Laporan: Iswahyudi Artya

SURABAYA | SUARAGLOBAL.COM – Sebuah rumah sederhana di kawasan Pandean Gang IV Nomor 40, Surabaya, kini berdiri sebagai saksi perjalanan panjang sejarah bangsa. Bangunan yang sekarang dikenal sebagai Museum Rumah Lahir Bung Karno itu dulunya sempat menjadi pusat polemik berkepanjangan terkait lokasi kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Perdebatan mengenai tempat kelahiran Bung Karno telah berlangsung selama puluhan tahun. Berbagai peneliti sejarah, tokoh masyarakat, hingga media massa memiliki pandangan berbeda mengenai lokasi pasti rumah kelahiran sang Proklamator.

Ketua Komunitas Surabaya Juang, Heri Prasetyo atau yang akrab disapa Heri Lento, mengungkapkan bahwa jejak awal pengakuan Bung Karno tentang tempat kelahirannya muncul dalam buku Bung Karno Putra Fadjar yang terbit pada 1966.

Dalam buku tersebut, Bung Karno menyebut dirinya lahir di kawasan Lawang Seketeng, Surabaya. Namun, tidak adanya penjelasan rinci mengenai lokasi rumah membuat berbagai tafsir berkembang di tengah masyarakat.

Baca Juga:  Keluarga Tegaskan, M Hadjid Tidak Terpapar Terorisme Pasca Penangkapan Wawan Oleh Tim Densus 88 AT Mabes Polri

Pada 1970, Harian Kompas menyebut Bung Karno lahir di kawasan Pandean Gang III. Sementara investigasi Harian Suara Merdeka pada 1978 menemukan adanya perbedaan pendapat warga mengenai rumah yang diyakini sebagai tempat kelahiran Bung Karno.

Perdebatan itu terus berlanjut hingga awal 2000-an. Nama rumah di Pandean Gang IV Nomor 40 mulai mencuat setelah dimuat oleh Ki Nurinwa dalam buku Ayah Bunda Bung Karno pada 2002. Meski demikian, saat itu status rumah tersebut masih dianggap sebatas dugaan sejarah dan belum memiliki pengakuan resmi.

Heri Lento mulai aktif menelusuri sejarah rumah tersebut sejak 2009. Bersama Komunitas Surabaya Juang, ia menggelar berbagai diskusi kebangsaan di sekolah-sekolah untuk memperkenalkan sejarah Bung Karno kepada generasi muda.

“Kami memutar dokumentasi arsip nasional tentang Bung Karno agar generasi muda memahami sejarah bangsa secara lebih dekat,” ujar Heri.

Baca Juga:  Babinsa dan Warga Soko Bersama-sama Membangun Rumah dengan Semangat Gotong Royong

Dalam salah satu diskusi di SMP Negeri 1 Surabaya, seorang siswa sempat mempertanyakan informasi itu karena buku sejarah yang dipelajarinya menyebut Bung Karno lahir di Blitar.

Menurut Heri, momen tersebut justru menjadi titik penting untuk membuka ruang dialog sejarah secara lebih luas kepada masyarakat.

Pada tahun yang sama, Heri bersama jurnalis senior Peter A. Rohi dan Ki Nurinwa mendatangi langsung rumah di Pandean Gang IV Nomor 40 untuk melakukan penelusuran lebih mendalam.

“Saya masih ingat ketika pertama kali mengetuk pintu rumah itu,” kenang Heri.

Penelusuran tersebut kemudian berkembang menjadi seminar pelurusan sejarah kota kelahiran Bung Karno yang digelar di Balai Pemuda Surabaya pada 2010. Seminar itu menjadi salah satu tonggak penting dalam menguatkan narasi sejarah mengenai rumah tersebut.

Perjalanan panjang itu akhirnya membuahkan hasil ketika Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini, menetapkan rumah tersebut sebagai bangunan cagar budaya pada 12 September 2013.

Baca Juga:  Bandara Ahmad Yani Semarang Raih ASEAN Energy Awards 2025, Bukti Nyata Komitmen Eco-Airport

Langkah itu menjadi titik balik penting dalam pengakuan sejarah rumah di Pandean Gang IV Nomor 40.

Pemerintah Kota Surabaya kemudian membeli bangunan tersebut pada 2020 untuk dilakukan penataan dan pelestarian. Setelah melalui proses renovasi dan pengembangan, rumah itu akhirnya diresmikan menjadi Museum Rumah Lahir Bung Karno oleh Eri Cahyadi pada 2023.

Kini, museum tersebut bukan hanya menjadi destinasi sejarah, tetapi juga simbol perjuangan dalam menjaga memori kolektif bangsa.

Bagi Heri Lento, perubahan rumah itu dari sebuah polemik sejarah menjadi museum merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pendiri bangsa sekaligus sarana pendidikan nasionalisme bagi generasi muda.

“Sejarah harus dirawat agar generasi penerus memahami perjuangan para pendiri bangsa,” tegasnya. (*)