Laporan: Budi Santoso

NGAWI | SUARAGLOBAL.COM – Tempat wisata alam Air Terjun Srambang Park yang selama ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan di lereng Gunung Lawu resmi memasuki babak baru pengelolaan. Setelah masa kerja sama berakhir, pengelolaan wisata yang berada di kawasan hutan Perhutani tersebut resmi diserahkan dari CV Argo Dumilah Grup kepada PT Palawi Perhutani.

Prosesi penyerahan dilakukan di Kantor Wisata Air Terjun Srambang Park, Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, Minggu (31/5/2026) pukul 07.30 WIB. Penandatanganan berita acara dilakukan oleh Hariyanto selaku Owner CV Argo Dumilah Grup dan Agus Susanto selaku Manajer PT Palawi Perhutani.

Srambang Park sendiri berada di kawasan hutan Perhutani KPH Lawu DS, tepatnya di petak 3 Ha Resort Pemangku Hutan (RPH) Manyul, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Utara, Desa Girimulyo.

Pergantian pengelolaan ini sempat memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Salah satunya adalah kabar yang menyebutkan bahwa Srambang Park akan ditutup untuk umum. Namun informasi tersebut dipastikan tidak benar.

Manajer PT Palawi Perhutani, Agus Susanto, menegaskan bahwa yang terjadi saat ini hanyalah proses transisi administrasi pengelolaan dari pihak lama kepada Perhutani melalui PT Palawi Perhutani.

Baca Juga:  Sinergi Untuk  Berkemajuan Daerah,  Pemkab Sidoarjo Gandeng Ormas Keagamaan Majukan Pendidikan dan Kesehatan

“Rumor yang menyebut Srambang Park akan ditutup itu tidak benar. Saat ini hanya terjadi pengalihan administrasi pengelolaan. Wisata tetap berjalan seperti biasa dan tetap menerima kunjungan wisatawan,” jelas Agus.

Ia memastikan seluruh aktivitas di kawasan wisata tetap berlangsung normal. Para petugas, karyawan, hingga tukang ojek yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas wisata juga tetap dapat bekerja seperti biasa.

“Untuk sementara pengelolaan berada di bawah PT Palawi Perhutani. Semua aktivitas tetap berjalan dan masyarakat tidak perlu khawatir,” tambahnya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa ke depan pengelolaan Srambang Park akan kembali ditawarkan kepada pihak yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Perhutani.

Tidak hanya perusahaan swasta, pemerintah desa juga memiliki peluang untuk ikut mengelola kawasan wisata tersebut melalui lembaga resmi desa.

“Kami membuka kesempatan bagi pihak yang memenuhi syarat untuk mengelola Srambang Park. Desa Girimulyo juga bisa mengajukan pengelolaan melalui BUMDes atau koperasi sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.

Menurutnya, mekanisme pengajuan nantinya tetap harus melalui proses dan persyaratan yang telah ditetapkan oleh Perhutani maupun PT Palawi Perhutani sebagai pengelola sektor wisata.

Baca Juga:  Bulan Eleminasi Kaki Gajah di Desa Tegalwaton.

Di sisi lain, Administratur (Asper) KPH Lawu DS, Nanang, menyampaikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Desa Girimulyo yang selama ini dinilai memiliki peran besar dalam menjaga kelestarian kawasan hutan di sekitar Srambang Park.

Menurutnya, kekompakan masyarakat dalam menjaga lingkungan menjadi salah satu modal penting bagi keberlangsungan wisata alam di kawasan tersebut.

“Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat Desa Girimulyo yang selama ini turut menjaga kelestarian hutan. Ketika musim hujan dan terjadi longsor atau pohon tumbang, warga bersama-sama membantu melakukan evakuasi. Saat musim kemarau dan terjadi kebakaran hutan, masyarakat juga ikut memadamkan api agar tidak meluas,” ungkap Nanang.

Ia menilai semangat gotong royong masyarakat menjadi contoh nyata sinergi antara Perhutani dan warga dalam menjaga aset alam yang bernilai ekonomi sekaligus ekologis.

Sementara itu, Kepala Desa Girimulyo, Nonot, menyatakan kesiapannya untuk mengupayakan pengelolaan Srambang Park melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Menurutnya, jika desa mendapat kesempatan mengelola destinasi wisata tersebut, dampaknya akan sangat besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kami akan berusaha mengajukan pengelolaan melalui BUMDes. Harapannya tentu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Desa Girimulyo,” katanya.

Baca Juga:  Rutan Salatiga Panen Lele dan Terong, Wujud Nyata Dukung Program Ketahanan Pangan Asta Cita

Nonot menilai keberadaan Srambang Park selama ini telah menjadi penggerak ekonomi warga, mulai dari sektor tenaga kerja, jasa transportasi wisata, hingga pelaku UMKM yang menjajakan berbagai produk kepada wisatawan.

“Jika dikelola desa, masyarakat bisa mendapatkan lebih banyak peluang kerja sehingga dapat mengurangi angka pengangguran. UMKM yang selama ini tumbuh di sekitar kawasan wisata juga bisa semakin berkembang,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa meskipun lokasi wisata berada di kawasan Perhutani, masyarakat Girimulyo memiliki keterikatan kuat dengan keberadaan Srambang Park karena manfaat ekonomi yang dirasakan selama bertahun-tahun.

“Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton. Wisata ini sudah menjadi bagian penting bagi desa kami. Karena itu kami akan terus berupaya membangun kerja sama yang baik dengan Perhutani agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” pungkas Nonot.

Dengan resmi beralihnya pengelolaan kepada PT Palawi Perhutani, Srambang Park kini memasuki fase baru. Namun satu hal yang dipastikan, destinasi wisata andalan lereng Gunung Lawu tersebut tetap beroperasi normal dan siap menyambut wisatawan, sembari menunggu proses penentuan pengelola definitif berikutnya. (*)