Laporan: Ninis Indrawati

SIDOARJO | SUARAGLOBAL.COM – Tragedi robohnya bangunan mushola Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025), menyisakan duka mendalam. Peristiwa ini terjadi usai ratusan santri menunaikan salat ashar berjamaah. Sejumlah korban berhasil dievakuasi, namun pencarian masih terus berlangsung hingga Senin malam.

Bupati Sidoarjo, Subandi, turun langsung ke lokasi kejadian untuk memastikan jalannya proses penyelamatan. Dengan penuh keprihatinan, ia menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga besar ponpes serta para korban yang terdampak.

“Saat ini kita masih fokus pada penyelamatan. Proses evakuasi akan terus dilakukan sampai semua korban berhasil ditemukan,” tegas Subandi di sela-sela peninjauan.

Baca Juga:  Salatiga Menyapa Dunia, Jejak Prasejarah Bertemu Kota Pendidikan: François Sémah Disambut Hangat di Salatiga

Evakuasi Libatkan Tim Gabungan

Proses pencarian korban melibatkan tim gabungan dari BPBD Jawa Timur, TNI, Polri, Basarnas, serta puluhan relawan. Alat berat telah disiagakan di sekitar lokasi, namun penggunaannya masih menunggu arahan teknis agar tidak menimbulkan risiko tambahan bagi korban yang kemungkinan tertimbun reruntuhan.

Ambulans disiapkan untuk mengangkut korban ke rumah sakit terdekat. Beberapa santri yang berhasil dievakuasi sudah mendapat perawatan medis, sementara pencarian terhadap santri lainnya masih dilakukan secara hati-hati.

Hingga malam hari, jumlah pasti korban belum dapat dipastikan. “Kita masih menunggu hasil evakuasi. Setelah semuanya selesai baru akan diumumkan secara resmi,” jelas Bupati Subandi.

Baca Juga:  Waspada! Daging Berkadar Air Tinggi Muncul di Pasar Tradisional, Pemkot Salatiga Turun Tangan

Fokus Pemkab: Evaluasi dan Pencegahan

Selain fokus pada penanganan darurat, Bupati Subandi menegaskan bahwa musibah ini menjadi peringatan penting terkait keselamatan bangunan. Ia menekankan bahwa ke depan, Pemkab Sidoarjo akan memperketat pengawasan terhadap pembangunan fasilitas pendidikan maupun keagamaan.

“Setiap pembangunan harus memiliki izin yang lengkap. Kalau tidak, kami tidak segan menghentikannya. Ini demi keselamatan bersama agar musibah serupa tidak terjadi lagi,” tandasnya.

Baca Juga:  Belum Tobat! Residivis 2011 Kembali Jadi Bandar Sabu, Polisi Sita 31,62 Gram

Lebih jauh, Pemkab Sidoarjo berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap bangunan pondok pesantren maupun fasilitas umum lain yang berpotensi menimbulkan risiko keselamatan. Upaya ini, menurut Subandi, merupakan langkah pencegahan agar tidak ada lagi korban jiwa akibat kelalaian konstruksi.

Tragedi robohnya mushola Al Khoziny ini tidak hanya mengguncang keluarga besar pesantren, tetapi juga seluruh masyarakat Sidoarjo. Dukungan doa, bantuan tenaga, hingga logistik terus mengalir dari berbagai pihak.

“Ini duka kita bersama. Semoga seluruh korban segera ditemukan, dan mereka yang terluka diberi kesembuhan,” ujar Subandi menutup keterangannya. (*)