Laporan: Iswahyudi Artya

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Atmosfer seni di Surabaya mendadak bergelora. Pameran karya Prof. Bambang Tjahjadi atau yang akrab disapa Mas Mbenk sukses menyedot perhatian publik lewat karya-karya uniknya di Pelindo Place, yang berlangsung pada 13–16 April 2026.

Tak sekadar pameran biasa, Mas Mbenk menghadirkan sesuatu yang berbeda lukisan berbahan lidi yang menyuarakan laut sebagai simbol perjuangan hidup manusia. Dari kejauhan, karya-karya itu tampak sederhana. Namun saat didekati, tersimpan energi emosional yang kuat: kapal yang menantang badai, gelombang yang menggulung keras, hingga denyut kehidupan masyarakat pesisir.

Baca Juga:  Delapan Pelaku Judi Online Berhasil Ditangkap Satreskrim Polres Salatiga

“Laut bukan hanya pemandangan, tapi perjalanan hidup,” seolah menjadi pesan kuat yang disampaikan dalam setiap goresan karyanya.

Berani keluar dari jalur konvensional, Mas Mbenk menjadikan lidi bahan yang kerap dianggap sepele sebagai medium utama. Teknik ini bukan sekadar eksperimen, melainkan bentuk perlawanan terhadap batasan dalam dunia seni rupa.

Ia menegaskan, kekuatan seni tidak terletak pada mahalnya alat, tetapi pada kejujuran ekspresi. Dan di sinilah letak “ledakan” kreativitasnya.

Baca Juga:  Bupati Sidoarjo Lepas Kloter Perdana: 376 Jamaah Haji Sidoarjo Siap Menuju Tanah Suci

Pengamat seni, Eko Bening, tak ragu menyebut langkah ini sebagai gebrakan berani.

“Ini bukan sekadar karya, ini pernyataan sikap. Ada kekuatan emosi yang sangat terasa, meskipun medianya tidak lazim,” ujarnya.

Di balik sosok seniman tersebut, Mas Mbenk juga dikenal sebagai akademisi di Universitas Airlangga. Namun dunia kampus tak membatasi langkahnya. Justru, ia terus aktif menjelajah dunia seni dengan pendekatan intuitif dan bebas.

Baginya, seni adalah ruang tanpa sekat tempat gagasan bisa tumbuh liar dan jujur.

Lokasi pameran di kawasan pelabuhan bukan kebetulan. Mas Mbenk secara sadar memilih ruang yang identik dengan dinamika maritim dan pergerakan ekonomi.

Baca Juga:  Punden Nyi Sekar Dibaluti Aroma Dupa dan Tembang Jawa: 74 Tahun Reog Kendalen Wiroyudo Menjaga Warisan Budaya Jawa

Di tempat inilah pesan tentang laut sebagai simbol perjuangan, harapan, dan ketahanan menjadi semakin hidup. Seolah menyatu dengan denyut aktivitas di sekitarnya.

Di tengah derasnya arus seni digital, pameran ini hadir sebagai “tamparan halus” bahwa seni sejati tetap berakar pada keberanian berekspresi.

Mas Mbenk membuktikan, di era serba teknologi, kejujuran dan keberanian masih menjadi jiwa utama dalam berkarya. (*)