Laporan: Wahyu Widodo

SALATIGA | SUARAGLOBAL.COM  – Di balik tenangnya sudut Kota Salatiga, tersimpan jejak literasi kuno yang selama ini nyaris tak tersentuh publik. Belasan manuskrip tua yang selama bertahun-tahun disimpan secara pribadi akhirnya mulai dibuka dan didigitalisasi demi menyelamatkan warisan pengetahuan masa lalu dari ancaman kerusakan usia.

Yang paling mencuri perhatian adalah sebuah naskah kuno yang diperkirakan berusia hampir 700 tahun. Manuskrip tersebut menjadi salah satu koleksi tertua yang kini menjalani proses alih media digital bersama 16 naskah lainnya.

Digitalisasi dilakukan menggunakan standing scanner agar lembaran asli tetap aman dan tidak terlalu sering disentuh. Langkah ini dinilai penting karena sebagian besar manuskrip sudah rapuh akibat faktor usia dan bahan kertas tradisional yang mudah rusak.

Kolektor sekaligus pemilik Joglo Ki Penjawi, Iwan Gunawan Herdiwanto, mengungkapkan bahwa koleksi tersebut merupakan hasil pencarian dan pengumpulan yang ia lakukan selama bertahun-tahun dari berbagai daerah.

Baca Juga:  Geger Penemuan Mayat di Rawa Pening, Kaki Korban Terikat Aki dan Tabung Gas

“Memang koleksi yang paling tua itu sudah pernah diteliti oleh tim terkait. Diperkirakan usianya hampir 700 tahun, tetapi tetap perlu penelitian lanjutan, termasuk oleh ahli kertas,” ujarnya saat ditemui suaraglobal.com, Senin (25/5/2026).

Menurut Iwan, sebagian besar manuskrip ditulis di atas kertas daluang, yakni bahan tulis tradisional berbahan serat tanaman yang lazim digunakan masyarakat Nusantara pada masa lampau sebelum kertas modern dikenal luas.

Ia menilai manuskrip kuno bukan sekadar benda antik bernilai sejarah, tetapi juga menjadi bukti perjalanan ilmu pengetahuan, budaya, dan cara masyarakat zaman dahulu mewariskan nilai kehidupan lintas generasi.

Tak hanya berasal dari Pulau Jawa, beberapa koleksi bahkan didapat dari luar daerah, termasuk dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Salah satu manuskrip yang dianggap paling menarik adalah kitab yang menceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sejak masa kecil hingga dewasa.

Baca Juga:  Presiden Joko Widodo Harapkan Penyediaan Perumahan Bagi ASN, Prajurit TNI, dan Anggota POLRI Bisa Dipercepat

“Yang paling jauh saya dapat dari Lombok. Isinya menceritakan sejarah Nabi Muhammad, mulai dari masa kecil sampai dewasa,” katanya.

Bagi Iwan, manuskrip kuno seharusnya tidak disimpan secara tertutup. Ia menyayangkan masih adanya anggapan bahwa kitab-kitab lama memiliki unsur mistis atau hanya boleh diketahui kalangan tertentu.

“Kalau memiliki kitab, menurut saya justru harus dipublikasikan supaya masyarakat bisa memahami sejarah, memahami budaya, dan mengetahui bagaimana ilmu ditransfer pada masa lalu,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bagaimana perkembangan Islam di tanah Jawa pada masa lalu berjalan sangat dekat dengan pendekatan budaya lokal. Menurutnya, para pendakwah menggunakan wayang, tembang, hingga aksara daerah sebagai media penyebaran ajaran agar lebih mudah diterima masyarakat.

Sementara itu, Pustakawan Ahli Muda dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Ipuk Wahyu Utami, mengatakan proses alih media menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga keberlangsungan informasi yang tersimpan dalam manuskrip kuno.

Baca Juga:  Edukasi Santai, Polsek Benjeng Gencarkan Kesadaran Bahaya Narkoba

“Tujuannya untuk melestarikan naskah kuno. Jika suatu saat terjadi kerusakan pada naskah asli, nantinya kita sudah memiliki hasil alih medianya,” ujar Ipuk.

Ia menjelaskan, manuskrip yang didigitalisasi mencakup berbagai jenis tulisan tangan kuno, mulai dari Surat Yusuf, Al-Qur’an, Surat At-Taubah, Surat Yasin, hingga kitab Safinatun Najah.

Beberapa naskah diketahui berasal dari tahun 1928, sementara dokumen lain masih menunggu penelitian lanjutan untuk memastikan usia dan asal-usulnya.

Menurut Ipuk, digitalisasi bukan hanya soal menyelamatkan fisik dokumen tua, tetapi juga membuka peluang penelitian lebih luas dan mempermudah masyarakat mengakses khazanah literasi masa lampau.

Dengan proses alih media ini, manuskrip-manuskrip yang sebelumnya hanya tersimpan di ruang pribadi kini memiliki peluang lebih besar untuk dikenali publik dan dipelajari generasi mendatang sebagai bagian penting dari sejarah budaya dan perkembangan literasi Nusantara. (*)