Gemuruh Kendang dan Singa Barong, BOREG SURAN Satukan Komunitas Reog Untuk Jaga Warisan Budaya, Digelar Semalam Suntuk di Surabaya 

Laporan: Iswahyudi Artya

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Malam di Kota Pahlawan berubah menjadi lautan budaya. Irama kendang menggema, sorak penonton membahana, dan barongan menari gagah di bawah lampu panggung. Komunitas BOREG SURAN (Bolo Reog Suroboyo Pinggiran) sukses menggelar silaturahmi akbar yang dikemas dalam pentas Reog Ponorogo semalam suntuk.

Acara yang digelar di wilayah pinggiran Surabaya ini bukan sekadar tontonan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ajang mempererat tali persaudaraan antar seniman sekaligus memperkuat eksistensi budaya tradisional di tengah derasnya arus modernisasi.

Baca Juga:  “Satu Kelurahan Satu Sekolah Negeri”: Jurus DPRD Jatim Atasi Ketimpangan Zonasi Pendidikan di Surabaya

Sejak sore hingga larut malam, bahkan menjelang dini hari, panggung tak pernah sepi. Satu per satu kelompok reog dari kawasan pesisir hingga pelosok pinggiran kota tampil bergantian, menyuguhkan atraksi penuh energi dan magis. Penampilan mereka berhasil menghipnotis ratusan penonton yang setia bertahan hingga akhir acara.

Panitia dengan sengaja merangkul berbagai kelompok reog lintas wilayah. Tujuannya jelas: membangun ruang kebersamaan yang inklusif bagi para pelaku seni. Suasana kekeluargaan pun terasa kental, seolah panggung itu menjadi rumah bersama bagi para seniman.

Ketua panitia menegaskan, kegiatan ini memiliki makna lebih dalam dari sekadar hiburan.

Baca Juga:  Jumat Berkah di Pace: Polisi Sapa Warga Lewat Sajian Nasi Bungkus di Depan Mapolsek

“Melalui silaturahmi dan pentas reog ini, kami ingin menjaga kekompakan antar seniman sekaligus memastikan budaya tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya dengan penuh semangat.

Di setiap dentuman musik dan gerakan penari, terselip pesan kuat tentang pentingnya gotong royong dan solidaritas. Nilai-nilai inilah yang terus dijaga oleh komunitas BOREG SURAN dalam setiap kegiatan mereka.

Kesenian Reog Ponorogo sendiri bukan warisan biasa. Seni tradisi ini telah diakui dunia sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO, sebuah pengakuan yang semakin mempertegas pentingnya pelestarian budaya lokal.

Baca Juga:  Pemda Sumbar dan Jaringan Pemred Sumbar Studi Banding di Dinkiominfo Jatim Untuk Mempelajari Penerapan Metode Prebunking Dalam Hoaks

BOREG SURAN pun tak berhenti di satu acara. Mereka terus bergerak, merangkul lebih banyak komunitas reog di Surabaya dan sekitarnya. Dengan semangat “bolo” atau kebersamaan, mereka menanamkan nilai persaudaraan yang kuat di antara para seniman.

Malam itu menjadi bukti nyata: di tengah hiruk pikuk kota besar, budaya tradisional tetap menemukan panggungnya. Dan lewat gemuruh Reog, BOREG SURAN menegaskan satu hal solidaritas seniman adalah kunci menjaga jati diri bangsa. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup
error: Content is protected !!