Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan modern yang berlomba menghadirkan hiburan kekinian dan gaya hidup urban, Fairway Nine Mall Surabaya justru mengambil langkah berbeda. Mall yang berada di kawasan strategis Kota Pahlawan ini memilih untuk tetap berpijak pada akar budaya bangsa dengan menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional secara rutin sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Indonesia.

Komitmen tersebut kembali dibuktikan melalui gelaran spektakuler bertajuk “Srimulat Ada Apa Dengan F9” yang berlangsung meriah pada Sabtu (30/5/2026). Acara ini sukses menghadirkan nostalgia sekaligus hiburan berkualitas melalui pertunjukan ludruk dan penampilan para legenda Srimulat yang melegenda di dunia hiburan tanah air.

Sejak sore hingga malam hari, area pertunjukan dipadati pengunjung dari berbagai kalangan. Mulai dari pecinta seni tradisional, komunitas budaya, keluarga, hingga insan media tampak antusias menikmati setiap sajian yang disuguhkan. Gelak tawa pecah berkali-kali ketika para pelawak Srimulat menampilkan humor khas yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan dunia hiburan Indonesia.

Event Manager Fairway Nine Mall, Ika, menjelaskan bahwa program budaya ini merupakan langkah awal dari rangkaian kegiatan besar yang akan terus digelar secara berkelanjutan.

“Kegiatan seperti ini akan kami adakan secara rutin setiap bulan. Sebagai pembuka, kami mengundang rekan-rekan media dan berbagai komunitas untuk bersama-sama merasakan semangat pelestarian budaya. Ke depan, kami juga akan mengadakan Pekan Budaya yang melibatkan lebih banyak unsur seni dan kebudayaan,” ujar Ika.

Baca Juga:  Momentum HUT KORPRI ke-54, Sebanyak 908 PPPK Terima SK dari Wali Kota Robby Hernawan

Menurutnya, selama ini Fairway Nine Mall memang dikenal aktif menghadirkan hiburan modern seperti pertunjukan musik yang digelar setiap akhir pekan. Namun manajemen merasa perlu memberikan ruang yang sama bagi seni tradisional agar tetap hidup dan mampu menjangkau masyarakat luas.

“Kami ingin seni tradisional tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi tetap relevan dan dinikmati oleh generasi sekarang maupun mendatang,” tambahnya.

Sementara itu, General Manager Fairway Nine Mall, Suwanto, menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian dari visi besar perusahaan dalam menciptakan keseimbangan antara perkembangan bisnis modern dan keberlangsungan warisan budaya bangsa.

Menurutnya, selama ini pusat perbelanjaan sering kali identik dengan simbol modernisasi dan konsumsi. Namun Fairway Nine Mall ingin menghadirkan konsep berbeda dengan menjadikan pusat perbelanjaan sebagai ruang interaksi budaya yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Selama ini mall identik dengan modernisasi. Kami ingin memberikan ruang bagi budaya yang mungkin selama ini kurang mendapatkan panggung. Kami ingin membuktikan bahwa kemajuan bisnis dapat berjalan beriringan dengan upaya melestarikan budaya lokal,” tegas Suwanto.

Keseriusan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui penyelenggaraan acara hiburan semata. Fairway Nine Mall juga mulai membangun kolaborasi dengan berbagai komunitas seni, budayawan, hingga Museum Wayang guna menghadirkan kegiatan yang tidak hanya menghibur tetapi juga edukatif.

Baca Juga:  Posyan Rasa IKN di Probolinggo! Pemudik Dimanjakan Ngopi, Karaoke, hingga Bengkel Gratis

Program budaya ini juga secara khusus menyasar generasi muda. Melalui pemanfaatan media sosial yang dekat dengan Generasi Z dan Generasi Alpha, Fairway Nine Mall berupaya mengenalkan budaya dalam kemasan yang lebih segar, menarik, dan mudah diterima.

“Kami ingin anak-anak muda mengenal budaya dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Harapannya mereka tidak hanya menikmati hiburan modern, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur bangsa,” jelas Suwanto.

Tak berhenti sampai di situ, berbagai agenda budaya besar telah disiapkan untuk beberapa bulan mendatang. Pada Juli 2026, Fairway Nine Mall akan menghadirkan program bertema “Upaya Nusantara” yang mengangkat kisah-kisah rakyat legendaris dari berbagai daerah di Indonesia.

Cerita Malin Kundang dari Sumatera Barat hingga legenda asal-usul Banyuwangi dari Jawa Timur akan diangkat dalam kemasan pertunjukan yang lebih modern tanpa menghilangkan esensi budaya yang terkandung di dalamnya.

Kemudian pada Agustus mendatang, pengunjung akan disuguhi pertunjukan budaya berskala besar yang mengadopsi konsep Broadway. Pertunjukan ini akan memadukan unsur seni pertunjukan modern dengan kekayaan budaya Indonesia sehingga menghasilkan sajian spektakuler yang unik dan berkelas.

Antusiasme masyarakat terhadap program tersebut terlihat jelas sepanjang acara berlangsung. Salah satu pengunjung, Ratna, mengaku sangat terhibur dan mengapresiasi langkah Fairway Nine Mall yang menghadirkan hiburan budaya secara gratis bagi masyarakat.

Baca Juga:  Melalui Akun Mesos, Presiden RI Jokowi Sebut 4 Lokasi DAS di Jakarta yang Luapan Airnya Paling Parah

“Acara seperti ini sangat menghibur dan mengobati kerinduan masyarakat terhadap lawakan khas Srimulat yang legendaris. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan semakin besar,” ungkapnya.

Apresiasi serupa juga disampaikan perwakilan Komunitas Wartawan Indonesia (KWI), Pak Prio. Ia menilai langkah Fairway Nine Mall patut diapresiasi karena mampu menghadirkan ruang budaya di tengah dominasi hiburan modern yang semakin masif.

“Semoga kegiatan ini terus berkembang, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya bangsa agar tidak tergerus zaman,” tuturnya.

Melalui program budaya yang berkelanjutan ini, Fairway Nine Mall Surabaya berharap dapat menjadi lebih dari sekadar pusat perbelanjaan. Mall ini ingin tumbuh sebagai ruang kolaborasi, edukasi, kreativitas, sekaligus benteng pelestarian budaya yang mampu menjangkau generasi masa depan.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, Fairway Nine Mall Surabaya membuktikan bahwa budaya tidak harus tersingkir oleh perkembangan zaman. Justru melalui sentuhan inovasi dan kolaborasi, seni tradisional dapat kembali menemukan panggungnya dan terus hidup di hati masyarakat Indonesia.

Berita ini menonjolkan sisi human interest, nilai budaya, dan semangat pelestarian tradisi dengan gaya tabloid yang ringan, mengalir, namun tetap informatif. (*)