Laporan: Ninis Indrawati

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda menegaskan komitmennya menghadirkan layanan pemotongan hewan kurban yang amanah, profesional, transparan, sekaligus memenuhi standar higienitas dan syariat Islam.

Tak tanggung-tanggung, hingga Selasa (26/5/2026) siang, tercatat sudah ada 166 ekor sapi kurban yang dipastikan akan dipotong di RPH Surabaya. Jumlah itu bahkan masih berpotensi bertambah lantaran pendaftaran baru ditutup pada hari yang sama.

Direktur Utama PT RPH Surabaya Perseroda, Fajar A. Isnugroho mengatakan, tingginya jumlah hewan kurban yang masuk menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan pemotongan di RPH Surabaya.

“Sudah tercatat 166 ekor sapi yang akan dipotong di RPH Surabaya dan jumlahnya masih bisa bertambah. Hewan kurban berasal dari berbagai pihak, mulai bantuan Wali Kota Surabaya, Pemkot Surabaya, partai politik, organisasi masyarakat, PKK, masjid, yayasan hingga pelanggan lama yang kembali menggunakan layanan kami,” ujar Fajar.

Baca Juga:  Polres Salatiga Ungkap Sindikat Uang Palsu 'Sembilan Naga' dengan Bahan Utama dari Kertas Roti

Pelaksanaan layanan pemotongan hewan kurban tahun ini dijadwalkan berlangsung mulai 27 hingga 30 Mei 2026. Seluruh proses mengacu pada Surat Edaran Wali Kota Surabaya Nomor 500.7.2.4/11606/436.7.9 Tahun 2026 tentang Pengawasan Pelaksanaan Kurban.

Aturan tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan hewan, kebersihan area pemotongan, hingga pengelolaan limbah agar proses kurban berjalan aman dan tidak memicu penyebaran penyakit hewan menular.

Sapi Wajib Masuk Sehari Sebelum Disembelih

Fajar menjelaskan, seluruh sapi kurban diwajibkan masuk ke area RPH sehari sebelum penyembelihan dilakukan. Langkah ini menjadi bagian dari standar operasional prosedur (SOP) untuk memastikan kondisi hewan benar-benar prima.

“Sapi harus diistirahatkan terlebih dahulu dan menjalani pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan. Setelah tiba, hewan akan dikelompokkan dan ditempatkan di area persiapan sebelum dipotong,” jelasnya.

Tak hanya itu, setiap hewan kurban yang masuk juga wajib membawa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal.

Baca Juga:  Malam Penuh Makna di Asrama Haji: Latihan PPIH Tunjukkan Kesiapan Lahir Batin

Pemeriksaan dilakukan secara berlapis melalui pengecekan antemortem oleh dokter hewan guna memastikan sapi bebas penyakit dan layak disembelih.

“Setelah pemotongan, daging juga diperiksa kembali. Kalau ditemukan bagian yang tidak layak konsumsi, langsung dipisahkan dan dimusnahkan agar tidak beredar di masyarakat,” tegas Fajar.

Pengkurban Diminta Hadirkan Dua Saksi

Dalam pelaksanaannya, RPH Surabaya juga menekankan transparansi proses penyembelihan. Para pengkurban diminta menghadirkan dua orang saksi untuk menyaksikan langsung proses pemotongan hingga pencacahan daging.

Menariknya, seluruh bagian hewan kurban dikembalikan sepenuhnya kepada pengkurban tanpa potongan apa pun.

“Mulai dari daging, tulang, jeroan yang sudah dibersihkan, kepala beserta otak, lidah, cingur, kulit hingga kaki semuanya dikembalikan. RPH tidak mengambil bagian apa pun sebagai kompensasi jasa pemotongan,” paparnya.

Apabila ada pengkurban yang ingin menghibahkan bagian tertentu seperti kulit atau kaki, hasil penjualannya disebut akan digunakan untuk kepentingan musala RPH.

“Bukan untuk keuntungan perusahaan ataupun panitia kurban,” imbuhnya.

Baca Juga:  Ratusan Bungkus Paket Sembako Dibagikan Seorang Pengusaha Muda Salatiga Untuk Warga Kurang Mampu

Gunakan Plastik Food Grade, Kurangi Sampah Plastik

Selain fokus pada keamanan pangan, RPH Surabaya juga mulai mendorong penggunaan kemasan ramah lingkungan.

Dalam proses pengemasan daging kurban, pihak RPH menggunakan plastik food grade khusus makanan. Bahkan sejumlah pengkurban memilih membawa besek sendiri untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Untuk menunjang kelancaran proses kurban, RPH Surabaya menerjunkan sekitar 160 petugas. Mereka terdiri dari 10 tim pencacahan dan pengemasan yang masing-masing beranggotakan 10 orang, serta 10 tim pemotongan yang masing-masing diisi enam personel.

Antusiasme masyarakat yang tinggi membuat slot pemotongan di hari pertama langsung penuh dengan sekitar 70 ekor sapi.

“Hari kedua tinggal tersisa sekitar 10 slot dari kapasitas 60 ekor. Sedangkan jadwal Jumat dan Sabtu masih relatif longgar. Kami terus mematangkan seluruh teknis agar proses kurban berjalan lancar, higienis, dan sesuai syariat,” pungkas Fajar. (*)