatan keterampilan dan kemandirian ekonomi siswa terus didorong.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai menyambangi SMAN 1 Parang, Kabupaten Magetan, Kamis (1/10/2026). Dalam kunjungan perdananya tersebut, Aries melihat langsung berbagai program yang dikembangkan sekolah, termasuk program Double Track yang telah berjalan sejak 2018.

Kunjungan tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Aries terlebih dahulu bertindak sebagai inspektur upacara sebelum kemudian menelusuri lingkungan sekolah dan melihat sejumlah aktivitas pembelajaran serta program keterampilan yang dikembangkan SMAN 1 Parang.

Sekolah ini memiliki karakteristik yang cukup unik. Sebanyak 631 siswa yang menempuh pendidikan di SMAN 1 Parang tidak hanya berasal dari Kabupaten Magetan, tetapi juga dari Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Kondisi tersebut membuat SMAN 1 Parang memiliki peran lebih luas sebagai pusat pendidikan yang melayani masyarakat di kawasan perbatasan tiga wilayah.

Double Track Disiapkan untuk Bekal Selepas Sekolah

Salah satu perhatian utama Aries dalam kunjungan tersebut adalah program Double Track. Program ini dirancang untuk memberikan bekal keterampilan praktis sekaligus kewirausahaan kepada siswa, terutama mereka yang setelah lulus SMA tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Baca Juga:  Polres Semarang Ungkap Kasus Curanmor oleh Anak di Bawah Umur, Ini Jelasnya

Melalui program tersebut, siswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri.

Aries menegaskan, keberadaan Double Track harus benar-benar diarahkan agar siswa memiliki bekal konkret ketika meninggalkan bangku sekolah.

“Sesuai tujuan pendirian program Double Track, siswa yang mayoritas tidak melanjutkan ke perguruan tinggi kami bekali dengan keterampilan sesuai peminatan mereka. Harapannya, ketika lulus nanti mereka bisa langsung bekerja di industri atau mendirikan usaha,” jelas Aries.

Menurutnya, keberlanjutan program tersebut tidak cukup hanya mengandalkan kurikulum dan kemauan siswa. Ketersediaan sarana dan peralatan praktik menjadi bagian penting untuk memastikan keterampilan yang diberikan benar-benar dapat dikuasai.

Karena itu, Aries meminta pihak sekolah memperkuat pelaksanaan Double Track melalui penambahan peralatan praktik yang memadai.

Dengan fasilitas yang lebih lengkap, proses pelatihan diharapkan tidak hanya semakin efektif bagi siswa, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas guru dalam memberikan pembelajaran keterampilan.

Target akhirnya adalah mencetak lulusan yang memiliki kemampuan praktis dan kompetitif ketika masuk ke dunia kerja maupun ketika memilih jalur kewirausahaan.

Keterbatasan Peralatan Jadi Pekerjaan Rumah

Baca Juga:  30 Relawan Siaga Kebakaran Dikukuhkan, Argomulyo Jadi Pilot Project Redkar Salatiga

Arahan tersebut mendapat sambutan positif dari Kepala SMAN 1 Parang, Asmaul Khusnah.

Ia mengakui bahwa keterbatasan peralatan praktik masih menjadi salah satu kendala dalam pengembangan program keterampilan di sekolah.

Menurut Asmaul, kebutuhan fasilitas praktik semakin penting karena keterampilan yang diberikan kepada siswa diharapkan bukan sekadar menjadi kegiatan tambahan selama bersekolah. Keterampilan tersebut harus bisa menjadi bekal nyata bagi kehidupan mereka setelah lulus.

Terlebih, sebagian siswa SMAN 1 Parang berasal dari keluarga petani dan buruh tani. Karena itu, kemampuan untuk bekerja maupun menciptakan peluang usaha dinilai dapat menjadi modal penting bagi masa depan mereka.

“Kami berharap setelah Bapak Kadis hadir di tengah-tengah kami dan melihat langsung kondisi sekolah, sarana prasarana dan fasilitas yang menunjang keterampilan anak-anak bisa lebih diperhatikan,” ujar Asmaul.

Kehadiran pimpinan Dindik Jatim di sekolah tersebut sekaligus menjadi momentum bagi pihak sekolah untuk menyampaikan secara langsung berbagai kebutuhan yang selama ini dihadapi dalam pengembangan program keterampilan.

Tak Hanya Double Track, Ada Program Ketahanan Pangan

Selain meninjau Double Track, Aries juga melihat langsung program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan) yang dikembangkan SMAN 1 Parang.

Program tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan lingkungan sekolah, antara lain dengan pengembangan kebun dan kandang unggas.

Baca Juga:  Pertarungan Gagasan: Debat Publik Pilkada Salatiga 2024, Momentum Penentuan Nasib Kota

Bagi Aries, pengembangan program semacam ini memiliki nilai strategis. Siswa tidak hanya diarahkan untuk memahami teori di dalam kelas, tetapi juga belajar bagaimana memanfaatkan potensi lingkungan untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Double Track dan SIKAP pun menjadi dua program yang saling melengkapi. Jika Double Track diarahkan pada keterampilan praktis dan kewirausahaan, program ketahanan pangan memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengelola potensi pangan dan lingkungan secara produktif.

Aries menegaskan, pendidikan di wilayah perbatasan tidak boleh hanya mengejar capaian akademik. Anak-anak juga perlu dibekali kemampuan yang memungkinkan mereka berdiri secara mandiri ketika memasuki kehidupan setelah sekolah.

Dengan 631 siswa dari Magetan, Ponorogo, dan Wonogiri, SMAN 1 Parang menunjukkan bahwa sekolah di kawasan perbatasan memiliki tantangan sekaligus potensi yang besar.

Penguatan fasilitas, pengembangan keterampilan, kewirausahaan, hingga ketahanan pangan menjadi bagian dari upaya agar lulusan tidak hanya membawa ijazah ketika meninggalkan sekolah, tetapi juga membawa kemampuan yang bisa digunakan untuk membuka jalan menuju masa depan.

Kunjungan Kadindik Jatim tersebut pun menjadi penanda bahwa pengembangan pendidikan berbasis keterampilan di sekolah-sekolah wilayah perbatasan mendapat perhatian. Bagi SMAN 1 Parang, tantangannya kini adalah memastikan dukungan sarana yang dibutuhkan benar-benar dapat memperkuat program dan memberi manfaat langsung bagi para siswa. (*)