Laporan: Ninis Indrawati

SIDOARJO | SUARAGLOBAL.COM – Di balik dinding Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Surabaya, sebuah semangat baru tumbuh melalui pelatihan keterampilan. Salah satu program pembinaan unggulan yang kini berjalan adalah pelatihan pembuatan kue kering, yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan wirausaha demi masa depan yang lebih baik.

Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tomi Elyus, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan mengisi waktu, tetapi juga bagian dari upaya rehabilitasi mental dan sosial. “Melalui pelatihan ini, kami ingin mereka tidak hanya memiliki keterampilan teknis dalam membuat kue kering, tetapi juga membangun pola pikir positif dan mandiri. Harapannya, mereka bisa memanfaatkan keahlian ini untuk mencari nafkah setelah bebas nanti,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tarian, Tata Krama, dan Tanggung Jawab: PAKASA Salatiga Dikukuhkan, Pendopo Bergetar oleh Gending dan Doa

Dalam pelatihan ini, warga binaan diajarkan berbagai aspek produksi kue kering, mulai dari pemilihan bahan baku berkualitas, teknik pencampuran adonan, proses pemanggangan yang tepat, hingga strategi pengemasan agar produk memiliki daya jual tinggi. Disiplin dan ketelitian juga menjadi nilai utama yang ditanamkan dalam setiap sesi pelatihan.

Baca Juga:  Gedung “Tatag Trawang Tungga” Diresmikan Kapolres Nganjuk: Simbol Lompatan Pelayanan Hukum yang Lebih Profesional

Salah seorang peserta pelatihan mengaku senang mendapatkan kesempatan untuk belajar keterampilan baru ini. “Awalnya saya tidak tahu cara membuat kue, tapi sekarang saya paham prosesnya. Saya berharap setelah bebas nanti bisa membuka usaha sendiri dan memulai hidup baru dengan lebih baik,” ujarnya penuh harapan.

Program pembinaan ini merupakan bagian dari strategi Rutan Kelas I Surabaya dalam menyiapkan warga binaan untuk kembali ke masyarakat dengan keterampilan yang bisa menjadi bekal ekonomi. Selain pelatihan kue kering, rutan ini juga mengembangkan program pembinaan lain, seperti keterampilan menjahit, kerajinan tangan, hingga pelatihan servis elektronik.

Baca Juga:  Empat Pendekar Muda Kodrat Sidoarjo Menggebrak Kejurnas 2025: Sabet Emas hingga Perak, Bukti Pembinaan Tak Pernah Padam

Dengan adanya program-program ini, diharapkan stigma terhadap mantan warga binaan bisa berkurang dan mereka bisa diterima kembali di masyarakat sebagai individu yang lebih baik dan produktif. (*)